JAKARTAMU.COM | Ketergantungan Indonesia terhadap batubara masih sangat kuat, terutama untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional. Di tengah dorongan global menuju energi terbarukan, penghematan energi dan pemanfaatan tenaga surya dinilai menjadi langkah realistis untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan.
Sekitar 67 persen pembangkit listrik di Indonesia hingga kini masih berbahan bakar batubara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transisi energi belum sepenuhnya berjalan, meski dampak lingkungan dari aktivitas pertambangan terus menjadi sorotan.
“Kalau kita bisa menghemat energi dan sebagian kebutuhan dialihkan ke tenaga surya, kita bisa menyelamatkan bumi dengan mengurangi bahkan menghentikan penambangan batubara,” kata ahli energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Irawan Eko Prabowo, S.T., M.Eng., dalam silaturahmi bersama Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rawamangun dan pimpinan SMA Muhammadiyah 11 Rawamangun, Selasa (6/1/2026).
Irawan menjelaskan, praktik pertambangan batubara di Indonesia mayoritas masih menggunakan metode tambang terbuka. Metode ini dilakukan dengan mengupas lapisan tanah penutup untuk mengambil material tambang, lalu mengangkutnya menggunakan alat berat seperti ekskavator dan dump truck.

“Tambang terbuka berdampak langsung pada kerusakan permukaan tanah. Di sejumlah negara maju, penambangan sudah banyak beralih ke metode tambang bawah tanah,” ujarnya.
Menurut Irawan, metode tambang bawah tanah memang lebih kompleks dan membutuhkan teknologi tinggi, namun mampu mengurangi kerusakan lingkungan di permukaan serta memungkinkan pengambilan cadangan mineral yang lebih dalam. Tantangan utama metode ini terletak pada aspek keselamatan kerja dan biaya investasi teknologi.
Dalam kegiatan tersebut, Irawan hadir sebagai bagian dari tim teknis Program 1000 Cahaya yang digagas Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia didampingi Hening Parlan, Koordinator Program 1000 Cahaya sekaligus Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah.
Kunjungan ke Kompleks Perguruan Muhammadiyah Rawamangun itu menjadi langkah awal kerja sama pemasangan panel surya di SMA Muhammadiyah 11 Jakarta sebagai sumber energi alternatif untuk gedung sekolah.
Hening Parlan menjelaskan, Program 1000 Cahaya dirancang sebagai kontribusi nyata Muhammadiyah dalam mendukung target emisi nol bersih yang dicanangkan pemerintah pada 2050. Pada tahap awal, program ini menyasar sekolah, masjid, pimpinan ranting Muhammadiyah, serta pesantren.
“Sekolah memiliki peran strategis sebagai pusat edukasi. Jika disetujui, SMA Muhammadiyah 11 direncanakan menjadi sekolah pionir Program 1000 Cahaya untuk wilayah DKI Jakarta,” kata Hening Parlan.


