Madu Pahit Nenden — Bagian 3: Demi Nabila

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

SENJA turun perlahan di Pondok Gede, membawa sisa panas siang yang masih melekat di dinding-dinding rumah petak. Cahaya jingga mengendap di sela kabel listrik yang saling bersilang, sementara asap dapur tetangga berbaur dengan bau tanah lembap sisa hujan kemarin sore. Di kawasan padat seperti ini, senja tak pernah benar-benar indah. Ia hanya jeda sebelum malam mengambil alih.

Nenden pulang bekerja dengan langkah letih. Kakinya terasa berat, bukan hanya oleh jarak yang ia tempuh sejak pagi, tetapi oleh pikiran yang tak pernah benar-benar beristirahat. Begitu pintu dibuka, suara tangis kecil menyambutnya—rengekan yang tidak biasa, lirih namun menusuk, seperti nada sumbang yang langsung dikenali seorang ibu.

Nabila demam.

Milad 117 H Muhammadiyah

Mbok Rani duduk di tepi ranjang kecil itu, mengipasi Nabila dengan kipas bambu yang sudah kusam. Wajahnya keriput, namun matanya tajam oleh pengalaman panjang merawat luka hidup orang lain.

“Panasnya dari sore, Neng,” katanya pelan. “Mbok sudah kompres pakai air hangat. Anak ini rewel, tapi kuat.”

Tubuh bayi itu panas, napasnya pendek-pendek, keningnya basah oleh keringat. Dalam dunia medis, demam pada bayi sering kali merupakan mekanisme pertahanan. Respons imun terhadap ancaman yang tak kasatmata. Namun bagi seorang ibu, demam adalah kecemasan purba; naluri yang bekerja lebih cepat daripada nalar dan teori.

Nenden menggendong anaknya. Tangannya gemetar saat mengusap pelipis Nabila.

“Maaf, Mbok… saya telat,” ucapnya lirih.

Mbok Rani menggeleng.

“Jangan minta maaf, Neng. Ibu yang baik bukan yang selalu ada, tapi yang selalu kembali.”

Kalimat itu sederhana, namun menghunjam. Dalam etika perawatan (ethics of care), kehadiran yang konsisten—meski terbatas—lebih bermakna daripada janji yang utuh namun kosong.

Dengan rahang mengeras, Nenden mengambil ponsel.

“Daniel,” katanya singkat ketika sambungan terangkat. “Nabila sakit.”

Tak ada nada marah. Tak ada permohonan. Hanya fakta—dingin seperti laporan medis.

Mereka bertemu di klinik kecil dekat jalan raya. Lampu neon memantul pucat di lantai keramik. Bau antiseptik memenuhi udara, bercampur suara televisi yang menyiarkan berita tanpa penonton. Di ruang tunggu itu, Nenden duduk di satu sisi, Daniel di sisi lain. Di antara mereka, jarak menganga. Bukan hanya ruang fisik, melainkan jurang moral yang tak lagi bisa dijembatani.

Tak ada percakapan.

Tak ada tatapan yang bertahan lebih dari satu detik.

Nenden memandang Daniel dengan perasaan yang tak lagi bisa ia namai sebagai marah semata. Itu jijik. Emosi yang dalam psikologi moral muncul ketika seseorang merasa nilai-nilai dasarnya telah dilanggar. Jijik bukan sekadar benci; ia adalah penolakan eksistensial.

Daniel merasakannya.

Lelaki itu menunduk. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sadar bahwa luka akibat kebohongan tidak bisa disembuhkan dengan waktu, uang, atau kehadiran sesekali. Immanuel Kant pernah menulis bahwa kebohongan merusak martabat manusia. Bukan hanya martabat korban, tetapi juga pelakunya. Daniel kini memikul itu sepenuhnya.

Sepulang dari klinik, Mbok Rani masih terjaga. Ia menyambut mereka tanpa bertanya apa pun. Hanya membantu menyiapkan air hangat dan merapikan selimut Nabila.

“Neng,” katanya pelan ketika Daniel sudah pergi, “lelaki bisa pergi dengan banyak alasan. Tapi ibu tidak punya pilihan selain kuat.”

Nenden menatapnya. Untuk sesaat, perempuan tua itu terasa seperti ibu kedua; bukan karena darah, tetapi karena keberpihakan.

Nenden telah mengorbankan masa remajanya.

Dulu, sebelum Jakarta menelannya perlahan, ia adalah gadis ceria dari Cipayung. Rambutnya panjang, tawanya ringan. Hidupnya sederhana. Pagi membantu ibunya, siang bekerja, malam bercengkerama dengan keluarga. Masalah-masalahnya kecil, proporsional dengan usianya. Ia belum mengenal manipulasi, belum paham tentang identitas ganda, belum tahu bahwa cinta bisa menjadi pintu masuk penderitaan.

Daniel mengubah semuanya.

Dengan janji stabilitas. Dengan simbol otoritas. Dengan kedewasaan yang tampak meyakinkan. Dalam psikologi relasi, ini disebut asymmetric power dynamic—relasi timpang antara yang berpengalaman dan yang masih rapuh. Nenden jatuh bukan karena bodoh, melainkan karena percaya.

Kepercayaan itulah yang dihancurkan.

***

Serangan Pesawat Nirawak di Gaza Tengah Tewaskan Dua Warga

JAKARTAMU.COM | ​Korban jiwa di jalur Gaza kembali berjatuhan. Sedikitnya dua warga Palestina dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami...

More Articles Like This