MASYARAKAT perkotaan memang sudah terbiasa memilih cara paling praktis untuk bergerak. Pergi ke pasar, ke sekolah, atau bahkan ke masjid yang jaraknya hanya satu sampai dua kilometer, hampir selalu ditempuh dengan sepeda motor, atau setidaknya sepeda listrik. Jalan kaki atau bersepeda nyaris ditinggalkan.
Tak heran kalau jumlah kendaraan bermotor terus bertambah setiap tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia meningkat tajam dari 136 juta unit pada 2020 menjadi lebih dari 157 juta pada 2023. Sepeda motor menempati porsi terbesar, dengan kenaikan lebih dari 20 juta unit dalam tiga tahun.
Migrasi dari motor bensin ke motor listrik jelas tidak mengurangi kemacetan, karena masalah utama ada pada jumlah kendaraan yang terus bertambah. Sepeda motor listrik tetap memenuhi jalan, sama seperti motor bensin.
Di sekolah-sekolah besar, terutama di Jakarta, situasi ini terlihat jelas. Pihak sekolah sampai harus menyiapkan area khusus dan petugas tambahan untuk mengatur arus keluar masuk kendaraan ketika orang tua menjemput anaknya dengan motor, baik konvensional maupun listrik. Kemacetan pun menjadi rutinitas harian.

Kampanye Sepeda yang Mandek
Kampanye penggunaan sepeda sebenarnya sudah lama digaungkan. Di Jakarta, misalnya, sebutlah sejak era Basuki Tjahaja Purnama, lalu masif di masa Gubernur Anies Baswedan penggunaan sepeda digalakkan. Anies bahkan memberi contoh dengan bersepeda ke kantor. Jalur sepeda dibuat luas dan masif di banyak ruas kota.
Namun, setelah beberapa tahun, hasilnya tidak signifikan. Jalur sepeda lebih banyak berfungsi pada akhir pekan, sementara di hari kerja sering berubah menjadi tempat parkir atau area tambahan untuk kendaraan bermotor. Kebiasaan masyarakat tetap sama, lebih memilih kendaraan pribadi roda dua atau roda empat. Tak heran Jakarta seolah tak pernah selesai dengan masalah macet.
Dari sinilah muncul gagasan mengembalikan budaya bersepeda dan berjalan kaki melalui masjid. Bagi masyarakat Indonesia, masjid juga berfungsi sebagai ruang interaksi sosial. Hal ini memungkinkannya menjadi ruang pembelajaran dan perubahan gaya hidup. Jika gerakan sehat dan ramah lingkungan diperkenalkan di masjid, peluangnya lebih besar untuk diterima luas oleh masyarakat.
Pada 2015, Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah pernah mencanangkan gerakan Gowes to Masjid. Idem dengan Muhammadiyah yang punya program Gowismu (Gowes Wisata Muhammadiyah), diselenggarakan oleh LSBO PDM Yogyakarta bersama LSBO PCM Umbulharjo. Kegiatan itu menggabungkan olahraga, dakwah hidup sehat, serta ajakan menjaga udara tetap bersih dari polusi.
Salah satu kegiatan terbaru digelar pada 17 September 2023 di Yogyakarta. Acara dimulai pagi hari dengan bersepeda bersama, lalu ditutup siang harinya dengan Raker Muhammadiyah Umbulharjo di Aula SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta.
Nah, menjelang Masjid Award & Expo VI PP Muhammadiyah pada November 2025 di Banjarmasin, tidak ada salahnya memunculkan ketersediaan fasilitas parkir sepeda di masjid kriteria penilaian. Bagaimana menurut Anda? (*)


