Haji Mabrur dan Amanah Menjaga Bumi

Must Read

JAKARTAMU.COM | Gagasan tentang ekonomi hijau menguat pada 2008 ketika dunia menghadapi serangkaian krisis global. Kala itu United Nations Environment Programme (UNEP) mendorong konsep green stimulus packages, sebuah program stimulus ekonomi yang diarahkan untuk kegiatan ramah lingkungan melalui sejumlah sektor yang dapat menjadi titik awal transformasi menuju ekonomi hijau.

Konsep ini lalu dicanangkan pada bulan Oktober di tahun itu dengan peluncuran Green Economy Initiative atau Inisiatif Ekonomi Hijau. Program ini bertujuan menyediakan analisis dan dukungan kebijakan untuk sektor-sektor yang sudah hijau, sekaligus membantu menghijaukan sektor yang selama ini merusak lingkungan. Dalam kerangka inisiatif itu, salah satu penulis Blueprint for a Green Economy diminta menyusun laporan bertajuk Global Green New Deal (GGND), yang terbit pada April 2009.

Laporan tersebut mengajak pemerintah berbagai negara mengalokasikan sebagian besar dana stimulus ke sektor hijau. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai: pemulihan ekonomi, pengentasan kemiskinan, serta penurunan emisi karbon sekaligus perlindungan ekosistem. GGND juga menawarkan kerangka kebijakan domestik dan internasional yang mendorong program stimulus ramah lingkungan.

Baca juga: Anwar Abbas Kritik Konsep Keberlanjutan Sekuler

Milad 117 H Muhammadiyah
Anggota BPKH Harry Alexander dalam acara Muhammadiyah Green Movement, Jumat (13/3/2026). Foto:jakartamu.com/noor fajar

Hari ini, diskursus tentang ekonomi hijau mulai merembes ke berbagai sektor kehidupan, termasuk pengelolaan dana keagamaan. Anggota Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Harry Alexander menggambarkan bagaimana sistem ekonomi modern sangat rapuh ketika infrastruktur keuangan atau layanan publik terganggu.

“Pernahkah kita membayangkan jika bank pemerintah bangkrut? Berapa ribu pegawai yang terdampak. Berapa banyak ASN yang menerima gaji melalui bank itu ikut terkena imbas,” kata Harry dalam acara Muhammadiyah Green Movement di Gran Melia Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Contoh lain, lanjut Harry, adalah penggunaan kartu pembayaran. Bagaimana bila kartu itu tidak bisa berfungsi?

“Misalkan kartu e-money tidak bisa difungsikan. Jutaan kendaraan tidak bisa masuk tol, orang tidak bisa menggunakan LRT atau MRT. Gangguan kecil saja bisa memicu kekacauan sosial,” ujarnya.

Menurut Harry, fokus dunia yang dahulu didominasi persoalan ekonomi kini mulai bergeser. Lingkungan hidup menjadi perhatian terutama setelah berbagai bencana alam yang semakin sering terjadi.

“Di masa lalu isu ekonomi menjadi isu utama. Hari ini perhatian itu bergeser dan isu lingkungan hidup semakin dominan,” katanya, merujuk pada berbagai kejadian banjir besar yang baru-baru ini terjadi di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Sumatera.

Baca juga: Pesta Air dalam Timbangan Etika Lingkungan

Banyak pakar ekonomi melihat masa depan pembangunan berada pada jalur ekonomi hijau. Pandangan ini ikut memengaruhi cara BPKH memandang pengelolaan dana umat.

“Sekarang sudah banyak pakar yang mengatakan future economy adalah green economy. Karena itu di BPKH, mau tidak mau kita harus mengaitkan persoalan lingkungan hidup dengan rukun Islam,” kata Harry.

Dari pemikiran tersebut lahir sebuah gagasan Green Hajj. Gagasan Green Hajj berangkat dari kesadaran bahwa ibadah dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab ekologis. Pelaksanaan haji tidak hanya memenuhi tuntunan syariah, tetapi juga mengandung pesan untuk menjaga bumi dari kerusakan dan mengurangi dampak perubahan iklim.

Ibadah haji bukan semata-mata perjalanan spiritual. Haji merupakan puncak ibadah yang mengajarkan pengendalian diri sekaligus tanggung jawab terhadap alam. Simbol paling nyata terlihat pada saat jamaah mengenakan ihram.

“Ketika kita memakai pakaian ihram, ihram itu dimaknai sebagai perilaku menahan diri. Selama berhaji kita tidak boleh menebang pohon, tidak boleh merusak tanaman,” ujarnya.

Menurut Harry, jelas sekali larangan tersebut memuat pesan etika yang lebih luas tentang hubungan manusia dengan lingkungan. “Harapannya, setelah ihram dibuka, perilaku menjaga lingkungan hidup itu tetap dipelihara,” kata dia.

Harry memahami ukuran kemabruran haji juga dapat dilihat dari sikap seseorang setelah kembali ke Tanah Air. “Seorang haji yang mabrur ketika sudah kembali ke tanah air, indikatornya adalah ia menjaga lingkungan hidup dan tidak menjadi perusak alam di sekitarnya,” ujarnya.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This