JAKARTAMU.COM | Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas mengkritik konsep keberlanjutan yang banyak dipakai dunia korporasi. Pendekatan Triple Bottom Line yang menekankan tiga unsur—profit, people, dan planet—belum lengkap karena mengabaikan dimensi akhirat.
“Konsep Triple Bottom Line dari John Elkington itu konsep sekuler,” kata Anwar Abbas saat membuka kegiatan Muhammadiyah Green Movement 2026 di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (13/3/2026).
Ia menyatakan pendekatan tersebut hanya menimbang aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Perspektif ketuhanan, menurutnya, tidak dimasukkan dalam kerangka berpikir tersebut.
“Sekuler karena meniadakan nilai-nilai ketuhanan. Ada satu ‘P’ lagi yang hilang, yaitu Paradise atau surga,” ujarnya.

Konsep Triple Bottom Line diperkenalkan oleh pemikir bisnis Inggris, John Elkington, untuk mendorong perusahaan menilai kinerja tidak hanya dari keuntungan finansial (profit), tetapi juga dari dampak sosial terhadap masyarakat (people) dan tanggung jawab terhadap lingkungan (planet). Gagasan ini kemudian dipakai luas dalam praktik bisnis berkelanjutan di berbagai negara.
Perkembangan terakhir menunjukkan banyak perusahaan mulai melihat keberlanjutan sebagai strategi bisnis jangka panjang. Konsumen semakin memperhatikan nilai etika di balik produk yang mereka beli, termasuk dampak sosial dan lingkungan dari proses produksinya.
Anwar Abbas menilai kerangka tersebut perlu dilengkapi dengan dimensi spiritual. Ia merujuk pada Surah Al-Qashash ayat 77 yang memuat keseimbangan antara kehidupan dunia dan tujuan akhirat.
“Dalam Al-Qashash ayat 77, konsep tiga ‘P’ itu disempurnakan dengan tujuan manusia untuk memperoleh kebahagiaan di akhirat,” kata Anwar.
Ayat tersebut berbunyi: “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”
Muhammadiyah Green Movement diposisikan sebagai gerakan kolektif yang mengonsolidasikan aksi lingkungan di seluruh struktur organisasi Muhammadiyah, mulai dari tingkat wilayah hingga ranting. Program ini mendorong penguatan agenda pelestarian lingkungan melalui kegiatan sosial, pendidikan, serta pengembangan teknologi ramah lingkungan.
Melalui gerakan tersebut, Muhammadiyah berupaya menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan upaya menjaga lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Pendekatan ini juga diarahkan untuk memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak dalam menghadapi krisis ekologis yang semakin luas.


