Menurut Irwan Akib, kader sejati tetap ber-Muhammadiyah terlepas dari terpilih atau tidaknya dalam struktur kepemimpinan. Orientasi utamanya adalah pengabdian, bukan posisi.
Ia juga menyampaikan keprihatinan atas kondisi sosial masyarakat, khususnya maraknya penyalahgunaan narkoba yang kini tidak hanya menyasar anak-anak dari keluarga berada di kota, tetapi juga menjangkau kaum dhuafa di desa-desa.
“Saya tinggal di desa di Makassar. Sekarang narkoba sudah masuk sampai pelosok. Ini alarm keras bagi kita semua,” kata Irwan Akib.
Dalam konteks itu, ia mengajak Muhammadiyah menafsir ulang teologi Al-Ma’un dalam dunia pendidikan. Menurutnya, makna duafa tidak boleh dibatasi pada kemiskinan ekonomi semata.

“Sekolah Muhammadiyah perlu mengembangkan lembaga pendidikan modern dan berkemajuan yang melayani keluarga menengah dan papan atas. Mereka mungkin mapan secara ekonomi, tetapi duafa dalam pemahaman agama dan spiritualitas,” ujarnya.
Irwan Akib menegaskan bahwa keunggulan sekolah Muhammadiyah harus mencakup prestasi akademik, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta keteladanan akhlak.
“Unggul itu bukan hanya soal nilai dan iptek, tetapi juga menjadi suri teladan, berakhlak baik, dan mampu menjalankan syariat Islam di tengah masyarakat,” tutupnya.


