JAKARTAMU.COM | Harapan warga sipil di Jalur Gaza untuk menikmati ketenangan semu pasca-kesepakatan gencatan senjata kembali terkoyak. Pada Sabtu (7/3/2026), serangan militer Israel yang menyasar sebuah rumah di Khan Younis, wilayah selatan Gaza, menewaskan seorang pria Palestina dan menyebabkan seorang anak dalam kondisi kritis. Insiden ini menambah panjang daftar pelanggaran atas gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak 11 Oktober lalu.
Laporan koresponden kantor berita WAFA menyebutkan bahwa eskalasi tidak hanya terjadi di darat. Sepanjang hari, militer Israel melancarkan serangan udara, tembakan artileri, hingga bombardir dari kapal perang yang menyisir berbagai titik di wilayah kantong tersebut. Di Kota Gaza, jet tempur dilaporkan melepaskan rudal ke arah timur lingkungan Tuffah, sementara angkatan laut melepaskan tembakan senapan mesin berat ke arah garis pantai.
Kekerasan yang terus berulang ini menciptakan ironi di tengah upaya diplomatik untuk mempertahankan perdamaian. Meski kesepakatan gencatan senjata secara formal masih berdiri, realitas di lapangan menunjukkan situasi yang kontradiktif. Di wilayah barat laut Gaza, dentuman artileri masih terdengar bersahut-sahutan secara berkala, menciptakan kecemasan konstan bagi warga yang baru saja mencoba kembali ke reruntuhan rumah mereka.
Angka Korban Terus Bertambah
Data terbaru menunjukkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar warga sipil dalam periode “gencatan senjata” ini. Sejak kesepakatan tersebut dimulai, jumlah warga Palestina yang tewas telah melonjak menjadi 636 jiwa, dengan 1.704 orang lainnya mengalami luka-luka. Selain itu, tim penyelamat melaporkan telah mengevakuasi sedikitnya 753 jenazah dari bawah puing-puing bangunan yang hancur.

Khan Younis, yang menjadi pusat serangan terbaru, kembali mencekam. Selain serangan udara di sisi timur, pasukan laut Israel juga dilaporkan melepaskan tembakan ke arah pantai, yang dibarengi dengan gempuran artileri ke wilayah pinggiran kota.
Berlanjutnya aksi militer di tengah perjanjian gencatan senjata ini mempertegas kerentanan stabilitas di kawasan tersebut. Tanpa adanya pengawasan internasional yang ketat dan kemauan politik untuk menahan diri, kesepakatan di atas kertas tersebut kian kehilangan maknanya di hadapan moncong senjata.
Di saat bersamaan, situasi di Yerusalem Timur pun tak kalah tegang. Otoritas Israel dilaporkan masih menutup akses ke Masjid Al-Aqsa bagi jemaah Palestina untuk hari kedelapan berturut-turut, sebuah langkah yang dikhawatirkan akan memicu gelombang perlawanan baru di wilayah Tepi Barat.


