KALAU tidak ada satu pun kader Muhammadiyah yang berani maju sebagai calon presiden, maka kursi tertinggi negeri ini akan selalu diisi orang lain. Begitu pesan tajam yang disampaikan Dr. KH. Saad Ibrahim, M.A. dalam Kajian Ahad di Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah Jakarta, Minggu (12/10/2025).
“Kalau kader Muhammadiyah tidak pernah mau maju jadi presiden, jangan salahkan kalau presiden bangsa ini selalu diambil orang lain,” ujar Kiai Saad di hadapan jamaah.

Ia mengingatkan bahwa prinsip dasar kepemimpinan adalah keberanian untuk berada di depan dan mengambil tanggung jawab besar, tidak selalu memberi nasihat dari pinggir.
Pernyataan Kiai Saad memang relevan bila melihat perjalanan panjang keterlibatan Muhammadiyah dalam politik nasional. Sejak masa awal kemerdekaan, banyak tokoh Muhammadiyah berperan dalam pemerintahan dan parlemen, namun tak banyak yang benar-benar melangkah ke arena pemilihan presiden.

Baca juga: Kiai Saad Ibrahim Bilang Kader Muhammadiyah Perlu Meluruskan Niat
Di masa demokrasi liberal, tokoh seperti Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo dikenal sebagai negarawan, tetapi tidak menempuh jalur elektoral tertinggi. Pada era reformasi, Amien Rais pernah mencoba menembusnya melalui PAN pada Pemilu 2004, tetapi setelah itu belum ada lagi kader Muhammadiyah yang tampil sebagai calon presiden.
Kiai Saad menilai hal ini bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena mentalitas yang terlalu berhati-hati. Ia menggambarkan fenomena itu melalui kebiasaan sederhana di ruang kelas dan majelis ilmu. “Kita harus punya mindset berani maju terdepan, dan yang terdepan itu yang berprestasi,” katanya.
Di kampus, ia selalu meminta mahasiswa untuk duduk di bangku depan. Menurutnya, kedekatan dengan sumber ilmu mencerminkan semangat kepemimpinan—keberanian untuk tidak bersembunyi di belakang.
Ia mencontohkan, seorang anak akan lebih mudah menerima nasihat ibunya bila jaraknya dekat. Begitu pula dalam majelis ilmu: semakin jauh seseorang duduk, semakin besar kemungkinan ia tidak fokus, mengantuk, atau malah berbincang dengan sesama jamaah. “Duduk di depan itu bukan soal posisi, tapi soal kesiapan belajar dan memimpin,” ujar Kiai Saad.
Baca juga: Pergulatan Muhammadiyah di Parpol Pasca-Parmusi
Dalam ceramahnya, ia juga mengaitkan pentingnya kedekatan dengan dua peristiwa penting dalam sejarah Islam. Pertama, ketika wahyu pertama turun di Gua Hira, malaikat Jibril memeluk Rasulullah SAW dengan erat—sebuah simbol bahwa ilmu dan kekuatan spiritual ditransfer melalui kedekatan.
Kedua, kisah yang diriwayatkan Umar bin Khatthab RA ketika seorang lelaki tak dikenal datang mendekat kepada Nabi Muhammad SAW untuk bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Lelaki itu duduk menempel lututnya dengan lutut Nabi, meletakkan tangannya di atas paha beliau, dan berdialog langsung. Hadis ini diriwayatkan Muslim dan sering dijadikan teladan tentang etika belajar yang dekat dan penuh perhatian.
Dari dua kisah itu, Kiai Saad menyimpulkan bahwa ilmu dan kepemimpinan selalu menuntut kedekatan, baik secara fisik maupun mental. Jika kader Muhammadiyah terus menjaga jarak dari medan politik dan jabatan publik, ruang itu akan diisi pihak lain yang lebih berani melangkah.
Singkatnya, jangan puas hanya dengan menjadi penonton. Sebab sejarah perubahan besar tidak pernah lahir dari barisan belakang. (*)


