JAKARTAMU.COM | Reformasi Polri tak boleh berhenti di tataran slogan. Generasi muda Polri harus memahami bahwa perubahan sejati berawal dari cara berpikir. Hal ini disampaikan Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana.
“Polri sering difitnah, bahkan kantornya dibakar, tapi tidak pernah membalas dengan kekerasan. Itu contoh penghormatan kami terhadap HAM,” ujarnya dalam seminar nasional bertajuk “Ke Arah Mana Reformasi Kepolisian Saat Ini?” di Gedung IASTH Universitas Indonesia, Rabu (8/10/2025).:
Reformasi Polri kembali menyeruak lantaran kenyataan praktik kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang masih kerap dilakukan anggota polisi. Desakan publik agar Polri berbenah terus menguat, menuntut agar perubahan dilakukan secara nyata dan berkelanjutan, bukan sebatas program administratif.
Baca juga: Ketika Reformasi Polisi Melupakan Perempuan

Di hadapan mahasiswa dan akademisi di Kampus UI Salemba itu, Chryshnanda mengungkapkan perbaikan harus dimulai dari dalam. Di antaranya melalui pembenahan pendidikan, penguatan pemahaman tentang HAM, penerapan meritokrasi dalam rekrutmen, peningkatan transparansi, serta pengawasan kelembagaan yang lebih kuat.
Duduk berdampingan dengan peneliti senior Prof. Hermawan Sulistyo, Chryshnanda menyampaikan pesan kepada para calon perwira muda yang hadir di ruangan itu. Ia mengutip pemikiran M.A.W. Brouwer, filsuf dan budayawan asal Belanda yang lama menetap di Indonesia. “Ketika masih muda, jadilah berpikiran kiri, itu tanda punya hati. Tapi kalau sampai tua tetap kiri, itu tanda tidak punya otak,” katanya, mengulang kalimat Brouwer yang disampaikan lewat Hermawan.
Baca juga: UUD 2002, Akar Mandulnya Reformasi Parpol dan Polri
Chryshnanda menegaskan bahwa “berpikir kiri” bukan soal ideologi politik, melainkan cara pandang kritis terhadap kemapanan. Dalam konteks kepolisian, itu berarti berani mempertanyakan hal-hal yang tidak adil, membela yang lemah, dan membuka ruang bagi pembaruan.
“Makna berpikir kiri harus dipahami secara filosofis,” ujarnya. Ia menjelaskan, berpikir kiri berkaitan dengan nilai kebebasan, persamaan derajat, solidaritas, perjuangan sosial, reformasi, dan kemanusiaan. Sedangkan berpikir kanan identik dengan keteraturan, tradisi, nasionalisme, dan kepatuhan terhadap otoritas.


