BOGOR, JAKARTAMU.COM | Di tepi Sungai Ciliwung, Padepokan Bambu Indonesia, Ajik Krisna menyimak penjelasan Aki Jatnika tentang beragam varietas bambu. Puluhan Toko Oleh-Oleh Krisna Bali yang dikelolanya hilang dari pikirannya saat itu. Yang ada hanyalah pohon bambu—ratusan jenisnya—dan gagasan untuk mengubah sebuah lahan di Bali Utara menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar destinasi wisata.
“Bambu bisa ditanam di berbagai tempat, dan hasilnya bisa diolah menjadi banyak produk,” kata Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, saat memperkenalkan Ajik kepada Aki Jatnika, ahli bambu berskala internasional. Pesan itu tidak hanya berbicara soal teknik budidaya, tapi juga tentang peluang ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Ajik, yang bernama asli Gusti Ngurah Anom, menatap antusias 161 varietas bambu di padepokan itu. Padepokan yang berada di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini merupakan pusat pelatihan budaya bambu.

Ajik memang ingin mengembangkan 30 hektare kawasan di Bali Utara menjadi kampung wisata berbasis bambu. Rencananya bukan sekadar hutan bambu, tapi juga pusat riset, museum, perkampungan bambu, dan pusat kuliner. Penduduk setempat akan terlibat menanam, mengolah bambu, dan memproduksi kerajinan, alat rumah tangga, maupun cinderamata.

“Yang penting dari menanam bambu adalah soal bagaimana masyarakat bisa memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari dan kegiatan ekonomi,” ujar Viva Yoga.
Dia mengatakan program budidaya bambu juga diterapkan di lahan transmigrasi dengan berbagai tekstur tanah. Dari desa ke desa, bambu bisa menjadi penopang ekonomi sekaligus pelestari alam.
Tidak hanya produk tradisional, bambu kini juga diolah menjadi serat yang bisa dipakai untuk tekstil dan pakaian. Delegasi Promosi Perdagangan Indonesia-Guangdong pernah mempresentasikan reed bamboo yang bisa diolah menjadi fiber bamboo. Serat ini memungkinkan pembuatan kaos, jaket, kaos kaki, dan berbagai aksesoris dengan keunggulan berbeda dari bahan lain. Selain itu, reed bamboo bisa menjadi pakan ternak, tanaman yang menyerap karbon dioksida, dan komoditas pasar karbon bernilai tinggi.
Di balik rencana besar itu, ada langkah sederhana: menanam pohon bambu. Setiap rumpun bambu adalah langkah kecil menuju visi yang lebih luas—budaya yang lestari, ekonomi lokal yang tumbuh, dan desa yang berdaya. Bagi Ajik, kunjungan ke Cibinong bukan sekadar belajar tentang bambu, tapi merancang masa depan bagi Bali Utara.


