Perbankan Syariah Berpeluang Tumbuh Agresif Tahun Ini

Must Read

JAKARTAMU.COM | Perbankan syariah berpeluang untuk tumbuh lebih besar. Hal ini bisa dilihat dari tren pertumbuhan aset dan laba perbankan syariah yang melampaui kinerja perbankan nasional.

Pada 2024, laporan menunjukkan laba bersih perbankan syariah tumbuh dua digit, melampaui rata-rata bank konvensional. Tren berlanjut pada 2025, di mana Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai pemimpin pasar melaporkan laba tumbuh 10,21% secara YoY pada kuartal II-2025.

“Jika perbankan nasional tumbuh sekitar 8 persen, perbankan syariah bisa mencapai dua digit, sekitar persen. Peluang ini terlihat dari kinerja aset dan laba yang terus meningkat,” kata Dosen Tamu Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Jakarta, Firman Jatnika di Aula Juanda Gedung Dakwah Muhammadiyah DKI Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Baca juga: BSI Tak Mungkin Meninggalkan Muhammadiyah

Milad 117 H Muhammadiyah

Firman menjelaskan, peluang lain datang dari luasnya pasar perbankan syariah yang belum tergarap optimal. Dia melihat Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai pemain utama terus memperluas pasar melalui sektor investasi emas dan layanan haji.

Soal anggapan bahwa perbankan syariah lebih banyak melayani masyarakat menengah ke atas, Firman menilai pandangan tersebut keliru. Menurut dia, sekitar 70 persen pembiayaan BSI justru disalurkan kepada badan usaha milik negara, bukan kepada kelompok masyarakat atas.

“BSI juga mendapat kepercayaan pemerintah untuk menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp15 triliun,” ujarnya. 

Firman menyarankan agar BSI menyalurkan KUR secara khusus menyasar pelaku usaha di daerah. Namun dia mengingatkan agar BSI mempertimbangkan tingkat risiko usaha dalam menentukan penerima pembiayaan agar penyaluran berjalan efektif dan berkelanjutan.

Baca juga: Nasabah BCA Kehilangan Dana, Waspadai Phishing Website Palsu

Apa yang disampaikan Firman sejalan dengan proyeksi BSI yang disampaikan akhir tahun 2025. BSI mencatat bahwa ekonomi global pada 2026 diperkirakan tumbuh sekitar 3,2% berdasarkan proyeksi IMF, dengan Kawasan ASEAN diproyeksikan menjadi salah satu blok dengan prospek paling menarik, seiring pergeseran pusat pertumbuhan ke Asia.

Di sisi komoditas, emas tetap menjadi salah satu aset lindung nilai favorit. Data World Gold Council yang diolah tim ekonom BSI menunjukkan, bank sentral dunia kembali agresif menambah cadangan emas, sementara permintaan emas untuk investasi hingga kuartal III 2025 telah melampaui total tahun sebelumnya. Harga emas global pun masih bertahan di sekitar level tertinggi sepanjang masa.

“Tantangan tetap ada, yaitu risiko global, kedalaman pasar keuangan yang masih terbatas, dan kebutuhan menciptakan lebih banyak pekerjaan berkualitas. Namun, dengan kebijakan yang tepat dan pemmanfaatan penuh potensi ekonomi syariah, Indonesia tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga melompat ke level pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tutup Chief Economist BSI, Banjaran Surya Indrastomo.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This