Korban Perangai Buruk Itu Bernama Ali Khamenei

Must Read

Oleh Asyaro G Kahean

PEMIMPIN SPIRITUAL Republik Islam Iran, Ayatollah Sayyid Ali Hosseini Khamenei radhiallahu ‘anhu, sesungguhnya telah menjadi korban tindakan ekspansi yang represif, dari orang-orang berperangai buruk; Boleh jadi, wafatnya pemimpin tertinggi Iran dikarenakan si perangai buruk benar-benar tergoda untuk menguasai sumberdaya alam di Negara Teluk Persia yang sangat kaya.

Para pemimpin Iran, sering sekali memperoleh hujatan, kecaman, hingga ancaman; Padahal, pemberlakuan embargo (pembatasan perdagangan) hingga kontrol ketat secara internasonal terus berlangsung, sejak 1979. Tekanan demi tekanan, ternyata membangkitkan rakyat Iran untuk tetap tegak menatap langit; Karena di atas sana ada sumber cahaya pencerah jiwa.

Tak hanya ingin duduk-duduk sejajar di lingkupan dinding-dinding embargo; Melainkan juga, masyarakat Iran menunaikan ikhtiar dengan berdiri tegak, –di antara rukuk, sujud, dzikir, shalawat dan berdoa yang juga diamalkan. Membersamai itu, adalah putar otak serta mengembangkan pikiran guna meruntuhkan dinding-dinding ‘hegemoni usang’ dari ‘dalang kekacauan’ di berbagai huru-hara hingga pecah perang besar di hampir semua belahan dunia.  

Tatkala sumber daya alam di Teluk Persia itu dikelola dengan benar-benar lebih mandiri, menjadikan Iran tumbuh sebagai sebuah negara yang maju pesat. Iran, berhasil mengejar ketertinggalan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tegak, di tengah-tengah embargo dan pengawasan ketat dari kalangan kaum penekan .

Majunya Iran kini, dirintis sejak 47 tahun lalu. Diawali, dari berakhirnya rezim monarkisme di bawah kebijaksanaan pemimpin politik Mohamad Reza Pahlevi, pada 1979. Kejatuhan Shah Pahlevi, diguncang genderang Revolusi Islam yang melibatkan sebagian besar rakyat Iran di dalam mau pun luar negeri.

Gerakan revolusi, menjadi bagian tidak terpisahkan dari upaya-upaya utama (ikhtiar menuju kaffah) –berpikir maksimal, bertindak optimal, sungguh-sungguh, dan menyeluruh– untuk melandaskan nilai-nilai Tauhid pada beragam kebijakan dalam penataan kehidupan masyarakat; Meliputi: hukum, keadilan, sosial politik, ekonomi, keamanan, ketertiban, ketahanan, hingga kebijakan strategis serta hubungan luar negeri.

Setelah kejatuhan yang berlanjut dengan pelarian Reza Pahlevi saat itu, Iran pun  menjelma sebagai negara teokrasi –prinsip-prinsip agama menjadi dasar hukum dan otoritas tertinggi dipegang oleh pemimpin agama atau lembaga keagamaan–. Revolusi Islam di Persia itu, sangat nyata keberhasilannya. Tokoh-tokoh Revolusi Republik Islam secara piawai mampu memobilisasi ketidakpuasan rakyat atas kebijakan sistem monarki yang lebih disifati: otokratis, westernisasi, dan represi.

Revolusi Islam yang juga disebut ‘Revolusi Putih‘ di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini saat itu, berhasil membuat Shah Reza Pahlevi melarikan diri dari Iran, pada 16 Januari 1979.

Revolusi tersebut sekaligus mengakhiri Dinasti Pahlevi. Ayatollah Khomeini dan tokoh-tokoh revolusi, kemudian mendirikan Republik Islam Iran. Hingga pada hari ini, nyata benar; Bahwa: dunia mengakui keberadaan Iran karena Iran juga sebagai anggota Persatuan Bangsa Bangsa.

Hanya saja, gangguan pada capaian suatu kesejahteraan dalam kehidupan manusia, di mana pun, pastilah ada. Dan gangguan, kerap sekali menyerimpungi. Sekali pun, arah dan tujuannya menjalankan perintah kitab suci. Namun nyata, gangguan tetap ada. Pasalnya, tidaklah semua manusia itu berperangai baik, lurus hati dan dapat dipercaya.

Perangai Buruk dan Kejahatan Genosida

Orang-orang berperangai buruk yang terdapati di level kepemimpian negara misalnya, banyak juga jumlahnya. Ada pun mereka yang berperangai buruk, antara lain seperti: suka bikin resah, hobi membuat huru-hara, terus menerus bikin onar, mendalangi kekacauan: pemerkosa hak hidup insani hingga tega membunuh kaum lemah; Termasuk mereka yang melakukan tindak-tindak kriminal hingga genosida, yang bertujuan menggusur dan merampas hak-hak dasar warga.

Perangai buruk manusia yang demikian itu, telah banyak pula tercatat di berbagai buku yang menceritakan tentang krisis keimanan, krisis moral dan akhlaq, krisis hati nurani, juga krisis keadaban di pentas kehidupan dunia dari masa kenabian hingga hari ini.

Krisis-krisis tersebut, boleh jadi, didorong ilmu pengetahuan yang telah direkayasa menjadi teknologi komunikasi mau pun persenjataan; Teknologi yang telah diproduksi secara massal, sering kali mereka gunakan untuk kriminal hingga juga genosida terhadap kalangan warga tiada berdosa; Contoh konkret: dialami oleh banyak warga Palestina yang menjadi korban genosida.

Keluar dari Azali Tidak Mungkin

Krisis keadaban para tokoh Bani Israil di dunia, sesungguhnya tiada pernah –tidak diberi sempat oleh Allah sedikit jua– keluar dari hukum-hukum agama yang azali; Sekali pun atas nama negara atau sekelompok orang, hukum azali (inti keyakinan tauhid) ini tetap berlaku. Karena, sekali pun sebutir debu atau sebiji zarrah –apa lagi yang disebut pada kumpulan orang-orang atau negara–, tiadalah ia akan mampu lepas dari kedalaman, keluasan dan keluesan ajaran agama. Dan ajaran Islam, dihadirkan oleh Allah sebagai rahmatan lil ‘alamin atau tidak sebatas pada lingkup bumi yang fana.

Mana kala dasar pikiran yang dipakai konteksnya adalah Tauhid, dengan pengakuan: Allah adalah Penguasa Tunggal lagi Mahakuasa atas seluruh alam dan isinya; Maka, termasuk sebutir debu atau biji sawi, –apalagi punya teretorial nation yang ada di muka bumi– adalah bagian tidak terpisah dari ciptaanNya. Hal demikian, berarti pula, secara keseluruhan di alam ini sudah tercatatkan di lawhil mahfuzh, dan telah berada di dalam lingkupan agama samawi yang diturunkan olehNya.

Dalam Islam, ketika Tauhid disentuh, maka menghasilkan dua pertanyaan; Maukah kalian taat (bertaqwa) kepada Allah selaku Tuhan Yang Mahapencipta dan Mahakuasa atas apa pun? Ataukah, maunya kalian itu ingkar dari pada perintah Allah? 

Bagi orang-orang yang taat dan bertaqwa kepada Allah, diisyaratkan agar mematuhi perintah serta menjauhi larangan yang datang dariNya dengan menguatkan ruhul jihad; Sedangkan mereka yang ingkar kepada Allah ‘hanyalah mencoba-coba’ keluar dari hukum azali –suatu perangkap untuk mengikat hingga seorang pun tidaklah dibenarkan oleh Allah keluar dari ketetapanNya yang azali. Allah mencirikan ini, antaranya melalui firmanNya:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kemudian hanyalah kepada Kami (Allah) kamu dikembalikan”. (QS Al Ankabut: ayat 57);  Dan terdapat juga dalam Surat Ali ‘Imran: 185 dan Al-Anbiya: 35.

Jelasnya, suatu kematian itu bukan sekadar cerita landai berharmoni romantisme kesedihan belaka; Akan tetapi juga, kematian merupakan sistem akomodatif dari Alqur-an yang tujuannya, pada akhir hidup di dunia, agar bernilai mulia, teristimewa sebagai syuhada.

Sisi lainnya, ada pula kematian sebagai proses pemaksaan dari Allah kepada mereka yang terus menerus ingkar kepadaNya. Ciri mereka yang ingkar, seperti:  orang-orang yang berperangai buruk, kriminalis sejati, perampok hak-hak dasar warga, tukang genosida, angkuh dan sombong, dalang atau tukang rekayasa terjadinya kekacauan dan lain-lain yang serupa.

Kejahatan Lebih Besar

Di balik meningginya aura perangai buruk di lingkup kepimpinan pada persekutuan kelompok agresor dunia; Maka Iran sebagai negara berdaulat di mata agresor seperti belum puas meski pun mereka telah menghujani secara bertubi-tubi dengan embargo ekonomi, pembatasan ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga Iran pun dipublish sebagai negara berbahaya. Padahal, mata dunia pada melek; Bahwasanya, jiwa ‘pembunuh massal’ berbahaya, lebih dicirikan melalui kelakuan kelompok agressor tersebut.

Akibat sifat ‘rakus’ orang-orang yang hubbud dunniya (cinta dunia); Hingga sering kali, Pemimpin Negara Republik Islam Iran menjadi target pembunuhan berencana. Antara lain target yang nyata-nyata direncanakan oleh kelompoknya Presiden Amerika Serikat saat ini.

Perang informasi, juga menjadi salah satu alat bagi agresor tersebut untuk memfitnah Iran yang dasarnya adalah rasa ketidak sukaan dan kebencian. Informasi yang dibangun melalui sistem arus besar (mainstream), diakui banyak pihak telah merambah ke seluruh penjuru dunia. Tak sedikit pula, kalangan ummat Islam yang mengaku cinta Alqur-an, pada pengetahuan universalnya kerap dipengaruhi mainstream media mereka, sehingga ikut-ikutan mengecam Iran.   

Tak jarang, Iran dikecam keras justru oleh orang-orang yang kehidupan sehari-harinya mengakrabi Kitab Alqur-an; Kalangan ini, juga menyampaikan ayat-ayatNya kepada handai taulan dan jamaah. Kecaman kepada Iran, bahkan ada juga yang dilontarkan dari mimbar-mimbar ceramah. Hanya saja, adakalanya, materi da’wah terkait dengan Iran yang disampaikan kurang gizi, karena tidak dicukupi dengan unsur-unsur penguat bagi tumbuh dan berkembangnya ruhul jihad sesungguhnya.

Realitas yang sering ditemukan dari kalangan ini, kecaman dan hujatan kepada Iran, tidaklah membuat gerombolan bersenjata (Bani Israil) berhenti dari berbuat kejahatan serta kekejian di Palestina, serta juga di kisaran kawasan Jazirah Arabia hingga Persia.

Bani Israil kini, masih terus merangsek ke Negeri Para Nabi –terlebih Jalur Gaza– dan mereka terus melakukan kriminal juga genosida yang makin hari makin nyata; Sedangkan di hati kelompok pembunuh wanita dan anak-anak itu, –dipastikan Alqur-an (QS 3: 118)– lebih besar lagi kejahatan yang diinginkan dari pada yang telah nyata terlihat mata dunia.

Di atas dasar kitab yang sama, yaitu Alqur-an, Iran mengembangkan da’wah Islam ke ranah GeoPolitik, meliputi penguasaan keilmuan multidisiplin dan segala aspek keilmuan (terlebih keagamaan dan sosial politik berikut ketahanan wilayah kedaulatannya). Ciri-ciri demikian, sangatlah tampak di permukaan. Lembaga kepemimpinan Iran, melakukan penekanan prinsip tertentu dalam konsentrasi dan melakukan kreasi (ijtihad melalui aplikasi ikhtiar yang adaptif), meliputi: kemampuan penguasaan geografi politik, hubungan internasional, aspek teritorial ilmu politik dan hukum internasional.

Maka itu, kemunculan Iran di bawah kepemimpinan tertinggi dari Ayatollah Ruhollah Khomeini (mulai 1979 hingga 1989) dilanjutkan Ayatollah Ali Khamenei (1989-2026); Adalah akibat tindakan sepihak dan sikap arogansi Amerika Serikat yang terbukti dengan menggagas embargo ekonomi (perdagangan dibatasi ketat) terhadap Iran, semenjak November 1979 hingga hari ini,  plus meningkatkan ketegangan di wilayah Teluk Persia dan kawasan sekitarnya.

Di balik tekanan itu, sebagai negara berdaulat Iran mampu bangkit mensejajarkan diri dalam penguasaan di bidang-bidang multidisiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebangkitan Iran, hingga memasuki ranah persiapan perang GeoPolitik yang biayanya lebih murah namun efektif untuk mematikan langkah-langkah musuh.

Sedangkan keadaan Iran sendiri, berada pada lingkup pengawasan sangat ketat secara internasional; Adalah bukti paradoks juga dari sebagian ummat pengagum Alqur-an yang selama ini hanya melakukan kecaman, kecaman dan hujatan…!

Natijah

Terlepas dari alasan Sunni, Syiah atau aliran Islam lain, adakalanya ketika membahas tentang Iran, pengetahuan seseorang itu belum sampai pada dinamika keilmuan multidispliner yang berkembang di nurani dan penalaran bangsa Iran. Akan tetapi, di atas keterbatasan ilmu pengetahuan, ada kalanya seseorang mendahului dengan cara pandang yang berkiblat pada underestimate; Sehingga, tersusupilah ia dengan ‘intrik-intrik‘ tradisionalisme pemikiran yang stagnan.

Berkaitan perang GeoPolitik, dapat saja didekati melalui konteks: Alqur-an (khususnya pada ayat-ayat berkisahkan orang-orang yang menentang hingga memusuhi Nabi dan Rasul). Lewat ayat-ayatNya yang demikian, ada mekanisme ijtihad yang dijalankan oleh pemimpin-pemimpin Islam Iran; Karena, jauh sebelum hari ini, pemahaman perang geopolitik belum membumi di negara-negara yang penduduknya mayoritas penganut Islam.

Di atas kesadaran hati nurani dan akal-pikiran yang memandang penting menerapkan tauhid, kaum ‘ulama dan cendekiawan –dilaterbelakangi ilmu pengetahuan yang bersifat mulidisipliner– di Iran melakukan ijtihad. Hasil ijtihad, diaplikasi sebagai dasar ikhtiar tententu dan khusus, maka  antaranya lahirlah semacam resolusi jihad yang dipenuhi dengan niat fi sabilillah dan cita-cita menjadi syuhada (mati syahid). 

Di balik segala cita-cita mulia itu, biasanya terdapat tantangan baik di internal mau pun eksternal suatu wilayah. Hal demikian, secara alami, sering terjadi; Bahkan, pernah juga terjadi ada pengkhianat terhadap Rasul Allah pada zaman kenabian. 

Didapati pula dalam suatu kelompok orang tertentu, tidak mendasari ijtihad siapa (kalangan mana) yang dipakai; Akan tetapi, dengan sekonyong-konyong ia menghujat dan mengecam Iran; Dan, ada juga yang mengutuk Iran tanpa dasar kuat. Ada kalanya, yang jadi dasar hujatan cuma bersifat emosi sendiri yang diseret-seretnya untuk berselancar di hamparan ladang ‘ilmiah’. Mungkin, awalnya orang tersebut hendak masuk di area orientasi dengan segala keleluasaannya, namun apalah daya –jika pergerakan– pikirannya terkurung di antara dinding bersudut orientalism. (*)

Menakar Kebijakan WFH untuk ASN sebagai Respons Cerdas atau Solusi Setengah Hati?

Oleh Syahnanto Noerdin | Ketua Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga IJTI Pusat Periode 2021–2026, Alumnus Mikom FISIP UMJ PADA...

More Articles Like This