JAKARTAMU.COM | Majelis Permusyawaratan Umat Islam (MPUI) berdialog dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, Kamis (2/20/2025). Dalam pertemuan tersebut didiskusikan pentingnya budaya sebagai landasan berpolitik.
“MPUI tidak dimaksudkan menjadi ormas atau partai politik. Justru kami ingin banyak pihak ikut terlibat, dengan pijakan pada budaya nasional yang kuat dan berakar panjang dalam sejarah bangsa ini,” ujar anggota MPUI, Prof. Ir. Daniel Mohammad Rosyid, M.Phil., Ph.D., MRINA, seusai pertemuan.
Dia menjelaskan, MPUI saat ini ikut membersamai Kementerian Kebudayaan yang dipimpin Dr. Fadli Zon. Tujuannya memastikan arah pembangunan nasional dipahami sebagai perluasan kemerdekaan yang berpijak pada budaya Indonesia. Ia menyebut warisan peradaban, mulai dari jejak manusia Trinil di sekitar Bengawan Solo hingga masyarakat modern hari ini, harus menjadi landasan berpikir dalam kebijakan pembangunan.

“Culture does matter. Pembangunan tidak boleh dipahami semata sebagai ikhtiar teknokratik. Itu justru bisa mengasingkan manusia dari jati dirinya sebagai Abdullah, makhluk yang menyadari kemerdekaan sebagai rahmat Allah, sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 18 Agustus 1945,” lanjut Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan ITS tersebut.

Dalam kesempatan itu, Fadli Zon menyerahkan buku koleksinya berjudul Keramik Cina Abad 7–19 Temuan Sungai Musi. Buku ini memuat hasil penelitian arkeologis mengenai temuan keramik dari berbagai dinasti di Tiongkok yang ditemukan di perairan Sungai Musi, Palembang. Keramik-keramik tersebut mencerminkan aktivitas perdagangan maritim yang intensif antara Nusantara dan Tiongkok sejak awal abad pertengahan.
Kajian dalam buku tersebut menunjukkan bahwa hubungan dagang antara Palembang dengan pusat-pusat produksi keramik di Cina, seperti dari Dinasti Tang, Song, Yuan, Ming, hingga Qing, berlangsung berabad-abad. Temuan keramik menjadi bukti keterhubungan jalur maritim yang menjadikan Nusantara sebagai simpul penting dalam perdagangan internasional. Selain itu, benda-benda tersebut juga mencerminkan akulturasi budaya yang ikut memperkaya identitas bangsa Indonesia.
Daniel menilai buku itu relevan untuk meneguhkan pandangan bahwa pembangunan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari akar budaya dan sejarah panjang bangsa. “Koleksi semacam ini memberi perspektif historis yang memperkuat kesadaran kita bahwa bangsa ini sejak lama menjadi bagian dari arus peradaban dunia,” kata Daniel.


