JAKARTAMU.COM | Minat masyarakat terhadap sekolah swasta terus meningkat. Banyak orang tua tetap memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta meski kondisi ekonomi terbatas karena menilai kualitas pendidikan sebagai investasi jangka panjang.
Fenomena itu terlihat di SD Muhammadiyah 7 Antapani, Bandung, Jawa Barat. Sekolah tersebut bahkan telah menerima pemesanan kursi untuk tahun ajaran 2032, termasuk dari keluarga yang anaknya belum lahir.
Kepala SD Muhammadiyah 7 Antapani, Iwan Kurniawan, mengungkapkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah yang dipimpinnya. Menurut dia, sejumlah orang tua sudah menyatakan minat untuk mendaftarkan anak mereka jauh sebelum memasuki usia sekolah.
“Untuk tahun 2032, SD Muhammadiyah 7 Bandung sudah ada yang inden untuk sekolah walaupun belum lahir,” kata Iwan dalam kegiatan pendampingan mutu sekolah yang diselenggarakan PP Dikdasmen Muhammadiyah di Aula SMA Muhammadiyah 11 Jakarta Timur, Kamis (4/6/2026).


Iwan mengatakan komitmen terhadap sekolah bahkan dibangun sejak awal di lingkungan internal. Ia mengaku kerap meminta komitmen kepada guru maupun karyawan yang akan menikah agar kelak menyekolahkan anaknya di SD Muhammadiyah 7.
“Ketika ada karyawan atau guru yang mau menikah, mereka saya minta komitmennya. Jika punya anak, kelak anaknya diwajibkan sekolah di SD Muhammadiyah 7,” ujarnya.
Fenomena pendaftaran sejak usia sangat dini sebelumnya juga terjadi di SD Muhammadiyah Sapen, Yogyakarta. Pada awal 2026, sekolah tersebut menjadi perbincangan di media sosial karena penerimaan murid baru sudah dilakukan sejak anak masih bayi. Bahkan, ada orang tua yang mencoba mendaftarkan anak ketika masih berada dalam kandungan.
Pilihan terhadap sekolah swasta berbasis agama umumnya didorong keinginan orang tua agar anak memperoleh pendidikan akademik sekaligus pemahaman agama yang lebih kuat. Biaya pendidikan yang relatif tinggi dianggap sepadan dengan layanan dan hasil yang diharapkan.
Dalam kesempatan yang sama, Iwan juga menyoroti pengelolaan aset di lingkungan sekolah Muhammadiyah yang menurutnya masih kerap berjalan secara terpisah antarunit. Ia menilai pendekatan tersebut tidak sejalan dengan konsep perguruan Muhammadiyah yang mengintegrasikan berbagai jenjang pendidikan dalam satu kawasan.
“Lebih baik sebuah alat rusak karena dipakai untuk kepentingan bersama demi persyarikatan daripada rusak karena terlalu lama disimpan dan jarang digunakan,” kata Iwan.
Menurut dia, aset sekolah semestinya dimanfaatkan secara bersama-sama untuk mendukung kegiatan pendidikan, bukan dikelola dengan pendekatan yang terlalu berorientasi pada kepentingan masing-masing unit sekolah.


