Sejarah yang Berulang, Sepinya Masjid Muhammadiyah ketika AUM Berkembang Pesat 

Must Read

JAKARTAMU.COM | Sebuah otokritik disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta Prof. Dr. H. Bunyamin, M.Pd. Menurut dia, Muhammadiyah saat ini sedang berada pada situasi di mana kelompok tua mendominasi struktural persyarikatan.

Bunyamin dalam kegiatan Hari Bermuhammadiyah sekaligus menyambut milad  ke-113 di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Matraman, Jakarta Timur, memaparkan 12 Langkah Muhammadiyah. Dokumen ini dirumuskan pada 1938 namun jarang lagi disampaikan dalam forum-forum resmi Persyarikatan. 

Wakil Ketua Baznas DKI Jakarta itu mengingatkan, dokumen ini lahir pada masa ketika Muhammadiyah menghadapi ketegangan antara pertumbuhan amal usaha dan melemahnya kegiatan tablig, tepatnya pada masa kepemimpinan KH Mas Mansur. Kala itu generasi muda gelisah melihat struktur pusat yang didominasi kelompok tua.

Sekolah-sekolah Muhammadiyah berkembang luas di berbagai wilayah Hindia Belanda, tetapi kegiatan dakwah tidak mengikuti laju yang sama. Banyak warga Persyarikatan menilai Muhammadiyah lebih sibuk mengelola pendidikan dibanding menggerakkan tablig yang menjadi fondasi awal organisasi.

Milad 117 H Muhammadiyah

Bunyamin menilai pola itu tampak lagi hari ini. Amal usaha Muhammadiyah tumbuh besar dengan struktur yang lebih profesional. Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, hingga unit-unit ekonomi tumbuh dan berkembang. Para pimpinan lembaga segera menggelar evaluasi ketika murid berkurang, mahasiswa menurun, atau rumah sakit tersaingi. Namun evaluasi serupa, menurutnya, jarang terjadi pada masjid dan musala Muhammadiyah yang perlahan kehilangan jemaah. 

“Apakah kita pernah rapat ketika masjid mulai sepi?” kata Bunyamin, Selasa (18/11/2025).

Layanan donor darah pengobatan gratis RS Islam Pondok Kopi. Foto: jakartamu.com/noor fajar asa

Ketua PCM Matraman, H. Latief Utomo, merespons dengan mengusulkan perlunya rumusan baru yang lebih sesuai dengan konteks hari ini. Jika pada 1938 dirumuskan 12 langkah, ia menilai generasi sekarang membutuhkan setidaknya dua puluh. Salah satu poin yang ia anggap mendasar adalah kemampuan bahasa Arab bagi kader muda. Ia menyebut kemampuan itu bukan tuntutan formal, melainkan kebutuhan agar kader mampu memahami ajaran Islam dari sumber utamanya, sesuai tradisi keilmuan yang diwariskan KH Ahmad Dahlan.

Perayaan Milad di Matraman juga diisi kegiatan sosial. Panitia bekerja sama dengan PMI DKI Jakarta untuk donor darah dan menghadirkan layanan pengobatan gratis bersama RS Islam Pondok Kopi. Sebanyak 200 mangkuk soto mi disiapkan bagi peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.

Di tengah rangkaian acara itu, gagasan yang dibawa Bunyamin menguat: Muhammadiyah pernah berada pada fase ketika amal usaha tumbuh cepat sementara kegiatan dakwah kehilangan tenaga. Fase itu, katanya, tampak lagi sekarang. Dan seperti pada 1938, keputusan yang diambil hari ini akan menentukan arah Persyarikatan dalam beberapa dekade ke depan.

ISKI Ingatkan AI Dapat Mengaburkan Informasi, Kepercayaan Publik Terancam

JAKARTAMU.COM | Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membuat batas antara informasi benar dan palsu semakin sulit dibedakan. Kondisi itu...

More Articles Like This