DEMAK merobohkan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527. Bandar Kerajaan Hindu Pakuan itu jatuh setelah upaya mempertahankannya lewat kolaborasi Sunda Kelapa dan Portugis tak membuahkan hasil.
Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono (1521–1546), dengan panglima perang Fatahillah, basis pertahanan diperkuat di sepanjang pantai utara Jawa ke arah timur.
Madiun, Tuban, Surabaya, Pasuruan hingga Blambangan—meliputi Banyuwangi, Jember, Bondowoso, dan Situbondo—berada di bawah Kasultanan Islam Demak. Ekspansi itu memberi Demak wibawa politik dan militer yang sulit ditandingi pada zamannya.
Namun gugurnya Sultan Trenggono di Blambangan pada 1546 membuka babak baru. Gerilya politik Joko Tingkir, menantu Trenggono sendiri, dimulai. Pertama-tama, dia menyusun strategi agar bisa masuk ke lingkar elite Kasultanan Demak.

Di sisi lain, kemenangan Demak atas Sunda Kelapa dan berdirinya vasal di Cirebon bersama Fatahillah (Sunan Gunung Jati), sejumlah mendorong para Ki Ageng yang di permukaan menerima Islam tetapi bersemangat Majapahit Hindu, menyiapkan anak Kebo Kenongo—ayah Joko Tingkir alias Mas Karebet—untuk melakukan infiltrasi ke Demak. Tetapi kematian Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging yang diselesaikan Sunan Kudus menyisakan bara perlawanan terhadap Demak.
Bagi para Ki Ageng di pedalaman Jawa Tengah bagian selatan, rekan seperjuangan Kebo Kenongo, Demak dengan syariat Islam harus dilawan melalui corak Islam yang sinkretik. Nama-nama seperti Ki Ageng Selo (Grobogan), Ki Ageng Tingkir (Salatiga), Ki Ageng Banyubiru (Ambarawa), Ki Ageng Pemanahan (Surakarta), Ki Ageng Panjawi (Pati), Ki Ageng Jurumartani, dan sekutu lain—kecuali Ki Ageng Tembayat (Klaten)—menjadi simpulnya.
Islam hakikat yang mengabaikan syariat menjadi wacana yang digemari di kalangan penduduk yang secara formal mengakui Islam, tetapi tetap mempercayai wayang dan pengaruh Hindu dalam corak sinkretis. Di atas lanskap kultural dan sosiologis masyarakat agraris itulah, para Ki Ageng itu tak merelakan Kasultanan Demak tumbuh kukuh. Isu rasial turut diselipkan: Raden Patah, Sultan Demak, disebut keturunan Tionghoa dengan nama Jin Bun.
Narasi kemudian dibangun. Joko Tingkir, jagoan mereka, dikisahkan menghancurkan kepala kerbau yang mengamuk di alun-alun Istana Demak. Peristiwa itu dibaca sebagai simbol kemampuan menutup telinga dan hati rakyat Demak dari setiap informasi istana. Distorsi komunikasi menjadi senjata.
Cara itu membuahkan hasil. Joko Tingkir diangkat sebagai prajurit, lalu naik derajat hingga menjadi menantu Sultan Trenggono. Dalam rentang satu generasi—sekitar 1540-an sampai 1568—ia menjadi panah yang busurnya dikendalikan para Ki Ageng. Sisa-sisa Majapahit di pedalaman Jawa Tengah terus merongrong Demak.
Pada 1568, istana Demak runtuh dan pusat kekuasaan bergeser ke pedalaman dengan lahirnya. Kasultanan Islam Pajang. Kesultanan ini beribu kota di Kartasura, sekitar 10 kilometer sebelah barat Surakarta. Pergeseran itu mengubah arah politik Jawa. Jawanisasi Islam kemudian dikembangkan oleh Senopati, putra Ki Ageng Pemanahan, dengan melawan Pajang. Kartasura sebagai ibu kota Pajang (1568–1586) jatuh. Berdirilah Dinasti Mataram pada 1588.
Di bawah Sultan Agung Hanyokrokusumo—bergelar Senopati ing Ngalaga, Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ing Tanah Jawa—yang berkuasa 1613–1645, konsolidasi dilakukan dari pedalaman. Setelah kegagalan menyerang Batavia pada 1628 dan 1629, ia menguatkan cengkeraman dengan menyingkirkan keturunan Sunan Giri di Gresik dan keturunan Sunan Tembayat di Klaten.
Sejarah lalu bergerak ke Kartasura kembali sebagai ibu kota Mataram. Pada 1680, Amangkurat II memerintah selepas jatuhnya Istana Mataram di Plered (Yogyakarta) pada 1678 ke tangan Trunojoyo yang didukung pasukan Madura, Bugis, serta santri keturunan Sunan Tembayat—Pangeran Kajoran dari Klaten.
Dalam bentangan itu, kisah Joko Tingkir dibaca sebagai awal kemenangan Islam sinkretik atas Islam politik. Strategi pembentukan opini, pengaburan informasi elite kepada rakyat secara perlahan-lahan, menunjukkan efektivitasnya.
Kini, pembodohan rakyat mengambil rupa lain: kebutuhan pangan, sandang, dan papan dicukupi, sementara pendidikan ditekan. Ujaran “wong pinter keblinger, wong pinter bisanya cuma minteri” tetap dirawat sebagai ideologi. Indonesia dengan Jawanya dipertahankan sebagai struktur dan kultur yang terjajah oleh otoritarianisme yang meluas dan mengakar.


