Spirit Iman Menggugah Kesadaran dan Menggerakan Perubahan

Must Read

JAKARTAMU.COM | Keyakinan dan pemahaman agama yang benar merupakan daya yang menggugah kepedulian pada sesama dan alam. Kesadaran akan tugas manusia di bumi melahirkan beragam gerakan seperti menjaga sungai, menanam pohon, hingga melawan ketidakadilan sosial-ekologis. Iman yang sungguh-sungguh dihayati sejatinya menjadi penggerak paling kuat bagi lahirnya perubahan.

Pengalaman itu terhimpun dalam sebuah buku Spiritual Changemakers: Lentera Perubahan dari Keberagaman untuk Bumi dan Kemanusiaan di Jakarta. Buku ini diluncurkan Ashoka Indonesia bersama Eco Bhinneka Muhammadiyah dan GreenFaith Indonesia di Jakarta pada Kamis (11/9/2025). Karya ini merekam perjalanan kolaboratif lintas iman dalam merawat bumi, memperkuat empati, serta memperjuangkan keadilan sosial-ekologi.

Baca juga: Agama, Sahabat atau Musuh Lingkungan?

Dalam 100 halaman buku tersebut tergambar spiritualitas yang bergerak ini tidak hadir semata-mata sebagai wacana. Dari para pegiat yang membersihkan sungai hingga gereja yang hijau, dari doa yang menyatukan hingga aksi yang menumbuhkan solidaritas. Semua itu menunjukkan bagaimana iman mampu menjadi sumber daya sosial, yang menyalakan harapan sekaligus meneguhkan kerja-kerja perubahan.

Milad 117 H Muhammadiyah

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Abdul Mu’ti dalam kata sambutan buku tersebut menegaskan, nilai kemanusiaan, kebahagiaan, dan kebebasan mampu menumbuhkan empati dan simpati lintas kelompok. “Spiritualitas tidak berhenti pada keyakinan pribadi, tetapi menjadi energi perubahan sosial yang nyata,” ujarnya.

Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, Nani Zulminarni. Foto/istimewa

Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, Nani Zulminarni, menuturkan inisiatif ini berawal sejak 2020 ketika dirinya membayangkan kolaborasi komunitas berbasis iman dalam gerakan sosial. Pada 2022, lokakarya pertama menghadirkan lebih dari 70 pegiat yang langsung melakukan aksi nyata, mulai dari membersihkan sungai hingga gerakan gereja hijau. “Dari situlah lahir buku ini, berbasis kehidupan nyata dengan empati dan akal sehat sebagai pijakan perubahan,” kata Nani.

Hening Parlan, Direktur Program Eco Bhinneka Muhammadiyah sekaligus Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, menyebut buku ini sebagai saksi dari para pembaharu spiritual yang bekerja dalam senyap, namun membawa dampak luas. “Semoga menjadi cahaya bagi gerakan perubahan yang adil, damai, dan lestari,” ujarnya.

Sesi diskusi peluncuran buku Spiritual Changemaker. Foto/istimewa

Sesi diskusi peluncuran menghadirkan aktivis lingkungan Prigi Arisandi, Parid Ridwanuddin (GreenFaith Indonesia), dan Pdt. Meilany Risamasu (GPIB Karang Satria). Pdt. Meilany menekankan pentingnya empati kepada seluruh ciptaan melalui gerakan green church. Sementara Prigi menyoroti ancaman mikroplastik, sembari mendorong anak muda terjun langsung agar empati mereka tumbuh menjadi aksi nyata. Ia juga menekankan perlunya memvisualkan informasi dan menampilkan cerita baik di lapangan sebagai contoh gerakan perubahan.

Parid Ridwanuddin menegaskan bahwa perubahan tidak lahir dari ruang kosong, melainkan bisa lahir dari nilai keyakinan, yang berawal dari panggilan bahwa manusia bisa saling bekerjasama menjaga kelestarian bumi untuk generasi mendatang.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This