JAKARTAMU.COM | Ribuan masyarakat memadati area silang Monas, Jakarta Pusat, Minggu (21/9/2025), untuk menyaksikan marching band TNI Angkatan Darat pada gelaran TNI Fair dalam rangka HUT TNI ke-80. Drumcorps militer ini menampilkan perpaduan musik dan gerakan baris-berbaris dengan disiplin tinggi. Tradisi drumband di lingkungan TNI memiliki sejarah panjang. Sejak awal, kehadirannya tidak hanya dimaksudkan sebagai hiburan, tetapi juga untuk menumbuhkan semangat juang sekaligus melatih kedisiplinan prajurit. Dari waktu ke waktu, penampilan drumband TNI berkembang dalam komposisi musik maupun kualitas koreografi.
Fenomena tersebut menggambarkan bagaimana musik selalu memiliki tempat istimewa di masyarakat. Musik memberikan kebahagiaan, ketenangan, dan keindahan. Ia berfungsi sebagai sarana ekspresi diri, media budaya, bahkan peluang karir. Dalam keseharian, pertunjukan musik menjadi salah satu hiburan paling digemari di Indonesia.
Baca juga: Beda Seni Takbiran di Indonesia dan Timur Tengah
Namun, dalam perspektif Islam, seni musik tidak hanya dinilai dari aspek hiburan. Ia juga menyentuh sisi spiritual. Dr. Saiful Bahri MA, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DKI Jakarta, mencontohkan peran seni suara dalam ibadah. Menurutnya, imam salat yang membaca Al-Qur’an dengan suara merdu dapat membantu jamaah lebih fokus dan khusyuk. Suara indah dapat mengalihkan perhatian dari hal-hal duniawi, sekaligus memperdalam pemahaman spiritual. Meski demikian, Saiful menegaskan bahwa hakikat khusyuk tetap bersumber dari kesadaran dan kehadiran hati, bukan semata dari kemerduan suara imam.

Ia mengutip prinsip fiqh tentang pemilihan imam. “Ketika ada dua orang yang memenuhi syarat menjadi imam, yang satu memiliki hafalan lebih banyak, yang lain hafalannya biasa saja tapi memiliki seni dalam membaca Al-Qur’an dengan suara lebih bagus, maka yang diutamakan adalah yang memiliki seni membaca Al-Qur’an. Terutama pada salat jahr,” jelasnya saat mengisi Kajian Tarjih PDM Jakarta Selatan di Masjid Al Muhajirin, Tebet Barat, Minggu (21/9/2025).
Saiful mengingatkan, membaca Al-Fatihah dengan nada datar dan kering justru membuat jamaah kehilangan kekhusyukan. “Kita yang mendengar bacaan Al-Qur’an dengan nada fals saja merasa kurang nyaman,” ujarnya. Ia lalu mengutip hadis: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ûd radhiyallahu ‘anhu)
Baca juga: Workshop Tari Zapin LSB DKI Jakarta Memperkuat Identitas Seni Muhammadiyah
Menurutnya, hadis ini menjadi landasan penting bahwa keindahan merupakan bagian dari nilai Islam. Apalagi jika yang diperdengarkan adalah ayat-ayat Allah, maka keindahan bacaan menjadi sesuatu yang layak diperhatikan.
Dalam kesempatan itu, Saiful juga menyerahkan buku Prinsip dan Panduan Umum Seni Islami yang diterbitkan LSBPI MUI kepada Ketua PDM Jakarta Selatan, Dr. H. Edy Sukardi, M.Pd. Buku ini hadir sebagai ikhtiar menjawab persoalan keumatan terkait seni dan kebudayaan. “Buku ini berusaha menghadirkan pandangan Islam yang jernih, adil, dan proporsional (wasathiyah) tentang seni dengan berbagai bentuknya,” ujar Saiful.
Pandangan ini sejalan dengan garis pemikiran Muhammadiyah yang menegaskan bahwa seni adalah bagian dari fitrah manusia. Selama tidak membawa kepada kerusakan (fasad), bahaya (dharar), atau menjauhkan dari Allah (ba‘īd ‘anillāh), seni dapat berkembang sebagai ekspresi budaya sekaligus sarana dakwah. Dalam kerangka itu, keindahan seni musik, suara, maupun bentuk ekspresi lain ditempatkan bukan sekadar hiburan, melainkan juga instrumen membangun kehidupan berperadaban yang berlandaskan tauhid. (*)


