Taman Bacaan Masyarakat  Harus Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari

Must Read

JAKARTAMU.COM | Taman Bacaan Masyarakat (TBM) mesti bergerak mengikuti denyut hidup warganya. Hal ini menjadi sorotan dalam Workshop Taman Bacaan Masyarakat yang digelar Lembaga Budaya Seni dan Olahraga PW Aisyiyah DKI Jakarta di Perpustakaan HB Yasin, Taman Ismail Marzuki, Sabtu (22/11/2025). 

Dalam kegiatan ini hadir Edy Fajar Prasetyo, sociopreneur muda yang mengubah sampah menjadi berkah. Dia mengingatkan agar TBM tidak berhenti sebagai ruang penyimpanan buku. Sebaliknya TBM harus hadir sebagai bagian dari persoalan dan kebutuhan masyarakat.

Edy membuka paparan  dengan menguraikan kembali makna iqra‘ dalam Surah Al-Alaq. Pengulangan kata tersebut memberi isyarat pentingnya membaca dalam empat lapis pemaknaan: membaca teks Al-Qur’an dengan benar, mempelajari dan memahami maknanya, menghayatinya, serta menyingkap pesan yang terkandung di dalamnya.

Pemaknaan itu, kata dia, seharusnya mendorong umat untuk menghubungkan ajaran Al-Qur’an dengan kehidupan sehari-hari—dan TBM dapat menjadi salah satu sarana untuk itu.

Milad 117 H Muhammadiyah

“TBM mesti tampil kreatif dan mampu menembus ruang nyata kehidupan masyarakat. Aktivitas literasi tidak cukup berhenti pada ajakan membaca, melainkan harus berkelanjutan, membimbing anak-anak, serta dievaluasi dampaknya,” katanya. 

Dari aktivitas literasi, banyak hal yang bisa dikembangkan. Dia mencontohkan aktivitasnya sebagai sosiopreneur juga berangkat dari literasi kehidupan. Edy mengaku kegelisah terhadap persoalan lingkungan, khususnya limbah plastik yang menumpuk dan menimbulkan banjir maupun kerusakan tanah.

Dia lalu mengembangkan berbagai produk kerajinan seperti Ebi Bag, Ebi Souvenir, dan Ebi Wallet yang seluruhnya dibuat dari plastik bekas bungkus kopi. Prosesnya dimulai dari pembersihan, pengeringan, pemilahan, hingga penganyaman untuk menghasilkan motif yang unik. Beberapa produk bahkan dijual hingga Rp2,5 juta. Edy menilai kegiatan seperti ini bukan hanya bentuk kreativitas, tetapi juga contoh bagaimana literasi dapat menggerakkan masyarakat untuk peduli lingkungan.

Sementara itu, Wakil Ketua PWA DKI Jakarta Hj. Syamsidar Siregar memaparkan literasi seharusnya berakar dari keluarga. Ia menekankan makna madrasatul ula—ibu sebagai sekolah pertama bagi anak. Dialah yang membentuk fondasi sikap dan karakter anak melalui dari pendampingan sehari-hari di rumah.

Syamsidar juga menyoroti kecenderungan banyak orang tua yang lebih memilih membelikan mainan ketimbang buku, padahal kebiasaan membaca sejak dini berawal dari teladan orang tua. “Gerakan literasi akan kuat jika dimulai dari rumah sebelum diperluas oleh lembaga seperti TBM,” kata anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PAN ini.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This