JAKARTAMU.COM | Pada momentun pengajian subuh yang digelar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) At Taqwa, Kompleks Muhammadiyah Matraman Jakarta Timur, Ahad (18/1/2026); Al Ustadz HM Satiri Achfaz mengingatkan jamaah: jangan sampai menghalangi orang untuk mendapatkan balasan surga di yaumil akhir kelak.
Karakter warga Muhammadiyah, menurutnya, sejak masa-masa awal didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, telah mendorong supaya manusia di lingkungan mana pun agar diberi motivasi yang sifatnya untuk mengantarkan diri sendiri dan orang lain hingga ke pintu surga; Bukan dihalang-halangi siapa pun untuk mencapai surga. Karena menghalagi untuk mendapatkan balasan surga merupakan perbuatan yang sangat tercela.
Satiri merinci, ada beberapa faktor sikap dan perbuatan yang tercela, dan berpotensi menghalagi orang mencapai surga. Perbuatan-perbuatan itu, meliputi 8 perkara, yaitu: syirik, sombong, munafiq, membunuh, memutus silaturrahim, syurbul khamr (mabuk minuman), zina dan korupsi.
- Syirik, yaitu menyekutukan Allah dengan perbuatan menyembah dan memohon kepada selain Allah. Biasanya orang yang demikian itu menganggap makhluk sebagai Tuhan; Bahkan membuka potensi menuhankan syaithan, thagut, bebatuan atau berhala atau menyembah hewan.
Perbuatan syirik, antara lain termaktub di dalam Alqur-an Surat An Nisa ayat: 48 yang menyatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni kekhilafan selain syirik.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا ٤٨
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat zhalim (dosa) yang sangat besar.” (QS An Nisa: 48)
- Sombong atau takabbur; Berasal dari kata takabbara, yatakabbaru, takabburan. Artinya: merasa paling besar sehingga menganggap kecil yang lain. Merasa paling kaya, paling pintar, paling hebat, paling menguasai, paling sukses, paling super, paling bisa segalanya. Bagi orang yang suka merasa paling, maka ia masuk katagori sombong.
Orang sombong itu berbahaya bagi ummat Nabi Muhammaad, karena berpotensi sekali jadi penghalang masuk surga. Nabi SAW bersabda (dalam hadits sahih) menyatakan: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan (seberat) biji sawi (atau zarrah).” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud).
Orang yang punya kesombongan sekecil apa pun, berarti ia menjadi penghalang besar untuk masuk surga; Meski pun dampaknya dapat saja berupa ditunda masuknya (setelah dihisab dan dibalas dahulu dengan api neraka), karena tidak ada orang masuk ke surga tanpa pertanggungjawaban
- Munafiq, yaitu orang ‘bermuka dua’: diliputi pandai berdusta, menipu (ingkar janji), dan berkhianat. Dalam sebuah sabda Nabi SAW., ciri munafiq itu ada tiga: Jika bicara ia berdusta, jika janji ia ingkar, jika diberi amanah ia berkhianat.
Balasan bagi munafiqun berupa neraka paling bawah, sebagaimana termaktub dalam Surat An Nisa: 145 sebagai berikut:
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ ١٤٥
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS An Nisa: 145)
- Membunuh. Siapa pun dia kalau membunuh manusia secara sengaja akan terhalang masuk surga; Terkecuali, sebelum ia wafat melakukan taubatan nasuha. Allah mengancam (bagi yang tidak taubat) melalui FirmanNya, antara lain di dalam Surat Anisa ayat 93, sebagai berikut:
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا.
Artinya: “Dan barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS An Nisa: 93)
- Memutus Silaturrahim; Merupakan perbuatan yg dapat menghalangi pelakuknya masuk surga bila ada unsur kesengajaan memutus hubungan silaturrahim; Terutama pada keluarga dekat. Apalagi, terhadap kedua orang tua. Nabi SAW dalam hal ini secara tegas bersabda, sebagaimana dalam hadits terkait Shahih Bukhari & Muslim:
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi” (لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ). Dalam Hadits Shahih Muslim: “Tidak akan masuk surga seorang yang memutus (silaturrahim)“.
Makna “tidak masuk surga” dimaksud, tidak masuk surga pada awalnya: adalah tidak langsung dimasukkan surga, tetapi akan menerima balasan lebih dulu dengan merasakan panasnya api neraka, kemudian di atas kehendakNya baru dimasukkan ke surga setelahnya (jika ia muslim).
Laknat Allah: Orang yang memutus silaturahim akan dilaknat oleh Allah SWT. Akibat memutus selaturrahim Rahmat Allah tidak akan turun kepada kaum yang di dalamnya terdapat pemutus silaturahim.
Ada pun tindakan yang terrmasuk memutus silaturaihim semacam menyakiti kerabat, enggan berbuat baik kepada mereka, tidak mau berkomunikasi, saling membenci, dan saling menjauhkan hubungan.
Pentingnya silaturahim, akan menjadi sebab masuk surga, sebagaimana dalam hadits Nabi SAW dari Abu Ayub Al-Ansari (sahabat yang menerima Rasulullah pertama di Madinah) dijelaskan: amal yang memasukkan seseorang ke surga meliputi ibadah, salat, zakat, dan menyambung silaturahim. Pada hadits lain, silaturrahim berpotensi memperpanjang umur dan meluaskan rezeki.
- Syurbul Khamr (شرب الخمر) secara bahasa berarti minum minuman keras atau minuman yang memabukkan. Dimaksudkan di sinia adalah seorang muslim yang pemabuk khamr atau alkohol, lalu ia mati dalam kondisi mabuk. Maka, ia terhalang masuk surga. Terkait ini terdapat sabda Nabi SAW, antara lain: “…barangsiapa yang meminum khamr di dunia, ia tidak akan meminumnya di akhirat (surga). Kecuali jika ia bertaubat” (HR. Al Bukhari no.5575, Muslim no.2003)
- Zina, popular juga disebut dengan selingkuh atau bersenggama bukan dengan pasangan yang dihalalkan. Ini bisa jadi penyabab terhalangnya masuk surga; Kecuali ia menikahinya dengan penyempurnaan taubatan nasuha.
Zina, termasuk perbuatan syaithan dan merupakan perbuatan keji dan dosa besar bagi yang melakukan. Dalam Surat Al Israa ayat 17 disebutkan sebagai berikut:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ٣٢
Artinya: “Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.” (QS Al Israa: 17)
Kandungan dan makna ayat di atas adalah larangan mendekati, bahwa Allah SWT tidak hanya melarang zina, tetapi juga segala hal yang mengarah ke sana (seperti pacaran, khalwat, juga melihat yang diharamkanNya).
- Korupsi atau mencuri. Ini juga salah satu perbuatan yang menjadi halangan bagi seseorang masuk surga. Apalagi mencuri dana haji yang dikumpulkan dari orang lain. Allah mengingatkan melalui firmanNya, antara lain:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS Al Baqarah: 188).
Intisari kandungan ayat di atas adalah larangan memakan harta dengan cara batil; Larangan ini, mencakup segala bentuk cara mengambil harta yang tidak halal, seperti riba, penipuan, kecurangan, dan mengambil hak orang lain.
Larangan juga meliputi menyuap hakim. Menggunakan harta untuk menyuap hakim agar memenangkan perkara atau menguasai harta orang lain, adalah perbuatan dosa besar, meski pun hukum di pengadilan, misalnya, mengesahkan (karena hakim hanya menghukumi yang tampak).
Ayat di atas lebih menekankan, bahwa perbuatan memakan atau mencuri harta orang lain yang dilakukan dengan sengaja, padahal pelakunya tahu bahwa itu adalah perbuatan menyalahi aturan Alqur-an, maka hal itu hanya akan memperberat kesalahan pelakunya.
Demikian tausiyah subuh HM Satiri dengan mengemukakan harapan, semoga apa yang telah disampaikan kepada jamaah membawa faedah serta pula bermanfaat untuk upaya memperbaiki tindakan secara jiwa-raga pada masa-masa mendatang. “Jangan sampai perbuatan kita jadi penghalang masuk surga,” tutup dan harap dia. (*)


