UM Bandung Dorong Transformasi Fakultas Agama Islam Lebih Berdampak Sosial

Must Read

BANDUNG, JAKARTAMU.COM | Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Bandung didorong bertransformasi agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman yang bergerak cepat. Transformasi itu diarahkan melampaui urusan administratif menuju peran strategis dalam pembangunan sosial dan peradaban.

“FAI tidak cukup berhenti pada capaian akreditasi. Ia harus hadir memberi dampak nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan global,” kata Wakil Rektor I UM Bandung, Dr. Hendar Riyadi, M.Ag., saat memberikan sambutan pada acara pelepasan dosen FAI di Auditorium KH. Ahmad Dahlan, Senin (2/2/2026).

Hendar menyampaikan bahwa tantangan FAI kian kompleks seiring perubahan lanskap ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat. Tanpa langkah transformatif yang progresif, fakultas keagamaan berisiko tertinggal dan kehilangan posisi strategisnya. Karena itu, transformasi yang ditempuh tidak boleh berhenti pada penataan struktur dan tata kelola, tetapi harus menyentuh paradigma keilmuan serta kontribusi sosial yang terukur.

Dalam refleksinya, Hendar juga menyinggung pengaruh kecerdasan buatan dalam cara berpikir akademik. Ia memandang AI sebagai mitra dialog intelektual yang membuka perspektif baru, terutama untuk membaca tantangan masa depan. Dari proses tersebut, ia merumuskan sejumlah catatan strategis bagi arah pengembangan FAI.

Milad 117 H Muhammadiyah

Salah satu gagasan yang disampaikan adalah konsep FAI 5.0. Menurut Hendar, FAI telah melewati fase normatif, administratif, akademik formal, hingga tahap substansi dan relevansi. FAI 5.0 diproyeksikan sebagai fase peradaban, ketika fakultas agama berperan aktif menjawab persoalan nyata masyarakat dan berkontribusi dalam skala yang lebih luas.

Ia juga mengkritik realitas perguruan tinggi Islam yang masih terjebak dalam normativisme administratif. Beban akreditasi dan tuntutan formal kerap menyita energi akademik, sementara dimensi humanisme dan kesejahteraan sivitas akademika terpinggirkan. Padahal, FAI diharapkan menjadi ruang transformatif yang melahirkan solusi atas problem sosial-keagamaan yang konkret.

Sorotan lain diarahkan pada riset akademik yang dinilai belum banyak berdampak langsung. Hendar menyebut sebagian besar penelitian masih berhenti sebagai kewajiban administratif, belum menyentuh persoalan riil seperti jeratan rentenir, pinjaman daring, ketimpangan ekonomi, dan problem sosial umat. Kondisi ini, menurutnya, perlu dibalik dengan orientasi riset yang lebih membumi.

Untuk itu, ia mendorong inovasi melalui eksperimen keilmuan berkelanjutan. Salah satu gagasan yang diajukan adalah prinsip “satu dosen, satu warisan”, berupa karya unggulan, model pengabdian, atau inovasi berdampak yang dihasilkan dalam rentang empat tahun. Skema tersebut diharapkan membentuk warisan intelektual kolektif sebagai fondasi transformasi FAI menuju 2045.

Hendar juga mendorong FAI berperan sebagai pusat healing sosial di tengah krisis multidimensi, mulai dari teknologi, ekologi, ekonomi, hingga krisis kejiwaan. Integrasi psikologi Islam, konseling digital, dan spiritualitas dipandang sebagai kebutuhan mendesak. Pendekatan slow academia diperkenalkan untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas akademik dan kesehatan rohani sivitas akademika.

Dalam arah pengembangannya, FAI diproyeksikan menjadi sekolah kepemimpinan tauhid transformatif, laboratorium krisis peradaban, sekaligus observatorium spiritual-intelektual. Targetnya, dalam empat tahun ke depan, sebagian besar riset FAI memiliki dampak sosial, kurikulum berbasis persoalan nyata diperkuat, dan FAI tampil sebagai rujukan nasional dalam pengembangan Islam transformatif.

ISKI Ingatkan AI Dapat Mengaburkan Informasi, Kepercayaan Publik Terancam

JAKARTAMU.COM | Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membuat batas antara informasi benar dan palsu semakin sulit dibedakan. Kondisi itu...

More Articles Like This