Untuk Para Guru: Sempurnakan Tugasmu, Ajak Muridmu untuk Salat

Must Read

Oleh Afdal Zikri | Guru Sejarah dan Ke-Muhammadiyah-an SMK Muhammadiyah 6 Jakarta

DALAM sebuah kesempatan perkuliahan pascasarjana (S2) pada mata kuliah Filsafat Ilmu di sebuah kampus keguruan negeri, seorang profesor menyatakan kemuliaan tugas seorang guru itu levelnya di bawah tugas nabi. Apa yang disampaikan oleh profesor tersebut masih terngiang sampai hari ini.

Secara harfiah dan filosofis, tugas guru berada di bawah level nabi. Hal itu sangat tepat karena guru adalah pelaksana dan pembawa pesan kebenaran. Dari sanalah makna guru sebagai insan yang digugu dan ditiru.

Yang paling penting untuk digugu dan ditiru dari seorang guru adalah praktik ketaatan terhadap Allah SWT, sebagai pengakuan dan pelaksanaan sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan nasional Indonesia sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3.

Milad 117 H Muhammadiyah

Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Senapas dengan tujuan nasional tersebut, Muhammadiyah sebagai motor utama pendidikan jauh sebelum Indonesia merdeka memiliki visi membentuk manusia bertakwa, berakhlak mulia, berkemajuan, dan unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai wujud tajdid dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Sebagai pembanding, Yayasan Pesantren Islam Al Azhar mempunyai visi mewujudkan cendekiawan muslim yang bertakwa dan berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani, cerdas, cakap, terampil, percaya diri, berkepribadian kuat, berwatak pejuang, serta memiliki kemampuan mengembangkan diri dan keluarganya serta bertanggung jawab atas pembangunan umat dan bangsa.

Kata kunci yang sama dari tiga tujuan atau visi pendidikan di atas adalah takwa. Dalam Islam, takwa secara sederhana dapat dimaknai sebagai kepatuhan dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Salah satu karakter utama dari takwa adalah senantiasa melaksanakan salat.

Foto/istimewa

Salat memiliki banyak makna penting bagi seorang mukmin. Pertama, salat adalah sarana mengingat Allah, sebagaimana firman-Nya:

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Terjemah Kemenag 2002 (QS Thaha: 14): Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.

Kedua, salat adalah sarana untuk memohon pertolongan, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

Terjemah Kemenag 2002 (QS Al-Baqarah: 45): Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

Ketiga, perintah salat wajib lima waktu adalah perintah yang dijemput sendiri oleh Rasulullah saw. dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa salat adalah mi’raj seorang hamba kepada Allah SWT.

Keempat, salat adalah ibadah yang pertama kali dihisab. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa perbuatan seorang hamba yang mula-mula diperiksa pada Hari Kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, maka baik pula amal lainnya, dan jika buruk, maka rusak pula amal lainnya (HR Thabrani).

Selain empat hal di atas, perintah salat berulang kali ditekankan dalam Al-Qur’an. Kita pun senantiasa dipanggil lima kali sehari melalui suara para muazin dari masjid dan musala.

Kewajiban Setiap Guru

Tujuan pendidikan tersebut adalah tujuan bersama yang dapat diwujudkan secara sistemik. Karena itu, kewajiban untuk mengajak salat adalah kewajiban semua guru, bukan hanya guru Pendidikan Agama Islam. Pegawai dan seluruh sivitas sekolah pun bagian dari sistem ini.

Sebagai kewajiban setiap guru, selain menyampaikan pelajaran sesuai bidang studi, hendaknya juga disampaikan kebesaran Allah yang dikaitkan dengan bidang ilmu tersebut. Nabi Muhammad saw. harus dikenalkan sebagai pribadi agung dan teladan utama. Agar lebih menarik bagi siswa, bisa pula ditunjukkan teladan muslim hebat masa kini yang taat, seperti Mohammed Salah, Sadio Mane, Khabib Nurmagomedov, dan lainnya.

Guru di Muhammadiyah

Maksud dan tujuan Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Muhammadiyah mendirikan amal usaha, salah satunya sekolah dan madrasah. Dengan demikian, tujuan pendidikan Muhammadiyah merupakan bagian dari tujuan besar Muhammadiyah.

Seorang guru di sekolah atau madrasah Muhammadiyah bukan sekadar guru di lembaga pendidikan itu, melainkan guru di Muhammadiyah yang bersama-sama komponen lain berikhtiar mewujudkan cita-cita persyarikatan.

Berdasarkan tujuan pendidikan nasional, visi pendidikan Muhammadiyah, dan kewajiban seorang guru, tidak ada alasan untuk tidak mengajak murid-murid salat. Guru hendaknya menjadi teladan yang digugu dan ditiru, mengajak murid salat bersama di masjid pada jam sekolah.

Mari, ibu dan bapak guru, jadilah bagian penting dari perintah Allah SWT, Tuhan semesta alam. Ambillah bagian jariah dari perkara ini. Insyaallah, ketika amalan salat murid-murid dihisab, nama Anda akan disebut sebagai orang yang pernah menyerukan perintah Allah ini. Wallahu a’lam. (*)

ISKI Ingatkan AI Dapat Mengaburkan Informasi, Kepercayaan Publik Terancam

JAKARTAMU.COM | Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membuat batas antara informasi benar dan palsu semakin sulit dibedakan. Kondisi itu...

More Articles Like This