LEBARAN identik dengan hidangan bersantan kaya rasa. Ketupat, opor ayam, rendang, semur daging, hingga sambal goreng kentang hadir berulang di meja makan, mengikat suasana kekeluargaan dalam setiap suapan. Namun setelah beberapa hari, lidah mulai mencari jeda. Rasa gurih yang berat perlahan memunculkan kejenuhan. Pada titik itulah, bakso menjadi pilihan.
Bakso telah lama menjadi makanan paling dicari di hari raya. Semangkuk kuah kaldu bening yang panas dan segar terasa ringan di perut, sekaligus mengembalikan selera makan. Menu ini seperti penyeimbang setelah rangkaian hidangan Lebaran yang padat santan dan rempah. Tidak heran jika sejak H+1, warung-warung bakso mulai dipadati pembeli yang ingin beralih dari menu rumah ke sesuatu yang lebih sederhana, tetapi tetap memuaskan.
Fenomena ini juga dibaca sebagai peluang. Pak De Haris, perantau asal Solo yang berjualan di Jakarta, memilih tetap berdagang bakso di hari raya. Bersama komunitasnya, dia sengaja tidak pulang kampung demi memanfaatkan lonjakan permintaan. “Kami mulai jam 9 pagi di hari raya juga sudah mulai berdagang sampai sehabisnya. Untungnya lumayan, per hari bisa sampai 1,7 juta di dua hari Lebaran ini,” ungkapnya.
Yang menarik, Haris tidak main getok harga, tetap Rp15 ribu per porsi. Meski harga daging sapi sedang tinggi, ia menyiasatinya dengan menggunakan daging ayam sebagai bahan tambahan bakso, sementara kuah kaldunya tetap memakai tulang sapi dengan tambahan tetelan. Perpaduan ini menjaga rasa tanpa membebani biaya produksi secara berlebihan.

Cerita lain datang dari Bang Feri yang mengembangkan konsep berbeda. Warung baksonya mengusung format semi-resto, menggabungkan suasana akrab khas warung dengan standar penyajian yang lebih rapi. Pendekatan ini membuat pelanggan tetap bisa menikmati bakso dengan kualitas yang lebih konsisten, tanpa harus mengeluarkan biaya tinggi.
Dengan harga mulai Rp25.000 per porsi, warungnya di kawasan Rawamangun kerap dipadati antrean, terutama oleh warga yang memilih tetap berada di Jakarta selama libur Lebaran. Porsi daging yang cukup banyak menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi kalangan menengah yang mencari keseimbangan antara rasa dan harga.
Keberadaan warung tersebut juga menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya. Deretan kendaraan pelanggan membuka peluang bagi tukang parkir untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Bang Feri sendiri sejak awal telah menginformasikan bahwa usahanya tetap buka selama libur hari raya, sebuah keputusan yang terbukti tepat.
Harus diakui, belum ada makanan tradisional Indonesia sepopuler bakso. Dia telah menjadi bagian dari ritme sosial masyarakat seantero Nusantara. Bahkan mantan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama yang pernah tinggal di Indonesia, masih ingat betul rasa dan cara penjualnya menjajakan. (*)


