Oleh Dzulfikar Arifuddin, S.T., M.T. *)
GEMA takbir 1 Syawal seharusnya menghadirkan ketenangan. Namun tahun ini suasananya sama sekali berbeda. Takbir Idulfitri beriringan dengan naiknya eskalasi konflik global. Perang Iran–Israel–Amerika Serikat memanas saat Idulfitri 1447 H/2026 M, ditandai serangan udara berkelanjutan, “jual-beli” rudal balistik, dan pertempuran intensif di Iran, Lebanon, serta Suriah. Dunia berada dalam situasi genting, dan Indonesia ikut merasakan dampaknya.
Ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik Israel–Palestina dan keterlibatan Amerika Serikat serta Iran, menekan sektor energi, rantai pasok, dan stabilitas ekonomi global. Perang Rusia–Ukraina pun belum menunjukkan tanda mereda. Tahun ini, tekanan global tersebut tidak lagi terasa jauh; ia hadir dalam kehidupan domestik Indonesia.
Masyarakat dunia kini memasuki fase kritis ketika konflik tidak semata lahir dari kegagalan diplomasi tetapi menjadi bagian dari sistem itu sendiri. Konflik Israel–Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun, terus berkembang dalam konfigurasi yang lebih luas dan kompleks. Konflik ini telah melibatkan jaringan yang dikenal sebagai Axis of Resistance—terdiri dari berbagai aktor seperti Hezbollah di Lebanon, Houthi di Yaman, hingga kelompok bersenjata di Irak, Suriah, dan kawasan lain.

Amerika Serikat yang ingin menegaskan posisi sebagai penyeimbang dan penjaga stabilitas global mengaku menjaga agar konflik tidak meluas. Tetapi sejauh ini AS tak juga menyelesaikannya. Upaya melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk gagasan two-state solution, belum mampu menembus kebuntuan. Sebaliknya fakta menunjukkan pola lingkaran setan tak berujung: eskalasi, gencatan senjata, lalu kembali tereskalasi.
Pola serupa terlihat pada perang Rusia–Ukraina: konflik panjang, mahal, namun tetap berada dalam batas yang dikendalikan. Dunia bergerak dalam logika baru. Perang tidak selalu untuk dimenangkan, melainkan dikelola.
Dari sinilah Idulfitri membawa pesan yang relevan bahwa kemenangan haruslah menyertakan keadilan tanpa syarat. Idulfitri sering dipahami sebagai simbol rekonsiliasi. Sementara rekonsiliasi sendiri jelas menuntut keadilan. Dibutuhkan keberanian untuk menghentikan konflik untuk selamanya, bukan sementara.
Ujian Domestik bagi Indonesia
Sejauh ini perdamaian abadi tampaknya tetap sebatas jargon. Hari ini dunia masih bergejolak dan pengaruhnya telah sampai di Indonesia dalam bentuk yang konkret. Fluktuasi harga energi akibat perang Iran melawan AS-Israel memengaruhi biaya produksi, harga barang, dan daya beli masyarakat. Gangguan rantai pasok meningkatkan ketidakpastian industri. Volatilitas nilai tukar menekan stabilitas ekonomi makro. Namun indikator yang lebih mengkhawatirkan justru datang dari dalam negeri: penerimaan pajak pribadi dan badan mengalami shortfall pada 2025, jumlah muzaki di sejumlah daerah menurun, sementara mustahik meningkat.
Data tersebut mencerminkan tekanan yang serius pada ketahanan ekonomi. Penurunan penerimaan pajak menunjukkan tekanan pada profitabilitas korporasi, dan melemahnya daya beli. Pada saat yang sama, berkurangnya muzaki dan bertambahnya mustahik menggambarkan pergeseran struktur kesejahteraan sosial. Kelas menengah tertekan, kelompok rentan bertambah. Fenomena ini berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat secara kualitas, ketimpangan yang berpotensi melebar, dan membesarnya kembali sektor informal.
Situasi ini menyimpan risiko sosial-ekonomi yang perlu direspons secara serius. Makna kemenangan Idulfitri perlu diperluas dari sekadar keberhasilan individu “menahan diri” menjadi mencakup kemampuan kolektif bangsa menjaga kesejahteraan, melindungi yang lemah, dan memastikan keadilan sosial berjalan.
Indonesia sebenarnya memiliki pijakan yang jelas menghadapi tekanan global, yakni Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia hanya perlu diwujudkan melalui kebijakan fiskal yang adaptif, perlindungan sosial yang tepat sasaran, serta pemberdayaan ekonomi yang inklusif. Ini adalah tugas negara sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, yakni melindungi segenap bangsa dan memajukan kesejahteraan umum.
Memang, Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Namun untuk bisa konsisten pada sikapnya itu, Indonesia harus kuat secara ekonomi. Indonesia wajib menjaga stabilitas fiskal melalui reformasi pajak yang adaptif dan perluasan basis pajak yang tidak membebani kelompok rentan. Ketahanan energi juga perlu diperkuat melalui percepatan transisi dan pengurangan ketergantungan impor. Kelas menengah memerlukan dukungan agar daya beli dan produktivitas terjaga, termasuk melalui insentif, perlindungan lapangan kerja, dan penguatan UMKM.
Hal ini juga harus didukung kedaulatan teknologi sebagai kebutuhan strategis. Kebergantungan pada teknologi asing untuk fungsi vital, lemahnya kontrol atas sistem digital dan data, serta keterikatan pada ekosistem eksternal dapat mengurangi kemandirian nasional. Integrasi antara kebijakan ekonomi dan instrumen sosial seperti zakat, infak, dan wakaf juga perlu diperkuat melalui sinergi antara negara dan masyarakat.
Penurunan jumlah muzaki dan meningkatnya mustahik menunjukkan bahwa zakat memiliki peran penting sebagai mekanisme redistribusi sosial. Namun dalam kondisi ekonomi tertekan, kapasitas zakat ikut terdampak. Sinergi antara zakat sebagai penguat solidaritas sosial dan pajak sebagai penggerak pembangunan menjadi penting agar keduanya saling melengkapi.
Indonesia berada dalam situasi yang menuntut ketahanan dan ketepatan arah. Tekanan global belum mereda, sementara tekanan domestik mulai terasa nyata. Pada saat yang sama, ruang untuk memperkuat struktur ekonomi, memperbaiki sistem sosial, dan meningkatkan daya tahan nasional tetap terbuka.
Maka, kembali pada spirit Idulfitri, ia adalah kesempatan untuk memaknai kembali hubungan antara ibadah dan tanggung jawab kebangsaan. Nilai-nilai yang dibawa Ramadan dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan yang adil, ekonomi yang inklusif, serta solidaritas yang hidup dalam keseharian.
Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. (*)
*) Penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal PP IKA ITS 2024 – 2028 | Sekretaris Dewan Pakar IKA ITS PW Jakarta Raya 2023-2027 | Co-Founder Centre for Energy and Innovation Technology Studies (CENITS)


