CILACAP, JAKARTAMU.COM | Hujan berintensitas tinggi yang turun hampir tanpa jeda sejak awal November memicu rangkaian bencana yang membuat dua kabupaten ini menghadapi situasi darurat dalam waktu bersamaan. MDMC di Brebes dan Cilacap pun bergerak dalam penanganan cepat, mulai dari asesmen, evakuasi, hingga pemulihan dini.
Di Cilacap, tanah longsor terjadi pada Kamis (13/11/2025) sore di Kecamatan Majenang. Laporan MDMC Majenang menyebut delapan rumah tertimbun dan enam belas rumah lainnya terancam di Dusun Cibuyut, Desa Cibeunying. Dua warga, Julia (20) dan Maya, meninggal dunia, sementara dua warga mengalami luka ringan. Delapan orang lainnya masih dalam pencarian oleh tim gabungan yang terdiri atas MDMC, BPBD, Basarnas, TNI/Polri, dan relawan desa.
Ketua Tanggap Darurat MDMC Kabupaten Cilacap, Anif, menyampaikan bahwa koordinasi dilakukan sejak laporan awal diterima. “Teman-teman MDMC Majenang sudah berada di lokasi sejak sore hari untuk melakukan kaji cepat dan membantu proses evakuasi. Kami di tingkat kabupaten menyiapkan personel tambahan dan dukungan peralatan apabila dibutuhkan,” ujarnya.
Tim di lapangan menyiapkan alat berat, perlengkapan penyelamatan, lampu penerangan, pompa air, dan logistik permakanan. Unsur yang terlibat meliputi BPBD Cilacap, Basarnas, BBWS Citanduy, TNI/Polri, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, UPT PUPR Majenang, Forkopimcam, perangkat desa, dan relawan setempat.

Anif menegaskan bahwa pemantauan kondisi Majenang dilakukan secara berkelanjutan. “Kami terus berkoordinasi dan memantau perkembangan situasi di Majenang. Semoga seluruh tim di lapangan diberi kekuatan dan keselamatan dalam menjalankan tugas kemanusiaan ini,” tutupnya.
Di Brebes Selatan, hujan deras yang berlangsung sejak 8 hingga 13 November memicu banjir bandang di Kecamatan Bumiayu. Pergeseran aliran Sungai Keruh akibat sedimentasi membuat air meluap ke permukiman dan merendam tiga desa, yaitu Adisana, Penggarutan, dan Kalierang.

Subkoordinator Kedaruratan BPBD Brebes, Rismanto, menyatakan bahwa perubahan aliran sungai menjadi pemicu utama. “Air naik begitu cepat. Akses jalan Adisana–Cilibur pun terputus,” katanya. Sebanyak 41 rumah terdampak dengan total 134 jiwa. Kerusakan juga terjadi pada sumber air PDAM Tirta Baribis dan empat sekolah dasar di Kalierang. Seorang warga, Haikal Alfi, meninggal dunia karena tersengat listrik dan terseret arus.
Warga Adisana merasakan langsung perubahan kondisi di lingkungan permukiman. “Arus lalu lintas di kawasan Adisana RW 03/RT 01 terganggu karena air yang mengalir dari Sungai Keruh kini melewati jalan raya Adisana–Dukuhweni,” ujar Faqih Mahtuh. Sekretaris Desa Adisana, Winny Dian, menambahkan bahwa jalur sekolah dan pekerjaan ikut terhambat. “Aliran sungai justru masuk ke permukiman RT 01 Dukuh Kweni, dekat Perumahan Jabal Mina 1. Dinding pembatas tak sanggup menahan tekanan air dan akhirnya jebol,” katanya.
Di Penggarutan, kondisi serupa dialami 28 KK dengan genangan di beberapa titik mencapai 20–50 sentimeter. Relawan KOKAM, Yohan Melani, menyebut situasi masih berat dan banyak warga membutuhkan pendampingan. Pemerintah Kabupaten Brebes mengerahkan alat berat untuk menutup tanggul jebol, mengeruk sedimentasi, dan mengembalikan alur sungai. “Tanggul yang jebol sudah kami tutup, dan aliran air dialihkan kembali agar tidak memasuki permukiman,” jelas Rismanto.
MDMC Brebes mengaktifkan Pos Koordinasi Relawan (Poskor) di Muhammadiyah Children Center PCM Bumiayu. Afghani Abduh Ridha dari LRB MDMC Brebes menjelaskan bahwa 65 personel MDMC, AUM kesehatan, ortom, dan relawan Muhammadiyah dikerahkan untuk asesmen, evakuasi, pembersihan material banjir, penyemprotan jalan, penyaluran logistik, dan pemulihan dini bersama berbagai unsur pemerintah dan organisasi masyarakat.
Pada 13 November, MDMC bersama RSU Muhammadiyah Siti Aminah Bumiayu, Klinik Pratama Aisyiyah Bumiayu, dan Klinik PKU Penggarutan membuka layanan kesehatan gratis di Kalierang, Penggarutan, dan Adisana. Layanan tersebut dimanfaatkan 210 warga. MDMC juga membagikan 300 paket sembako serta menyalurkan air bersih setelah suplai PDAM terhenti. “Warga benar-benar membutuhkan bantuan cepat. Kami bergerak secepat mungkin,” ujar relawan Muhammadiyah, Ria Utami.
MDMC Brebes mengajak AUM dan ortom untuk memperkuat konsolidasi bantuan melalui Poskor agar pemulihan berjalan efektif. Kolaborasi antara MDMC, relawan, RSU Siti Aminah, Klinik Aisyiyah, Klinik PKU Penggarutan, Lazismu, Pemerintah Kabupaten Brebes, serta organisasi kemanusiaan lain menunjukkan bahwa jaringan bantuan bergerak serempak untuk mendampingi warga hingga kondisi stabil kembali.


