JAKARTAMU.COM | Gencatan senjata di Jalur Gaza kembali dipertanyakan setelah kekerasan bersenjata menewaskan seorang remaja Palestina, Minggu (8/2/2026) petang. Insiden ini menambah daftar korban sipil, meski kesepakatan penghentian permusuhan telah diberlakukan sejak Oktober lalu.
Berdasarkan laporan medis yang dikutip kantor berita WAFA, korban bernama Mohammed al-Sarhi (16) meninggal dunia akibat tembakan pasukan Israel di kawasan tenggara Kota Gaza. “Korban mengalami luka tembak fatal dan dinyatakan meninggal dunia tak lama setelah tiba di fasilitas medis,” ujar sumber medis setempat kepada WAFA.
Peristiwa itu terjadi di sekitar Masjid Salah al-Din, lingkungan Zeitoun, wilayah yang kerap menjadi lokasi bentrokan. Kematian Al-Sarhi menambah jumlah korban pada hari yang sama. Sejak Minggu pagi, setidaknya empat warga Palestina dilaporkan tewas dalam sejumlah insiden keamanan di Gaza.
Kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada 11 Oktober 2025 belum mampu menghentikan eskalasi kekerasan. Data yang dihimpun otoritas kesehatan Palestina menunjukkan, sejak kesepakatan tersebut berlaku, 580 warga Palestina tewas dan 1.544 lainnya luka-luka. Proses evakuasi juga masih berlangsung, dengan 717 jenazah berhasil ditemukan dari bawah reruntuhan hingga saat ini.

Situasi di Gaza beriringan dengan meningkatnya ketegangan di Tepi Barat. Kabinet Israel baru-baru ini menyetujui sejumlah kebijakan yang dinilai memperdalam aneksasi de facto di wilayah pendudukan. Laporan dari Nablus hingga Tulkarm menyebutkan adanya operasi pasukan khusus, interogasi lapangan, serta penghancuran bangunan milik warga Palestina.
Di wilayah sekitar Yerusalem, otoritas setempat dilaporkan memaksa warga Palestina meruntuhkan rumah mereka sendiri. Langkah-langkah ini menuai kecaman dari negara-negara kawasan. Pemerintah Yordania secara resmi mengutuk kebijakan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan ilegal di wilayah pendudukan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai detail operasi militer yang menyebabkan tewasnya Mohammed al-Sarhi. Insiden ini kembali menunjukkan rapuhnya stabilitas keamanan di Palestina, sementara upaya diplomatik untuk meredakan konflik belum menghasilkan perubahan berarti di lapangan.


