YOGYAKARTA, JAKARTAMU.COM | Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi pengingat bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu merawat perdamaian dan persatuan. Muhammad menunjukkan kekuatan seorang pemimpin terletak pada kesabaran, keadilan, dan kemampuannya menahan diri dari konflik.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, Muhammad hadir sebagai pembawa wahyu, sekaligus pemimpin yang menghadirkan kedamaian dan persaudaraan di tengah masyarakat yang penuh konflik kala itu. Salah satu bukti yang ia sebut adalah Piagam Madinah, di mana Nabi membangun tatanan sosial-politik yang adil dan menghargai keberagaman.
Perjanjian Hudaibiyah, meski isinya tampak merugikan kaum Muslimin, tetap diterima Muhammad demi menghindarkan konflik. Keputusan tersebut, kata Haedar, menunjukkan bahwa Muhammad mengutamakan strategi damai daripada emosi sesaat. “Perjanjian Hudaibiyah adalah bukti nyata bahwa manfaat terbesar lahir dari pilihan damai, bukan dari pertikaian,” ujarnya.
Dampak perjanjian itu terbukti besar. Dakwah Islam berkembang pesat, dan akhirnya banyak kaum Quraisy yang memeluk Islam. Haedar menegaskan, dari sini umat belajar bahwa menahan diri lebih bermanfaat daripada memperturutkan konflik.

Ia juga mengingatkan peristiwa perselisihan para suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad. Dengan solusi sederhana, Nabi mengajak semua pemimpin suku mengangkat batu suci bersama, lalu beliau sendiri meletakkannya. “Teladan ini menunjukkan kebijaksanaan Nabi sebagai penengah yang menghadirkan keadilan dan menyatukan banyak pihak,” kata Haedar.
Menurutnya, nilai besar dari teladan Nabi sangat relevan bagi Indonesia yang kerap dihadapkan pada ketegangan politik dan pertarungan kepentingan. Ia menegaskan, pemimpin seharusnya mencontoh Rasulullah, yaitu tidak menjadikan jabatan sebagai alat kepentingan pribadi atau golongan, melainkan sebagai amanah untuk menghadirkan maslahat, persatuan, dan keadilan.
“Ketika pemimpin mengedepankan perdamaian, menumbuhkan kepercayaan, dan merangkul semua pihak, bangsa ini akan semakin kokoh,” tegas Haedar.
Maulid Nabi, kata Haedar, seharusnya menjadi refleksi umat Islam untuk menolak polarisasi dan konflik, serta menampilkan wajah Islam yang penuh kasih sayang. “Dengan semangat Nabi yang menyatukan, kita bisa menghadapi tantangan kebangsaan dengan arif, sekaligus meneguhkan Indonesia sebagai rumah bersama yang damai, adil, dan bermartabat,” pungkas Haedar. (*)


