JAKARTAMU.COM | Sejumlah daerah di Sulawesi, Maluku, dan Sumatera mengajukan kebutuhan ribuan kepala keluarga (KK) transmigran. Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, membutuhkan 500 KK. Halmahera Selatan, Maluku Utara, membutuhkan 300 KK. Beberapa kabupaten lain seperti Halmahera Utara, Halmahera Tengah, dan Siak juga mengajukan permintaan serupa.
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menyebut antusiasme tersebut menunjukkan bahwa transmigrasi tidak mengancam keberadaan masyarakat lokal.
“Hadirnya transmigrasi justru untuk menjaga warisan leluhur, keragaman sosial, budaya, adat, serta melindungi dan melestarikan lingkungan hidup,” ujarnya dalam Podcast Aktual Forum, Jakarta, 13 Agustus 2025.
Menurutnya, paradigma transmigrasi kini bersifat bottom up dan desentralistik. Pemerintah daerah menjadi pihak yang menentukan kebutuhan transmigran, kemudian mengajukan permohonan kepada Kementerian Transmigrasi. Permohonan tersebut akan diverifikasi, termasuk jenis lahan dan bidang usaha yang akan dikembangkan, proporsi transmigran lokal maupun dari luar daerah, serta status lahan yang harus jelas dan tidak tumpang tindih.

Sebagai contoh, Konawe Utara membutuhkan 80 persen transmigran lokal dan 20 persen dari luar daerah. “Semua kita verifikasi secara detail,” kata Viva Yoga.
Ia meminta transmigran dan warga lokal di kawasan transmigrasi menjaga komunikasi dengan tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah daerah. Jika ada masalah, warga diminta langsung berkoordinasi dengan pemerintah daerah atau Kementerian Transmigrasi. Viva Yoga juga mendorong transmigran untuk bekerja membangun kemandirian ekonomi dan menjadikan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan baru.
Untuk mempercepat hal tersebut, Kementerian Transmigrasi menjalankan program Transmigrasi Patriot. Program ini meliputi ekspedisi penelitian potensi kawasan transmigrasi dan pemberian beasiswa kepada mahasiswa dari universitas seperti UI, ITB, IPB, UGM, Undip, ITS, dan Unpad. Lulusan penerima beasiswa akan ditempatkan di kawasan transmigrasi untuk mengembangkan potensi lokal.
“Kita kirim transmigran yang memiliki keahlian. Dengan model ini, transmigrasi bukan hanya memindahkan penduduk, tetapi menjadi strategi pembangunan nasional,” ujar Viva Yoga. (*)


