MINGGU (5/10/2025) pagi, suasana ruang pertemuan lantai dua Gedung Dakwah Muhammadiyah di Kramat Raya terasa lebih hidup. Sekitar dua puluh peserta duduk dengan ponsel yang siap di tangan. Di layar proyektor, slide bertuliskan “Kolaborasi Kreatif Generasi Z untuk Media Kekinian” terpampang jelas.
Pagi itu mereka mengikuti Pelatihan Media Digital yang diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MPI PWM) DKI Jakarta. Molor sekitar satu jam dari jadwal, pelatihan berlangsung lancar. Suasana belajar terasa hidup dan saling terbuka.
Di antara wajah-wajah muda dari organisasi otonom Muhammadiyah dan pimpinan daerah se-DKI Jakarta yang jadi peserta, hadir beberapa tamu yang tidak biasa. Mereka adalah tiga peserta dari luar Muhammadiyah, salah satunya Liena Prajogi, seorang dosen non-muslim dari MNC University.
Baca juga: MPI Muhammadiyah DKI Jakarta Siapkan Lompatan Dakwah Digital

Dia datang bukan karena undangan khusus. Liena sengaja hadir lantaran tertarik untuk belajar bersama. “Ikut karena ingin tahu bagaimana Muhammadiyah bergerak di dunia digital,” ujar Liena di sela pelatihan.
Liena yang merupakan generasi ketiga keluarga pemilik toko roti Lauw Bakery di Jakarta ini mengaku penasaran dengan pendekatan dakwah Muhammadiyah dalam menghadapi arus informasi yang kian cepat.

“Saya senang karena bisa belajar sekaligus memahami lebih dekat tentang Muhammadiyah dan cara mereka mengelola pesan di media sosial,” katanya.
Liena bukanlah satu-satunya yang merasa mendapat pengalaman baru. Pelatihan ini membahas cara menghadirkan pesan keagamaan dan sosial yang menyejukkan lewat format digital seperti podcast dan vodcast. Narasumber, di antaranya praktisi media dan konten kreator, memandu peserta membuat konten yang bukan hanya menarik tetapi juga bertanggung jawab.
Baca juga: Pelatihan Media Digital MPI PWM DKI Dorong Kader Muhammadiyah Kuasai Dakwah Era Baru
Sesi yang paling berkesan bagi Liena adalah ketika Rully Nasrullah, salah satu pemateri, membahas personal branding dan pentingnya membangun kesadaran publik dengan pesan positif. “Kami diajak melihat diri sendiri sebagai ‘media hidup’ yang bisa memengaruhi orang lain. Itu menarik sekali,” ujarnya.
Bagi MPI PWM DKI Jakarta, keterlibatan peserta lintas latar belakang ini menjadi hal yang menggembirakan. Mereka melihatnya sebagai bentuk nyata keterbukaan dakwah Islam berkemajuan, yaitu menerima siapa pun untuk belajar bersama, tanpa sekat identitas.
“Tujuannya memang bukan mengislamkan orang, tapi berbagi pengetahuan tentang etika bermedia,” kata Fadhli Arsil, ketua MPI PWM DKI Jakarta.
Selama pelatihan berlangsung, suasana dialog terasa cair. Para peserta berdiskusi tentang hoaks, literasi digital, dan cara menyebarkan pesan yang menenangkan di ruang publik. Podcast dan vodcast menjadi topik favorit karena dinilai paling efektif menjangkau generasi muda. Foto bersama yang cair dan hangat menutup delapan jam yang berkesan. (*)


