Ketika Pendidikan Jadi Jihad: Perjuangan Muhammadiyah Mengangkat Martabat Umat

Must Read
Miftah H. Yusufpati
Miftah H. Yusufpati
Sebelumnya sebagai Redaktur Pelaksana SINDOWeekly (2010-2019). Mulai meniti karir di dunia jurnalistik sejak 1987 di Harian Ekonomi Neraca (1987-1998). Pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah DewanRakyat (2004), Wakil Pemimpin Harian ProAksi (2005), Pemimpin Redaksi LiraNews (2018-2024). Kini selain di Jakartamu.com sebagai Pemimpin Umum Forum News Network, fnn.co.Id. dan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah FORUM KEADILAN.

JAKARTAMU.COM | Di sebuah sore yang lengang di Yogyakarta, 1912, KH Ahmad Dahlan berdiri di depan murid-muridnya di serambi Masjid Kauman. Di hadapan mereka, ia membentangkan papan tulis. “Islam bukan sekadar wirid,” ujarnya, “tetapi amal nyata. Ilmu adalah jalan ibadah.” Kalimat itu kelak mengubah wajah pendidikan Islam di Nusantara.

Seratus tahun lebih berlalu. Gema pesan KH Ahmad Dahlan tetap terasa, menembus dinding sekolah, kampus, dan rumah sakit Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia. “Pendidikan adalah jantung Muhammadiyah,” tulis Haedar Nashir dalam Muhammadiyah dan Keindonesiaan (2015). Dari awal berdirinya, Muhammadiyah meletakkan misi besar: mencerdaskan umat yang terjerat kolonialisme dan kebodohan struktural.

Lahir dari Krisis Ilmu dan Iman

Awal abad ke-20, bangsa ini berada dalam cengkeraman penjajahan Belanda. Angka melek huruf di kalangan pribumi terpuruk, hanya 2,1 persen menurut catatan Snouck Hurgronje (dalam Politik Etis Belanda). Sementara pesantren tradisional terkungkung pada kitab kuning tanpa sentuhan ilmu umum. KH Ahmad Dahlan resah. Ia membaca ayat pertama wahyu: Iqra’—bacalah—bukan hanya kitab suci, tetapi semesta dan ilmu pengetahuan.

“Al-Qur’an bukan untuk dilantunkan semata, tapi untuk dipahami dan diamalkan,” tegasnya dalam pengajian awal pendirian Muhammadiyah (Suwarno, 2009, Sejarah Pendidikan Islam).

Milad 117 H Muhammadiyah

Dengan modal keberanian dan semangat tajdid, KH Ahmad Dahlan mendirikan sekolah yang memadukan ilmu agama dan umum. Di masa ketika pendidikan modern hanya untuk priyayi dan kaum Belanda, Muhammadiyah membuka jalan egaliter. Ia mengajarkan matematika, ilmu bumi, dan bahasa Belanda di samping fikih dan tauhid. Langkah ini mengundang tudingan bid’ah. Tapi KH Ahmad Dahlan teguh.

“Biar saya dianggap kafir, yang penting anak-anak ini pintar,” ujarnya seperti dikutip dalam K.H. Ahmad Dahlan: Jejak Pembaharu (Abdul Munir Mulkhan, 1990).

Jaringan Sekolah yang Mengguncang

Dari sebuah langgar sederhana, Muhammadiyah menjelma mesin raksasa pendidikan. Data Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2022) menyebut, organisasi ini kini mengelola lebih dari 13.000 sekolah dasar hingga menengah, 172 perguruan tinggi, dan ribuan taman kanak-kanak serta madrasah. Amal usaha ini bukan sekadar angka, tetapi jantung peradaban.

“Tanpa Muhammadiyah, sejarah pendidikan nasional akan pincang,” kata Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum Muhammadiyah, dalam Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan (2009).

Muhammadiyah bukan hanya mendirikan sekolah, tapi juga menanamkan visi kebangsaan. Kurikulum mereka meramu keislaman dan kemodernan. Konsep ini disebut Buya Syafii sebagai pribumisasi modernitas: mengadopsi sains Barat tanpa kehilangan ruh iman.

Mengisi Kekosongan Negara

Ironisnya, banyak program pendidikan Muhammadiyah lahir ketika negara absen. Pada masa Orde Lama, ketika negara sibuk berpolitik, Muhammadiyah fokus membangun SD dan SMP di pelosok. Era Orde Baru pun sama: di tengah birokrasi kaku, Muhammadiyah mendirikan universitas seperti UMY, UMJ, dan UMM yang melahirkan ribuan sarjana.

“Negara sering kali lambat menjangkau akar rumput. Muhammadiyah hadir sebagai civil society yang mengisi celah,” kata Bahtiar Effendy, pakar politik Islam, dalam Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia (1998). Inilah bukti bahwa pendidikan Muhammadiyah bukan proyek karitatif, melainkan strategi peradaban.

Melawan Arus Krisis Moral dan Disrupsi

Kini, ketika literasi digital merajalela tapi etika terkikis, peran Muhammadiyah kembali diuji. Generasi Z menghadapi banjir informasi, tapi miskin hikmah.

Haedar Nashir mengingatkan dalam bukunya Islam Berkemajuan untuk Peradaban Dunia (2021): “Tugas Muhammadiyah tidak berhenti pada mencetak sarjana, tetapi melahirkan manusia berakhlak dan berilmu.” Tantangan ini memerlukan inovasi kurikulum berbasis teknologi tanpa meninggalkan nilai tauhid.

Sejumlah sekolah Muhammadiyah telah merintis program edutech dan green education. UMY, misalnya, membangun smart campus dan mendorong riset energi terbarukan. Ini bukti Muhammadiyah tak ingin terjebak romantisme masa lalu. “Pendidikan Muhammadiyah harus menjawab krisis ekologi, sosial, dan spiritual,” ujar Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, dalam forum Tanwir 2023.

Pendidikan sebagai Amal Jariyah Bangsa

Jejak Muhammadiyah dalam mencerdaskan bangsa bukan sekadar sejarah, tapi keberlanjutan. Ia membuktikan bahwa pendidikan adalah jihad tanpa darah. Sebagaimana kata KH Ahmad Dahlan: “Jangan sekali-kali berpuas diri. Teruslah berbuat, karena amal itu hidup jika mengalir.” Pesan ini relevan ketika negeri ini masih dihantui ketimpangan pendidikan dari Papua hingga pelosok NTT.

“Jika Muhammadiyah tidak lahir, kita mungkin akan kehilangan satu kekuatan moral dan intelektual,” tulis Syafi’i Maarif. Di tengah gempuran globalisasi, Muhammadiyah berdiri di garis depan, menjaga roh Iqra’ yang dulu membakar hati KH Ahmad Dahlan.(*)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This