Senja Majapahit, Fajar Demak (4): Darah dan Perang Paregreg

Must Read

SEJARAH Majapahit tidak pernah lepas dari noda darah yang tumpah di tanahnya sendiri. Perang Paregreg yang pecah pada awal abad ke-15 menjadi luka yang paling dalam, luka yang tak kunjung sembuh, luka yang diam-diam menggerogoti jantung kerajaan hingga rapuh di ujung senja.

Perang itu bermula dari perebutan tahta antara Bhre Wirabhumi, putra selir dari Hayam Wuruk, melawan Wikramawardhana, menantu sekaligus penerus sah tahta Majapahit. Ketika Hayam Wuruk mangkat, perebutan kekuasaan yang terselubung berubah menjadi perang besar yang melibatkan dua kubu bangsawan, dua bala tentara, dan dua ambisi yang saling menelan.

Trowulan, yang dulu menjadi pusat harmoni, mendadak menjadi ladang pertumpahan darah. Sungai Brantas yang mengalir tenang berubah keruh, penuh tubuh prajurit yang gugur. Desa-desa terbakar, lumbung-lumbung padi dijarah, rakyat kecil menjadi korban atas kerakusan bangsawan yang hanya peduli pada tahta.

Perang Paregreg memang akhirnya dimenangkan oleh Wikramawardhana. Namun kemenangan itu bukanlah kebanggaan, melainkan awal keruntuhan. Majapahit kehilangan banyak prajurit, kekayaannya habis terkuras untuk perang saudara, dan wibawa kerajaannya runtuh di mata daerah taklukan. Bali, Palembang, Maluku, hingga daerah-daerah di Kalimantan mulai goyah kesetiaannya. Mereka melihat pusat Majapahit tidak lagi kokoh, melainkan rapuh dan mudah retak.

Milad 117 H Muhammadiyah

Perang itu pula yang membuka celah bagi kekuatan baru di pesisir. Saat Majapahit sibuk bertikai, pedagang Muslim semakin leluasa menanamkan pengaruhnya di pelabuhan. Para wali yang semula berdakwah dengan hati-hati, kini menemukan ruang luas untuk mengajarkan Islam, sebab rakyat sudah jenuh dengan pertikaian para bangsawan Hindu-Buddha.

Di balik semua itu, darah Perang Paregreg juga mengalir dalam diri Raden Patah. Ia mendengar cerita perang itu dari para pengikutnya, dan hatinya diliputi gejolak. “Bagaimana mungkin sebuah kerajaan yang begitu besar hancur hanya karena perebutan tahta?” pikirnya. Tetapi dari sanalah ia belajar: sebuah kekuasaan yang dibangun di atas keserakahan hanya akan berakhir dalam kehancuran.

Brawijaya V, raja terakhir yang naik takhta setelah era perang itu, mewarisi sebuah kerajaan yang sudah lemah. Ia tidak lagi memimpin dengan kewibawaan mutlak seperti leluhurnya, melainkan lebih seperti penjaga sisa-sisa kejayaan. Istana Trowulan berdiri, tetapi tak lagi gemilang. Ia seperti rumah tua yang menunggu saatnya roboh.

Namun, meski perang itu sudah usai, bayangannya masih membekas. Para bangsawan keturunan kedua belah pihak masih menyimpan dendam. Intrik tak pernah berhenti. Istana menjadi sarang bisik-bisik dan pengkhianatan. Bahkan sebagian dari mereka diam-diam mulai merapat kepada pedagang asing, menggadaikan sisa kejayaan demi kekuasaan pribadi.

Sunan Ampel pernah berkata kepada murid-muridnya, “Paregreg adalah tanda bahwa pohon besar itu sudah mulai keropos dari dalam. Jangan heran jika suatu hari pohon itu tumbang, sebab akar-akar persatuannya sudah lapuk.” Kata-kata itu membekas dalam hati Raden Patah, sebab ia tahu dirinya adalah bagian dari pohon itu, tetapi juga tunas yang akan tumbuh dari tanah bekas pohon itu tumbang.

Perang Paregreg bukan sekadar perang saudara. Ia adalah simbol, bahwa Majapahit kehilangan ruh persatuannya. Dan dari darah yang tertumpah di Brantas itu, lahirlah peluang bagi Islam untuk menumbuhkan akar-akar baru.

Ketika senja jatuh di Trowulan, denting gamelan masih terdengar. Namun di balik denting itu, gema perang Paregreg masih bergema, menjadi pengingat bahwa sebuah kejayaan bisa runtuh bukan karena musuh dari luar, melainkan karena tangan sendiri yang saling mencabik.

(Bersambung ke Seri 5 – Bayangan di Palembang)

Serangan Pesawat Nirawak di Gaza Tengah Tewaskan Dua Warga

JAKARTAMU.COM | ​Korban jiwa di jalur Gaza kembali berjatuhan. Sedikitnya dua warga Palestina dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami...

More Articles Like This