Ketika Teater Kolosal LSB Muhammadiyah DKI Jakarta Mengguncang TIM

Must Read

TEPUK tangan panjang bergema di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (4/11/2025) malam. “Hidup Soedirman!”. Adegan penutup teater kolosal bertajuk “Jenderal Soedirman: Darah Sang Surya Mengalir di Tubuh Kita”meninggalkan keheningan yang sulit dijelaskan—antara kagum, haru, dan bangga.

Prof. Dr. Agus Suradika, M.Pd., wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta yang menjadi penanggung jawab produksi menilai antusiasme penonton terhadap pertunjukan ini sangat besar. Menurut dia, drama kolosal semacam ini bukan hanya hiburan, tetapi cara efektif menanamkan nilai sejarah dan karakter kebangsaan di kalangan generasi muda.

“Sudah lima kali kami mementaskan kisah kepahlawanan ini, dan setiap kali penontonnya selalu penuh. Itu menunjukkan bahwa masyarakat merindukan tontonan yang menggugah rasa cinta tanah air,” ujarnya. 

PWM DKI Jakarta berencana untuk terus mengadakan kegiatan seni serupa setiap tahunnya. Selain drama kolosal, mereka juga mengembangkan tari Zapin dan lagu-lagu anak-anak untuk mengisi ruang budaya dan memberikan alternatif hiburan yang mendidik.

Milad 117 H Muhammadiyah

“Kami ingin anak-anak muda Muhammadiyah dan masyarakat luas merasa bangga, terinspirasi, dan terdorong untuk berkontribusi bagi bangsa,” tambah Agus. 

Pementasan ini digelar Lembaga Seni dan Budaya DKI Jakarta. Disutradarai  Prof. Imam S. Bumiayu, mengisahkan perjuangan Jenderal Soedirman dalam diplomasi dan perlawanan bersenjata mempertahankan kemerdekaan. Sekitar dua ratus pemain terlibat, termasuk tokoh-tokoh Muhammadiyah dan seniman profesional. Di panggung, adegan demi adegan bergulir cepat: pasukan gerilya berlari menembus kabut, dentuman meriam buatan menggelegar, dan narator menuntun penonton menyelami pergulatan batin sang jenderal.

Usai pertunjukan, Prof. Imam S. Bumiayu—yang juga menulis naskahnya—menyampaikan apresiasi. “Para pemain malam ini luar biasa. Mereka tidak sekadar tampil, tapi benar-benar menghayati perjuangan. Terutama pemeran Soedirman, yang bermain dengan kedalaman emosi dan keyakinan,” katanya.

Pemeran yang dimaksud adalah Dr. Akhmad H. Abubakar, M.M., Ketua PWM DKI Jakarta. Imam menilai Abubakar menjiwai setiap gerak dan dialog, menghadirkan keteguhan sang jenderal di tengah penderitaan. Seusai pementasan, ia menuturkan bahwa peran tersebut adalah bentuk pengabdian. 

“Soedirman bukan hanya tokoh militer, melainkan pemimpin moral. Melalui teater ini, kami ingin mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai. Nilai-nilai keteguhan dan pengabdian itulah yang harus kita jaga di tengah perubahan zaman,” ujar Abubakar.

Serangan Pesawat Nirawak di Gaza Tengah Tewaskan Dua Warga

JAKARTAMU.COM | ​Korban jiwa di jalur Gaza kembali berjatuhan. Sedikitnya dua warga Palestina dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami...

More Articles Like This