Kutil akhirnya tertangkap kembali di Kebon Kacang, Jakarta Pusat, menjelang pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949. Ia sempat menyamar sebagai tukang cukur. Eksekusinya dilakukan beriringan dengan eksekusi terhadap Widarta.
Jika eksekusi Kutil dilakukan aparat hukum Republik Indonesia, Widarta justru dieksekusi oleh tokoh-tokoh PKI sendiri, termasuk Sudisman—yang kemudian menjadi Sekretaris Jenderal PKI pada masa Aidit.
Sejarah mencatat, protes sosial dan perlawanan politik sering lahir dari kebebasan yang tak terkendali. Struktur pemerintahan boleh berganti rupa dan cita-cita berubah, tetapi kultur otoritarian, penindasan, dan kenikmatan atas penindasan kerap tumbuh kembali, berlindung di balik feodalisme yang munafik.
Dalam suasana kelaparan dan kebencian akibat pendudukan Jepang dan Belanda, rakyat melampiaskan ketertindasan mereka. Sasarannya paling dekat: keluarga pejabat pribumi—lurah, camat, wedana, polisi—kaum Indo di sekitar pabrik gula, serta pedagang Tionghoa.

Kekacauan bertambah parah ketika sebagian pejabat tetap mempertahankan sikap sok berkuasa. Wedana Tanjung dan Bupati Brebes, Sarimin Reksohadiprojo, menjadi contoh nyata. Sang bupati bahkan menantang angkatan muda dengan ucapan: “Mau merdeka kok modalnya hanya selembar Proklamasi.”
Baca juga: Revolusi ala Soekarno dan Potensi Konflik Kelas
Ia ditangkap dan dijebloskan ke tahanan oleh pemuda revolusioner Brebes. Beruntung, nyawanya selamat—tak seperti sejumlah lurah, camat, dan polisi lainnya.
Setelah Kutil dieksekusi dan para tokoh PKI serta nasionalis kiri mendekam di penjara, pamong praja, polisi, dan lembaga peradilan bangkit kembali. Patih Brebes yang pernah diculik bersama Sarimin bahkan sempat putus asa hingga berniat membuka warung. Tak lama kemudian, ia justru diangkat menjadi Bupati Grobogan.
Sarimin sendiri lebih beruntung. Selepas revolusi sosial, ia menjadi Gubernur Sunda Kecil (Nusa Tenggara) pada 1952–1957, setelah sebelumnya menjabat Kepala Jawatan Agraria. Semua itu terjadi setelah pengakuan kedaulatan 27 Desember 1949.
Revolusi memang suka memakan anaknya sendiri. Pergantian rezim dan kekuasaan sering berjalan tak terduga. Penguasa tetap berkuasa. Rakyat kembali menjalani hidup sebagaimana hari-hari biasa. (*)
Daftar Pustaka
- Anton Lucas. Peristiwa Tiga Daerah. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989.
- Merle Calvin Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi, 2008.


