Oleh M.Badrus Zaman*) |Dosen Teknik Sistem Perkapalan FTK-ITS,
TRANSMIGRASI, kata yang sangat familier ini biasanya membawa kita pada pada program pemindahan penduduk dari daerah padat ke wilayah yang jarang penduduknya. Tujuannya untuk mewujudkan pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui distribusi penduduk, pembukaan lapangan pekerjaan, serta pemanfaatan sumber daya alam. Definisi tersebut sudah melekat di benak kita semua.
Tetapi Namun, ada perkembangan baru yang menarik untuk disimak. Pada 25 Agustus 2025 lalu, sebanyak dua ribu peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) resmi diberangkatkan ke 154 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Acara pelepasan berlangsung di Jakarta dengan suasana meriah, dipimpin langsung oleh Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mewakili Presiden Prabowo.
Mereka merupakan utusan dari perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, seperti Unversitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Diponegoro (Undip) dan beberapa perguruan tinggi lain.

Misi mereka bukan hanya tinggal, tetapi juga melakukan riset dan pemetaan potensi ekonomi di kawasan transmigrasi. Seperti kata AHY dalam pidatonya, hasil riset ini bisa menjadi masukan berharga agar pemerintah mampu benar-benar membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Perubahan Paradigma
Kalau dulu transmigrasi sering dianggap sebagai program memindahkan warga miskin ke daerah baru (Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009), sekarang berbeda ceritanya. Menurut Menteri Transmigrasi, Iftitah Sulaiman, transmigrasi saat ini lebih diarahkan untuk membangun pusat ekonomi sekaligus membentuk peradaban baru. Yang didistribusikan bukan lagi semata penduduk dari desa-desa padat, melainkan anak-anak muda berpendidikan, para peneliti, dan calon pemimpin masa depan bangsa.
Data Kementerian Transmigrasi mencatat, Indonesia memiliki 419 kawasan transmigrasi. Dari jumlah itu, 153 kawasan masih memerlukan perhatian khusus, dan 45 kawasan ditetapkan menjadi prioritas dalam RPJMN 2025–2029. Artinya, transmigrasi kini bukan sekadar soal perpindahan, melainkan bagaimana menjadikan kawasan baru sebagai motor pembangunan yang nyata.
AHY sempat mencontohkan kawasan transmigrasi di Melolo, Sumba Timur. Daerah ini dulunya dikenal tandus, berbatu, panas, dan sulit air. Banyak orang menganggap mustahil bisa hidup layak di sana. Tapi ternyata, dengan inovasi, dukungan berbagai pihak, serta keterlibatan dunia usaha, lahan di Melolo berubah menjadi salah satu pusat perkebunan tebu yang produktif.
Kisah Melolo menunjukkan bahwa transmigrasi bisa menjadi titik lahirnya pusat-pusat ekonomi baru, asalkan ada penelitian, teknologi tepat guna, dan sinergi dari berbagai pihak. Inilah esensi transmigrasi era sekarang: bukan hanya soal menempatkan orang di wilayah baru, melainkan menjadikan daerah itu punya nilai tambah bagi bangsa.
Kolaborasi untuk Potensi Ekonomi
Supaya kawasan transmigrasi bisa berkembang, tentu dibutuhkan kerja sama lintas sektor. Pemerintah pusat, daerah, swasta, pengusaha, tokoh masyarakat, hingga akademisi harus terlibat. Infrastruktur seperti jalan, listrik, air, internet, serta energi juga harus hadir agar kawasan transmigrasi tidak hanya hidup, tetapi juga maju.
Di sinilah peran kampus sangat penting. Riset dari para mahasiswa dan akademisi bisa memberi peta jalan: sektor apa yang paling potensial dikembangkan? Apakah pertanian, perkebunan, kelautan, pariwisata, atau bahkan industri kreatif? Tanpa masukan yang tajam, program transmigrasi mudah berhenti hanya sebagai jargon pemerataan, bukan motor kemajuan.
Transmigrasi hari ini harus dilihat sebagai gerakan membangun pusat-pusat ekonomi baru Indonesia. Bukan lagi perpindahan orang semata, tapi strategi besar untuk masa depan negeri. Salam Patriot Transmigrasi! (*)
*) Penulis juga merupakan Ketua TEP Transmigrasi Tema 3 Kawasan Kobalima Timur, Malaka, NTT dan Direktur Eksekutif RISE (Research Institute Sustainable Economy)


