JAKARTAMU.COM | Muhammadiyah sejauh ini telah berhasil menunjukkan wajah terbaik sebagai organisasi Islam, yang terstruktur rapi. Meski demikian, Muhammadiyah tidak boleh berhenti bergerak sebagaimana dicontohkan pendirinya, KH Ahmad Dahlan.
Hal ini disampaikan Wakil Ketua PWM DKI Jakarta Dr Nurhadi, M.Pd, MA saat membuka Pelatihan Penggerak Pratama Persyarikatan di PDM Jakarta Utara. Dia mengungkapkan, Ahmad Dahlan telah meletakkan dasar yang kuat sehingga Muhammadiyah mampu bertahan sampai hari ini, yaitu ilmu. Karena itulah, pada dasarnya setiap kader Muhammadiyah wajib memposisikan diri sebagai penggerak persyarikatan.
”Pelatihan ini adalah terobosan yang luar biasa. Tetapi bagaimana bisa menjadi penggerak kalau yang tampil lu lagi lu lagi. Ini mesti menjadi perhatian bersama kita warga Persyarikatan, khususnya DKI Jakarta, dan lebih khusus lagi Jakarta Utara,” kata Nurhadi di hadapan jajaran PDM Jakarta utara dan 56 peserta pelatihan.
Menurut Nurhadi, daya tarik Persyarikatan akan bisa diperoleh pararel dengan kualitas keilmuan. Inilah fondasi harrakah Muhammadiyah. ”Poros peradaban itu ya ilmu,” katanya

Nuradi mengungkapkan ada tiga pilar yang menjiwai gerakan Muhammadiyah. Pertama, harrakatud dakwah. Landasan ini mendorong internalisasi secara terus menerus dan berkelanjutan bagaimana meningkatkan kualitas individu setiap kader dan warga Muhammaidyah.
”Yang kedua adalah harrakatul islamiyyah. Ini lebih bersifat eksternal, menunjukkan jati diri keislaman dan kehebatan Islam. Di sinilah letaknya liyudzhirahu ‘aladdini kullihi. Dengan apa? Tentu saja ilmu, dan satu lagi ekonomi harus menjadi alat dakwah. Ibadah mesti disokong basis ekonomi,” tutur dia.
Pilar landasan ketiga, lanjut Nurhadi, yaitu harrakatul tadjid. Bagian ini meliputi aspek purifikasi (pemurnian), yakni membersihkan ajaran Islam dari praktik-praktik yang memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadits. Aspek dinamisasi atau pembaruan (ijtihad) yakni melakukan pembaharuan dalam metode dan pendekatan Islam selaras dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.
”Saya berharap pelatihan bisa menstimulasi spirit atau ruh untuk menjadi penggerak organisasi, sehingga Muhammadiyah lebih akseptabel dan aksestabel,” tutup Nurhadi.
Sebelumnya, Ketua PDM Jakarta Utara, Lahudin, menjelaskan pelatihan ini merupakan turunan dari program pelatihan madya di tingkat wilayah. Tujuannya, menyiapkan kader yang siap menggerakkan roda organisasi Muhammadiyah secara profesional. “Intinya pelatihan ini adalah upgrade skill agar gerak organisasi lebih baik,” katanya.


