Menempatkan Anak Muda sebagai Motor Gerakan Muhammadiyah

Must Read

Oleh Mohammad Nur Rianto Al Arif  | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

SEJARAH mencatat bahwa Muhammadiyah lahir dari semangat pembaruan yang dibawa oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912. Muhammadiyah berangkat dari kesadaran untuk menjadikan Islam bukan hanya ajaran ritual, melainkan energi perubahan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan umat. Selama lebih dari satu abad perjalanannya, Muhammadiyah konsisten membuktikan diri sebagai organisasi modern yang mampu beradaptasi dengan zaman.

Namun, pertanyaan penting kini muncul yaitu siapa yang akan melanjutkan estafet gerakan besar ini di tengah perubahan zaman yang begitu cepat? Jawabannya jelas ialah anak muda.

Anak muda bukan hanya pewaris, tetapi harus ditempatkan sebagai motor, penggerak, bahkan mesin inovasi Muhammadiyah di masa depan. Tanpa keterlibatan generasi muda yang progresif, Muhammadiyah bisa kehilangan daya dorong dan terjebak pada rutinitas organisasi. Padahal, sejarah Muhammadiyah sendiri sesungguhnya lahir dari keberanian anak muda di zamannya.

Milad 117 H Muhammadiyah

Jika kita menengok ke belakang, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di usia relatif muda, penuh semangat pembaruan dan keberanian melawan arus tradisi yang jumud. Ia berani mengoreksi praktik keagamaan yang dianggap menyimpang, mendirikan sekolah modern, hingga membangun sistem filantropi Islam yang terorganisir. Itu semua lahir dari energi kepemudaan.

DNA kepemudaan ini diwariskan terus-menerus. Tak bisa dipungkiri, banyak amal usaha Muhammadiyah berdiri karena inisiatif kelompok muda yang idealis, penuh semangat, dan tak takut berinovasi. Tetapi, seiring perjalanan waktu, ada kecenderungan organisasi besar ini mulai nyaman dengan rutinitas, sehingga inovasi sering kali melambat. Di titik inilah, keberanian memberi ruang lebih besar bagi anak muda menjadi keharusan.

Generasi muda Muhammadiyah hari ini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Tantangan pertama ialah era digital dan disrupsi teknologi. Media sosial, kecerdasan buatan, dan budaya digital membentuk cara berpikir generasi muda. Muhammadiyah harus mampu menggunakan teknologi ini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga medan dakwah dan gerakan sosial.

Tantangan berikutnya ialah globalisasi dan persaingan peradaban. Anak muda Muhammadiyah berhadapan langsung dengan arus globalisasi yang membawa nilai-nilai baru, baik positif maupun negatif. Mereka harus mampu menyaring dan meneguhkan identitas Islam berkemajuan dalam pusaran global tersebut.

Tantangan ketiga ialah krisis identitas keagamaan. Generasi muda Muslim dihadapkan pada dua ekstrem yaitu konservatisme sempit atau liberalisme longgar. Di sinilah Muhammadiyah perlu meneguhkan posisi Islam berkemajuan yang moderat, rasional, dan solutif.

Tantangan keempat ialah berkenaan dengan tantangan sosial ekonomi. Anak muda menghadapi masalah pengangguran, keterbatasan akses pendidikan berkualitas, dan kesenjangan sosial. Gerakan Muhammadiyah yang memiliki jaringan luas bisa menjadi platform bagi mereka untuk berkontribusi dan menemukan solusi. Dengan kata lain, anak muda Muhammadiyah harus disiapkan bukan hanya sebagai kader organisasi, tetapi sebagai aktor perubahan sosial yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Anak muda Muhammadiyah memiliki modal besar untuk menjadi motor gerakan. Setidaknya ada tiga potensi utama. Potensi pertama ialah energi dan kreativitas yang mereka miliki. Anak muda dikenal berani mengambil risiko, terbuka pada hal baru, dan cepat beradaptasi. Potensi ini sangat cocok untuk mempercepat transformasi Muhammadiyah.

Potensi berikutnya ialah generasi muda sangat akrab dengan teknologi. Mereka bisa menjadi ujung tombak dakwah digital, mengelola media sosial, podcast, channel YouTube, hingga aplikasi dakwah dan filantropi.

Potensi ketiga ialah berkenaan dengan jaringan global yang mereka miliki. Banyak anak muda Muhammadiyah yang sudah aktif dalam forum internasional, baik akademik maupun sosial. Hal ini membuka peluang Muhammadiyah menjadi organisasi Islam dengan jejaring global yang lebih kuat.

peran anak muda tidak boleh hanya dibatasi pada dunia maya. Mereka juga harus hadir sebagai penggerak nyata dalam amal usaha Muhammadiyah. Lihatlah sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tersebar dari kota hingga pelosok desa. Banyak di antaranya masih dikelola dengan sistem lama, padahal dunia pendidikan sedang bergerak menuju digitalisasi. Di sinilah anak muda bisa menyumbangkan gagasan segar yaitu bagaimana sekolah Muhammadiyah bisa menjadi pusat pembelajaran berbasis teknologi, bagaimana kurikulumnya bisa menjawab kebutuhan zaman, dan bagaimana sekolah bisa melahirkan generasi berdaya saing global tanpa kehilangan identitas keislaman.

Demikian pula rumah sakit Muhammadiyah yang jumlahnya ratusan. Anak muda dengan latar belakang kesehatan, manajemen, maupun teknologi informasi bisa membawa inovasi. Mereka bisa memperkenalkan layanan berbasis aplikasi, manajemen data pasien yang modern, hingga strategi komunikasi publik yang lebih humanis. Dengan sentuhan anak muda, rumah sakit Muhammadiyah bisa tampil bukan sekadar sebagai institusi kesehatan, tetapi juga ikon pelayanan Islam berkemajuan yang ramah dan modern.

Namun jalan menuju perubahan tidak selalu mulus. Dalam tubuh organisasi sebesar Muhammadiyah, budaya senioritas seringkali menjadi tembok penghalang. Tidak jarang anak muda dianggap belum matang, sehingga perannya dibatasi hanya sebatas pelengkap acara atau pengisi panggung. Padahal, sejarah justru membuktikan bahwa pembaruan lahir dari keberanian memberi ruang kepada anak muda. Ahmad Dahlan pun pada masanya hanyalah seorang muda yang berani melawan arus. Jika saat itu masyarakat menutup pintu, mungkin Muhammadiyah tidak pernah lahir.

Memberi ruang berarti memberi kepercayaan. Tentu ada risiko bahwa anak muda bisa gagal atau keliru dalam mengambil keputusan. Tetapi kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses pembelajaran. Justru dengan kepercayaan itulah mereka tumbuh menjadi pemimpin sejati. Organisasi yang enggan memberi kepercayaan pada generasi muda sejatinya sedang menyiapkan kematiannya sendiri, karena tanpa regenerasi, sebuah gerakan akan berhenti bersama berakhirnya usia para pendahulunya.

Tentu, potensi besar ini harus diimbangi dengan pembinaan yang serius. Muhammadiyah tidak boleh membiarkan anak mudanya berjalan sendiri tanpa arah. Mereka perlu mentoring, pelatihan kepemimpinan, akses beasiswa, hingga wadah untuk mengembangkan diri. Ortom-ortom seperti Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, IPM, dan IMM harus dijadikan laboratorium kepemimpinan yang sesungguhnya, bukan sekadar organisasi pendamping. Dari sanalah calon-calon pemimpin Muhammadiyah masa depan ditempa.

Kita juga tidak boleh lupa bahwa anak muda Muhammadiyah adalah bagian dari generasi yang menghadapi banyak persoalan sosial-ekonomi. Mereka hidup di tengah pengangguran yang tinggi, biaya pendidikan yang terus melambung, dan persaingan global yang semakin ketat. Muhammadiyah bisa menjadi ruang bagi mereka untuk menemukan makna hidup, membangun jaringan, dan menyalurkan potensi untuk memberi manfaat. Dengan begitu, Muhammadiyah bukan hanya organisasi, melainkan rumah besar tempat anak muda bertumbuh dan mengabdi.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan Muhammadiyah, tetapi juga masa depan bangsa. Indonesia menuju 2045 membutuhkan generasi emas yang tangguh, berdaya saing, dan memiliki fondasi moral yang kuat. Muhammadiyah dengan segala amal usahanya punya peluang besar melahirkan generasi itu, tetapi syaratnya jelas yaitu anak muda harus diberdayakan sebagai motor penggerak, bukan sekadar pelengkap.

Seperti pesan KH. Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Pesan ini bukan hanya untuk generasi tua, tetapi juga untuk anak muda. Mereka harus menghidupkan Muhammadiyah dengan kreativitas, semangat, dan keberanian. Jangan sampai Muhammadiyah hanya menjadi tempat mencari posisi atau kenyamanan, melainkan harus menjadi medan perjuangan.

Muhammadiyah bukan hanya organisasi. Ia adalah gerakan peradaban. Untuk menjaga api peradaban itu tetap menyala, anak muda harus menjadi motor penggeraknya. Kita tidak bisa hanya mengandalkan semangat masa lalu. Tantangan masa depan membutuhkan energi baru. Anak muda dengan segala potensinya adalah jawabannya. (*)

Serangan Pesawat Nirawak di Gaza Tengah Tewaskan Dua Warga

JAKARTAMU.COM | ​Korban jiwa di jalur Gaza kembali berjatuhan. Sedikitnya dua warga Palestina dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami...

More Articles Like This