Menyaksikan Ketegangan dan Persaudaraan di Festival Peresean 2025

Must Read

KAMIS, 28 Agustus 2025 sore, angin senja membawa riuh sorak penonton di Taman Giri Menang, Gerung. Ribuan orang duduk berdesakan di tribun amfiteater untuk menyaksikan Festival Peresean 2025, pertunjukan budaya yang mengikat antusiasme publik sejak sepekan sebelumnya.

Salah satu pepadu, petarung Sasak, berdiri tegar di tengah arena sambil menenteng rotan (penjalin) dan perisai kulit kerbau (ende), perlengkapan yang telah digunakan sejak zaman kerajaan sebagai ujian keberanian sekaligus ritual meminta hujan dan latihan militer bagi para prajurit.

Peresean sebenarnya memiliki sejarah panjang. Tradisi ini sudah ada sejak berabad-abad lalu di kalangan masyarakat Sasak. Awalnya dipakai untuk mencari prajurit terkuat di Kerajaan Pejanggik di abad ke-18. Peserean, lalu berkembang sebagai sarana spiritual memohon hujan saat kemarau panjang. Upacara sebelum pertarungan, iringan gendang, gong, suling, bahkan alunan tempo cepat dipercaya membawa aura sakral dan dukungan magis.

Menariknya, konteks ritual dan filosofi peresean membuka lapang ke dalam: bukan hanya fisik, tapi juga batin. Pertarungan di arena merepresentasikan perjalanan hidup—luka sebagai bagian dari pengalaman, kerendahan hati dalam menerima kekalahan, dan persaudaraan sebagai hasil paling penting. Kini, peresean menjelma menjadi atraksi budaya, sarana pendidikan karakter bagi generasi muda.

Tahun ini festival ini diadakan untuk memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tema yang diangkat—Belage Pepadu Angoh, Betukah Tatu Saling Kemos—langsung menangkap selarik makna: pertarungan sakti yang menyentuh luka lalu disambung dengan senyum. Pertarungan itu bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga tentang persaudaraan. Pepadu datang dari berbagai kabupaten di Pulau Lombok, dan memperebutkan Piala Bupati Lombok Barat sekaligus hadiah total Rp26,5 juta.

Milad 117 H Muhammadiyah
Festival Peresean tahun ini dihadiri Wamentrans Viva Yoga Mauladi dan Bupati Lalu Ahmad Zaini. Foto/istimewa

Suasana menjadi lebih hidup ketika Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, hadir bersama Bupati Lalu Ahmad Zaini. Mereka tampak terpikat oleh empat ronde pertarungan generasi muda Sasak, bahkan ikut menari di arena, memberi semangat langsung kepada pepadu.

“Peresean yang ditonton sangat keras, mereka berani dan pantang menyerah,” kata Viva Yoga. Meski begitu, mereka yang terlibat sangat menjunjung tinggi nilai sportivitas. Inilah yang menjembatani pertentangan jadi harmoni. “Setelah bertarung mereka guyub bahkan saling tertawa dan jabat tangan,” ujarnya.

Bupati Lalu Ahmad Zaini mendapat apresiasi atas inisiatifnya menggelar festival ini sebagai bagian pelestarian budaya sekaligus pemacu pariwisata. Ia menyampaikan komitmennya menjadikan peresean sebagai cabang olahraga resmi dengan pedoman baku dan berharap festival ini menarik perhatian nasional dan internasional.

Lebih jauh lagi, festival skala besar seperti ini juga menjadi panggung ekonomi lokal. Pedagang UMKM, masyarakat, serta wisatawan ikut menikmati dan merasakan dampaknya. Dukungan aparat keamanan memastikan acara berlangsung tanpa gangguan, mempertegas integrasi antara pelestarian budaya dan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. (*)

Serangan Pesawat Nirawak di Gaza Tengah Tewaskan Dua Warga

JAKARTAMU.COM | ​Korban jiwa di jalur Gaza kembali berjatuhan. Sedikitnya dua warga Palestina dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami...

More Articles Like This