Oleh: Imam Bogie Yudha Swara
Duhai jiwa-jiwa yang terluka
Bangunlah berdiri tegaklah
Kau singsing lengan bajumu
Kau berjalan menyusuri
Mencari suara yang kau dengar dari kejauhan
Duhai jiwa jiwa yang terluka
Kau berjuang dalam lapar dan tangis air mata
Jangan pula kau lukai pada sesamanya
Luruskan jiwa jiwa yang terluka.
Nyanyian Revolusi kau jauhi
Benahi Negri ini
Ibu Pertiwi sudah luka.

Biarkanlah yang melukai mu
Akan juga terluka.
Karena disebrang sana.
Ada iblis yang siap menunggani luka mu.
Duhai jiwa jiwa yang terluka
Bawalah air kehidupan walau
Hanya setitik.
Karena Negri mu sedang berduka.
Dikejauhan Ibu mu menunggu.
Walau hanya secanting beras yang kau bawa dan seteguk air dari keringat mu.
IBY 03.09.025
Ulasan Jakartamu tentang isi dan makna puisi tersebut
Puisi ini merupakan seruan sekaligus penghiburan kepada mereka yang sedang mengalami penderitaan. Penyair menyapa mereka sebagai “jiwa-jiwa yang terluka” dan mengajak mereka untuk tidak tenggelam dalam kesedihan, melainkan bangkit, melangkah, dan memberi makna bagi sesama dan bagi negeri.
Gambaran penderitaan seperti lapar, tangis, dan luka menjadi simbol dari kondisi sosial yang lebih luas: masyarakat yang menderita, negara yang sedang berduka, dan Ibu Pertiwi yang sudah tidak lagi kuat memikul beban. Namun, alih-alih menyerah atau menuntut balas, penyair justru menawarkan jalan kasih, pengampunan, dan perbaikan diri.
Tersirat pula peringatan akan bahaya dendam dan amarah yang bisa ditunggangi oleh kekuatan jahat atau destruktif. Karena itu, penyair mengajak pembaca untuk menjauhi “nyanyian revolusi” yang bernuansa kekerasan, dan lebih memilih jalan damai: memperbaiki negeri dengan kerja nyata dan ketulusan hati.
Gaya Bahasa dan Struktur
Puisi ini ditulis dengan gaya liris dan naratif. Kalimat-kalimatnya sederhana namun sarat makna. Repetisi frasa “duhai jiwa-jiwa yang terluka” digunakan untuk menegaskan kepedulian dan konsistensi pesan. Pemilihan kata seperti “Ibu Pertiwi”, “air kehidupan”, dan “iblis” digunakan sebagai simbol dari bangsa, harapan, dan bahaya yang mengintai.
Tidak banyak metafora atau personifikasi rumit, namun kekuatan puisinya justru terletak pada kejujuran dan kesederhanaan. Bahasa yang digunakan mudah dicerna, namun tetap menyentuh dan menggugah rasa empati.
Pesan yang Disampaikan
Beberapa pesan utama dari puisi ini antara lain:
- Jangan saling menyakiti sesama yang sedang terluka.
- Bangkitlah dan lakukan sesuatu, sekecil apa pun, untuk negeri ini.
- Waspadai pihak-pihak yang bisa menunggangi luka dan amarah untuk kepentingan jahat.
- Jangan terjebak dalam semangat balas dendam atau kekerasan.
- Cinta, kerja keras, dan pengorbanan adalah jalan untuk memulihkan negeri.
Kesimpulannya, puisi ini adalah refleksi sosial dan moral atas kondisi bangsa yang terluka. Namun, alih-alih menebar pesimisme, penyair justru menyuarakan harapan dan mengajak pembaca untuk menjadi bagian dari pemulihan, bukan perusakan. Ini adalah karya yang sederhana, namun sarat makna dan relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. (*)


