Selat Hormuz Ditutup Lagi: Bagaimana Nasib Dua Kapal Tanker Pertamina

Dua tanker raksasa Pertamina, Pertamina Pride dan Gamsunoro, kembali tertahan di Teluk Arab setelah Iran menutup Selat Hormuz. Ketidakpastian jalur distribusi energi global ini mengancam stabilitas stok dan harga minyak domestik.

Must Read
Miftah H. Yusufpati
Miftah H. Yusufpati
Sebelumnya sebagai Redaktur Pelaksana SINDOWeekly (2010-2019). Mulai meniti karir di dunia jurnalistik sejak 1987 di Harian Ekonomi Neraca (1987-1998). Pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah DewanRakyat (2004), Wakil Pemimpin Harian ProAksi (2005), Pemimpin Redaksi LiraNews (2018-2024). Kini selain di Jakartamu.com sebagai Pemimpin Umum Forum News Network, fnn.co.Id. dan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah FORUM KEADILAN.

JAKARTAMU.COM | Harapan akan kelancaran arus logistik energi nasional kembali membentur dinding keras. Hanya berselang singkat setelah pengumuman pembukaan jalur, Selat Hormuz kembali dinyatakan tertutup bagi pelayaran internasional pada Minggu, 19 April 2026. Keputusan ini memaksa dua tanker raksasa milik PT Pertamina International Shipping (PIS), Pertamina Pride dan Gamsunoro, mematikan mesin dan tetap bertahan di perairan Teluk Arab.

Situasi di jalur sempit yang memisahkan Teluk Persia dan Teluk Oman tersebut mendadak berubah dinamis. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melalui pengumuman resminya menyebut blokade berkelanjutan oleh Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai alasan utama penguncian kembali gerbang energi dunia itu. Dampaknya langsung terasa hingga Jakarta. PIS kini harus bekerja ekstra keras menyusun rencana cadangan guna mengamankan muatan dan personel yang terjebak di zona merah tersebut.

Vega Pita, Pjs. Corporate Secretary Pertamina International Shipping, menyatakan bahwa prioritas utama perusahaan saat ini adalah keselamatan awak kapal dan keamanan aset. PIS secara rutin melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri serta otoritas berwenang untuk memantau situasi keamanan di lapangan. Kami terus memonitor secara saksama perkembangan situasi yang sangat dinamis, ujar Vega dalam keterangan tertulisnya.

Efek Domino Penutupan Jalur

Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar urusan kapal yang tertahan. Selat ini merupakan jalur vital bagi sekitar 21 juta barel minyak per hari atau setara dengan 21 persen konsumsi minyak cair dunia. Bagi Indonesia, ketergantungan pada pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah menjadikan stabilitas Hormuz sebagai faktor penentu ketahanan energi nasional.

Milad 117 H Muhammadiyah

Setiap hari keterlambatan Pertamina Pride membawa minyak mentah ringan (light crude oil) ke kilang domestik memiliki konsekuensi biaya yang besar. Selain biaya sewa kapal (demurrage) yang membengkak, ketidakpastian ini juga memicu fluktuasi harga di pasar spot. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, sebelumnya mencatat bahwa ketegangan di kawasan ini telah mengerek Indonesian Crude Price (ICP) ke level US$102,26 per barel pada Maret 2026.

Meskipun harga minyak Brent sempat turun ke level US$88 per barel saat selat dibuka singkat pada Sabtu lalu, penutupan kembali oleh IRGC pada Minggu diprediksi akan mengembalikan tekanan pada harga global. Iran memberikan peringatan keras bahwa mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh. Pernyataan Angkatan Laut IRGC yang dilansir BBC menegaskan bahwa kapal yang melanggar blokade akan menjadi target operasi militer.

Anatomi Konflik dan Dialektika Diplomasi

Penyebab tertahannya tanker Indonesia ini berakar pada gesekan antara Teheran dan Washington yang tak kunjung reda. Iran merasa blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat merupakan bentuk perang ekonomi yang harus dibalas dengan kontrol ketat atas jalur navigasi internasional. Sebaliknya, Amerika Serikat berdalih langkah tersebut diperlukan untuk menekan pengaruh nuklir dan militer Iran di kawasan.

Secara teoretis, apa yang terjadi di Hormuz merupakan manifestasi dari konsep Realpolitik dalam hubungan internasional. Hans Morgenthau dalam Politics Among Nations (1948) menyebutkan bahwa kepentingan nasional diidentikkan dengan kekuasaan. Dalam hal ini, Selat Hormuz digunakan Iran sebagai instrumen kekuasaan untuk menekan balik kekuatan Barat. Indonesia, yang berpegang pada prinsip bebas aktif, terjepit di antara dua kepentingan besar ini.

Keberhasilan atau kegagalan kepulangan Pertamina Pride dan Gamsunoro sangat bergantung pada efektivitas diplomasi “pintu belakang” yang dijalankan Kementerian Luar Negeri RI. Indonesia harus mampu meyakinkan Teheran bahwa muatan minyak mentah tersebut murni untuk kepentingan domestik dan tidak terkait dengan dinamika perseteruan Iran dengan pihak ketiga.

Passage Plan dan Mitigasi Risiko

Di internal Pertamina International Shipping, tim operasional kini disibukkan dengan penyusunan passage plan atau perencanaan pelayaran yang aman. Rencana ini mencakup identifikasi titik koordinat yang paling minim risiko, sistem komunikasi darurat, hingga koordinasi dengan perusahaan asuransi maritim. Penutupan selat secara mendadak menunjukkan betapa rapuhnya rantai pasok energi jika hanya bergantung pada satu jalur.

PIS menegaskan bahwa mereka tidak akan mengambil risiko dengan memaksakan kapal melintas selama instruksi dari otoritas berwenang menyatakan kondisi belum kondusif. Langkah ini sejalan dengan prinsip manajemen risiko korporasi di mana keselamatan jiwa pelaut berada di atas target distribusi logistik. Vega Pita menambahkan bahwa perencanaan matang tetap disiapkan agar saat situasi membaik, kapal bisa segera angkat sauh tanpa penundaan tambahan.

Dilema Ketahanan Energi Nasional

Tertahannya Pertamina Pride dan Gamsunoro memberikan pelajaran pahit bagi kebijakan energi Indonesia. Ketergantungan pada satu wilayah yang rawan konflik seperti Timur Tengah membuat ketahanan energi nasional menjadi sangat rentan. Pakar energi dari berbagai lembaga riset seringkali menyarankan agar pemerintah mempercepat diversifikasi sumber impor minyak mentah dan memperkuat stok cadangan strategis nasional (strategic petroleum reserve).

Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih dari satu bulan, pemerintah mungkin harus melakukan penyesuaian anggaran subsidi energi akibat lonjakan ICP yang tidak terduga. Hal ini akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat di dalam negeri. Oleh karena itu, kepulangan dua tanker ini bukan hanya ditunggu oleh manajemen Pertamina, tetapi juga oleh otoritas fiskal di Lapangan Banteng.

Saat ini, mata dunia dan Jakarta terus tertuju pada radar navigasi di Teluk Arab. Nasib Pertamina Pride dan Gamsunoro kini bergantung pada meredanya ketegangan antara IRGC dan armada Amerika Serikat. Selama sauh belum diangkat, ketidakpastian akan terus membayangi meja-meja pengambilan keputusan ekonomi di Indonesia. (*)

ISKI Ingatkan AI Dapat Mengaburkan Informasi, Kepercayaan Publik Terancam

JAKARTAMU.COM | Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membuat batas antara informasi benar dan palsu semakin sulit dibedakan. Kondisi itu...

More Articles Like This