JAKARTAMU.COM | Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi membuka peluang pengembangan kembali program sukunisasi di kawasan transmigrasi. Program serupa pernah dijalankan pada 1995 dan dinilai relevan untuk mendukung diversifikasi serta ketahanan pangan.
Hal itu disampaikan Viva Yoga saat menerima audiensi Yayasan Sukun Nusantara Sejahtera di Gedung C Kompleks Kantor Kementerian Transmigrasi, Kalibata, Jakarta, Senin, 24 Februari 2026.
“Pada 1995 Departemen Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan pernah memiliki program sukunisasi. Dengan kehadiran Bapak-Ibu, program itu kembali diingatkan dan perlu dikaji untuk kemungkinan dikembangkan lagi di kawasan transmigrasi,” ujar Viva Yoga.
Baca juga: Viva Yoga Targetkan Kawasan Transmigrasi Jadi Pusat Pertumbuhan UMKM

Program budidaya sukun tersebut dijalankan pada masa Menteri Transmigrasi Siswono Yudo Husodo periode 1993–1998. Saat itu, dilakukan uji coba penanaman pohon sukun di pekarangan rumah warga di sejumlah kawasan transmigrasi.
Dalam pertemuan tersebut hadir Ketua Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Bisnis Yayasan Sukun Nusantara Sejahtera Joediantoro, Sekretaris Umum Riyan Sumindar, serta sejumlah pengurus yayasan lainnya.
Viva Yoga menyebut tanaman sukun memiliki sejumlah keunggulan. Sukun dapat tumbuh di berbagai jenis lahan, relatif tidak memerlukan pupuk dan pestisida pada masa tanam, menjadi sumber karbohidrat setara beras, serta memiliki nilai ekonomi.
“Saya setuju untuk kembali menanam sukun karena mendukung diversifikasi pangan. Sukun merupakan tanaman pangan masa depan,” katanya.
Kementerian Transmigrasi saat ini memiliki 154 kawasan transmigrasi yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Berbagai komoditas dikembangkan di kawasan tersebut, antara lain padi, jagung, singkong, porang, ubi, dan sagu. Selain itu terdapat pengembangan tanaman industri perkebunan, perikanan, serta sektor wisata.
Baca juga: Buah Manis Transmigrasi di Kuamang Kuning Jambi
Menurut Viva Yoga, budidaya sukun di kawasan transmigrasi masih terbatas. “Komoditas sukun belum banyak dibudidayakan masyarakat. Ada, tetapi belum menjadi program. Masih bersifat personal,” ujarnya.
Ia menilai penanaman sukun dapat mendukung upaya swasembada pangan. “Sukun bisa menjadi makanan pengganti nasi dan sumber karbohidrat. Sukun dapat menjadi salah satu alternatif pangan,” kata dia.
Viva Yoga juga mempersilakan yayasan untuk menimbang lokasi pengembangan sukun hingga tahap industrialisasi di kawasan transmigrasi. Produk olahan sukun dinilai memiliki potensi pasar, mulai dari tepung, makanan ringan, beras analog, produk bayi dan balita, mi instan, hingga pakan ternak.
Ia menambahkan, pengembangan komoditas baru membutuhkan sosialisasi yang konsisten kepada masyarakat dan kementerian terkait. Ia mencontohkan kelapa sawit yang pada awalnya belum banyak dikenal manfaat dan nilai ekonominya, tetapi kemudian berkembang menjadi salah satu penopang ekonomi.
“Ke depan masyarakat juga akan memilih sukun sebagai komoditas unggulan,” ujar Viva Yoga.


