Abdul Mu’ti: Isra Mikraj Mengajarkan Sabar, Derma, dan Konsistensi Salat

Must Read

JAKARTAMU.COM | Peristiwa Isra Mikraj dipahami sebagai sumber nilai dasar yang membentuk keteguhan Nabi Muhammad SAW dalam melanjutkan dakwah. Dari peristiwa itu, lahir pelajaran tentang kesabaran, kedermawanan, dan konsistensi dalam menegakkan shalat sebagai fondasi kemenangan.

“Isra Mikraj adalah peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Rasulullah. Dari sanalah beliau memperoleh kekuatan spiritual untuk melanjutkan dakwah,” ujar Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti saat memberikan sambutan pada peringatan Isra Mikraj di Masjid At-Thalibin, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Senin (19/1/2026).

Mu’ti menyampaikan sambutan singkat sebelum tausiah utama yang disampaikan Ustadz Das’ad Latif. Ia menegaskan tidak akan menyampaikan ceramah panjang. “Saya tidak akan memberikan tausiah. Yang inti nanti Ustadz Das’ad Latif yang akan menguraikan hikmah Isra Mikraj,” katanya, disambut tawa jamaah.

Dalam sambutannya, Mu’ti menguraikan tiga makna utama Isra Mikraj. Pertama, Isra Mikraj terjadi pada masa Rasulullah berada dalam kondisi duka mendalam. Ia menyebut sejumlah ahli sejarah menempatkan peristiwa itu pada tahun ke-11 kenabian, setelah Rasulullah kehilangan dua sosok penting pendukung dakwahnya.

Milad 117 H Muhammadiyah

“Dua orang yang sangat dicintai Rasul wafat pada tahun ke-10 kenabian, yaitu Abu Thalib dan Khadijah. Periode itu dikenal sebagai ‘amul huzni’ atau tahun dukacita,” ujar Mu’ti.

Abu Thalib, paman Nabi, disebutnya memiliki peran besar dalam melindungi dan membela Rasulullah, meski dalam sejumlah riwayat disebut tidak memeluk Islam hingga akhir hayatnya. Tidak lama berselang, Rasulullah juga kehilangan Khadijah, istri yang setia mendampingi dakwah sejak awal, termasuk dengan dukungan moral dan materi.

Mu’ti melanjutkan, setahun setelah Isra Mikraj, Rasulullah diperintahkan hijrah dari Makkah ke Yasrib. Keputusan itu bukan perkara ringan karena ancaman dan tekanan dari kaum kafir Quraisy. Namun, Rasulullah tetap melangkah. “Itu menunjukkan kekuatan spiritual yang lahir setelah Isra Mikraj,” katanya.

Makna kedua, menurut Mu’ti, adalah keterkaitan erat antara salat dan kesabaran. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 153 tentang perintah memohon pertolongan kepada Allah melalui sabar dan salat. “Salat menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi tekanan dan ujian,” ujarnya.

Ia juga menyinggung hubungan salat dengan kedermawanan. Dalam Surah Ibrahim ayat 31, shalat disebut berdampingan dengan perintah berinfak, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. “Karena itu, orang yang menjaga shalat biasanya juga terdorong untuk berderma,” kata Mu’ti, seraya menyinggung kebiasaan kotak amal yang diedarkan di masjid selepas salat.

Makna ketiga yang disampaikan adalah hubungan salat dengan kemenangan. Mu’ti mengutip Surah Al-Mu’minun tentang orang-orang beriman yang beruntung, yaitu mereka yang khusyuk dalam salat. “Kemenangan itu dilekatkan pada kualitas shalat,” ujarnya.

Mu’ti berpesan agar nilai-nilai tersebut diterapkan dalam pendidikan keluarga dan sekolah. Ia mengutip Surah Thaha ayat 132 tentang perintah mendirikan salat dan bersabar dalam menjalankannya. “Generasi yang beriman dan bertakwa adalah bagian dari tujuan pendidikan nasional,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti didampingi Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat serta Fajar Riza Ul Haq menyerahkan beasiswa semester genap tahun pelajaran 2025–2026 kepada 30 putra-putri karyawan Kemendikdasmen.

ISKI Ingatkan AI Dapat Mengaburkan Informasi, Kepercayaan Publik Terancam

JAKARTAMU.COM | Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membuat batas antara informasi benar dan palsu semakin sulit dibedakan. Kondisi itu...

More Articles Like This