Oleh Miftah H. Yusufpati
HARI-hari Nenden akhirnya ada di Tanah Abang, sebuah kawasan yang denyutnya tak pernah benar-benar tidur. Pagi datang bersama bunyi besi pintu toko yang digeser, teriakan porter menawarkan jasa, dan langkah-langkah cepat pedagang yang menghitung waktu dengan kalkulator batin masing-masing. Di Blok A, tempat pakaian jadi berjejer seperti barisan warna yang tak habis dibaca mata, Nenden belajar membaca dunia baru: dunia dagang yang keras namun memberi peluang bagi siapa pun yang tekun.
Pada awalnya, Nenden membawa Nabila ke toko. Ia tak sendiri. Di Tanah Abang, banyak pedagang yang melakukan hal serupa—anak-anak kecil duduk di sudut toko, bermain dengan gulungan plastik atau kardus bekas, tumbuh di antara tumpukan kain dan percakapan harga. Bagi Nenden, ini bukan sekadar solusi sementara; ini adalah cara bertahan yang manusiawi. Dalam sosiologi kerja, kondisi ini dikenal sebagai family embedded labor—ketika keluarga menjadi bagian dari ekosistem ekonomi, bukan beban yang harus disingkirkan.
Di toko itu, sudah ada Khairul, lelaki muda yang cekatan dan ramah. Ia sepupu Andrinov, dan mengerti seluk-beluk barang: dari kualitas benang, pola jahitan, hingga musim yang menentukan warna apa yang laku. Khairul sering menggendong Nabila, mengajaknya bermain sambil menghitung stok. “Ini namanya belajar dagang dari kecil,” katanya suatu hari sambil tersenyum. Nenden tersenyum balik—ia tahu, pengetahuan tak selalu datang dari bangku sekolah.

Hari demi hari, Tanah Abang mengajarkan Nenden sesuatu yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya: jaringan. Ia belajar menyapa pemasok, mencatat nomor, menimbang risiko kredit, dan memahami margin. Ia belajar bahwa dalam ekonomi mikro, keuntungan bukan hanya soal selisih harga, tetapi kecepatan perputaran barang. Adam Smith pernah menulis tentang division of labor; Nenden melihatnya hidup di hadapannya—setiap orang tahu perannya, dan pasar bergerak karena itu.
Andrinov beraktivitas seperti biasa: lima belas hari di Jakarta, lima belas hari di Malaysia. Bisnis lintas negara itu menyita waktu dan tenaga. Ia rutin menyambangi Nenden di rumah kontrakan di Kebon Pala, Tanah Abang—rumah sederhana yang kini menjadi simpul baru hidup Nenden. Kunjungan-kunjungan itu selalu terjaga batasnya. Nenden menyuguhkan kopi, kadang pisang goreng, dan percakapan mengalir pada hal-hal praktis: tren kain, pemasok baru, fluktuasi harga dolar yang memengaruhi impor.
Andrinov menjelaskan dengan sabar dan rinci. Ia bicara tentang risiko stok mati, tentang pentingnya cash flow, tentang etika berdagang yang membangun kepercayaan jangka panjang. Nenden mendengarkan dengan seksama. Dalam hatinya, tekad tumbuh: suatu hari ia akan memiliki toko sendiri. Bukan karena ambisi kosong, melainkan karena kemandirian adalah bentuk ibadah yang sunyi. Imam Al-Ghazali menulis bahwa bekerja untuk mencukupi diri dan keluarga adalah bagian dari menjaga kehormatan jiwa (hifz al-nafs).
Namun kegelisahan manusia tak selalu tunduk pada teori. Ada hari ketika Andrinov datang lebih larut, sebelum pulang ke Cibubur. Di ruang tamu yang sederhana, kipas angin berputar pelan. Nenden baru saja menidurkan Nabila. Andrinov berdiri di dekat pintu, menatap perempuan yang telah mengubah ritme hidupnya itu.
Tiba-tiba, tangannya menyentuh pundak Nenden.
“Kapan kita menikah?” tanyanya, suara itu terdengar rapuh.
Tubuh Nenden bergetar. Ia melangkah setengah langkah menjauh, menjaga jarak yang selama ini ia rawat.
“Abang nggak boleh begini,” ujarnya lembut namun tegas.
“Abang sudah nggak kuat,” Andrinov menghela napas. Kejujuran itu telanjang, tetapi bukan alasan.
“Abang masih punya istri,” kata Nenden, menatap lurus. “Silakan Abang urus dulu, kalau memang Abang serius.”
“Kita nikah siri saja,” desak Andrinov. Kalimat itu melayang seperti jalan pintas.
Nenden diam sejenak. Ia tahu, administrasi pernikahan kedua memang rumit—izin istri pertama, proses hukum, dan konsekuensi sosial. Ia tidak menutup diri pada kemungkinan menjadi istri kedua; dalam fikih, poligami diizinkan dengan syarat keadilan yang berat. Ibn Taymiyyah mengingatkan, sesuatu yang halal bisa menjadi haram jika melahirkan kezaliman. Di titik ini, Nenden tidak ingin madu yang manis berubah pahit karena kelalaian prinsip.
“Kita menikah di Cipayung saja kalau begitu,” ucap Nenden akhirnya. “Sesuai kaidah agama. Ada ustaz yang biasa menikahkan poligami, dengan saksi dan dokumen. Biar jelas.”
Andrinov terdiam, lalu mengangguk. Kesepakatan itu bukan penyerahan, melainkan penegasan batas. Dalam psikologi moral, keputusan seperti ini disebut principled restraint—menunda kepuasan demi nilai yang lebih tinggi.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang lebih hati-hati. Nenden tetap bekerja, belajar, dan merawat Nabila. Andrinov menata urusan-urusannya. Tanah Abang tetap ramai, Kebon Pala tetap sederhana, dan Cipayung menunggu seperti akar yang tak putus menyuplai makna.
Di antara tumpukan kain, kopi yang mendingin, dan doa-doa yang dipanjatkan dalam sunyi, Nenden memahami satu hal: hidup jarang memberi pilihan yang bersih. Kebaikan sering datang bersama ujian. Dan menjaga diri—di dunia yang terus menawar—adalah jihad paling sunyi.
Seperti kata Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, “Hati akan terus diuji, hingga ia memilih—kepada siapa ia bergantung.”
Dan Nenden memilih untuk bergantung pada prinsip: melangkah pelan, bekerja sungguh-sungguh, dan tidak mengkhianati dirinya sendiri—agar madu yang ia cicipi kelak, meski pahit di awal, berbuah kematangan.
***


