Oleh Andy Hadiyanto | Dosen UNJ dan Ketua Umum Asosiasi Dosen PAI se-Indonesia
AL-QUR’AN oleh Imam al-Ghazali digambarkan sebagai samudera yang meliputi segalanya. Ia luas, dalam, dan berlapis, sehingga tidak mungkin ditangkap hanya dengan sekali pandang. Metafora nan indah ini menjadi peringatan serius tentang cara manusia berinteraksi dengan wahyu. Banyak orang merasa telah “selesai” dengan Al-Qur’an karena khatam bacaan atau hafal dalil. Padahal, membaca Al-Qur’an baru awal perjalanan, bukan tujuan. Samudera tidak ditaklukkan dengan berjalan di tepi. Ia menuntut keberanian untuk menyelam dan kesiapan untuk berubah.
Dalam samudera selalu ada perbedaan antara permukaan dan kedalaman. Permukaan mudah dijangkau oleh siapa pun, sementara kedalaman menuntut usaha, risiko, dan kesiapan batin. Demikian pula Al-Qur’an memiliki makna lahir yang dapat diakses semua orang, dan makna batin yang mengarahkan hidup. Kesalahan fatal terjadi ketika seseorang berhenti di permukaan lalu mengklaim telah sampai. Al-Ghazali menyindir kondisi ini sebagai berjalan di pantai sambil mengaku menguasai laut. Akibatnya, Al-Qur’an ramai dibicarakan, tetapi sepi dihayati.
Kritik al-Ghazali tertuju pada religiositas yang penuh aktivitas namun miskin transformasi. Ilmu bertambah, tetapi kerendahan hati tidak lahir. Dalil melimpah, tetapi kepekaan sosial mengering. Kesalehan tampil sebagai simbol, bukan sebagai akhlak. Inilah ilmu yang tidak memberi manfaat, karena tidak mengubah orientasi hidup. Bahaya terbesar Al-Qur’an bukan disalahpahami, melainkan dibaca tanpa menyentuh jiwa. Ketika wahyu berhenti di pikiran, ia kehilangan daya hidupnya.

Tujuan utama Al-Qur’an, menurut al-Ghazali, adalah mengundang manusia menuju Allah. Namun undangan ini sering disalahartikan. Banyak orang mengira yang dituju adalah amal, hukum, atau surga. Padahal semua itu hanyalah jalan, bukan tujuan. Ketika tujuan tidak jelas, agama mudah berubah menjadi transaksi atau identitas kosong. Al-Qur’an sejak awal ingin meluruskan arah, bukan sekadar menambah beban ritual. Orientasi inilah yang menentukan kualitas seluruh perjalanan keberagamaan.
Allah sebagai tujuan undangan tidak dikenalkan secara instan. Al-Qur’an mendidik manusia mengenal-Nya secara bertahap. Pengenalan pertama adalah kesadaran akan Zat Allah yang tak terjangkau oleh akal dan bahasa. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati, bukan kepastian intelektual. Pada tahap ini, manusia belajar berhenti mengklaim dan mulai tunduk. Semakin seseorang merasa mengenal Tuhan secara mutlak, justru semakin jauh ia dari hakikat pengenalan itu.
Tahap berikutnya adalah pengenalan sifat-sifat Allah. Di sini iman menuntut perwujudan nilai dalam kehidupan. Mengenal Allah Yang Maha Pengasih semestinya melahirkan kasih sayang. Mengenal Allah Yang Maha Adil semestinya melahirkan keadilan. Jika sifat-sifat ilahiah hanya berhenti sebagai pujian lisan, maka ma‘rifat belum berbuah. Pada tahap ini agama keluar dari ruang privat dan masuk ke ruang sosial. Iman mulai diukur dari dampaknya bagi manusia lain.
Pengenalan selanjutnya adalah kesadaran akan perbuatan Allah dalam realitas. Alam, sejarah, dan kehidupan sosial dipahami sebagai ruang amanah, bukan alasan untuk pasrah. Al-Ghazali menolak fatalisme yang menjadikan Tuhan sebagai pembenaran kemalasan dan ketidakadilan. Justru dengan mengenal perbuatan Allah, manusia dipanggil untuk bertanggung jawab. Tawakal tidak mematikan ikhtiar, dan iman tidak menghapus keberanian moral. Keberagamaan diuji dalam sejarah, bukan hanya dalam wacana.
Dari rangkaian pengenalan inilah lahir jalan suluk. Suluk bukan pelarian dari dunia, tetapi penataan arah hidup. Ia adalah konsistensi berjalan menuju Allah dalam keseharian. Suluk menuntut keselarasan antara niat, perilaku, dan relasi sosial. Orang yang benar dalam suluk tidak sibuk menampilkan kesalehan, tetapi sibuk menjaga agar kehadirannya tidak menyakiti siapa pun. Jalan ini mungkin berat, tetapi jelas arahnya.
Suluk pada akhirnya melahirkan keadaan tertentu ketika manusia berjumpa dengan hasil hidupnya. Surga dan neraka dipahami bukan hanya sebagai tempat, tetapi sebagai keadaan. Surga adalah ketenangan dan keselarasan yang lahir dari hidup yang tertata. Neraka adalah kegelisahan dan keterasingan akibat hidup yang rusak orientasinya. Akhirat bukan kejutan mendadak, melainkan penyingkapan dari apa yang telah dibangun sepanjang hidup. Manusia berjumpa dengan dirinya sendiri dalam bentuk paling jujur.
Di titik ini tampak jelas perbedaan antara orang yang menempuh jalan dan yang menyimpang. Yang menempuh jalan, meski tidak sempurna, hidup dengan arah yang jelas dan batin yang relatif tenang. Yang menyimpang sering kali tampak sibuk dan religius, tetapi gelisah dan reaktif. Yang satu menjadi kehadiran yang menenangkan, yang lain menjadi sumber ketegangan. Perbedaan ini bukan soal label, melainkan orientasi hidup yang dijalani.
Akhirnya, Al-Qur’an sebagai samudera menuntut keberanian untuk menyelam. Ia menguji apakah manusia hanya ingin aman di tepi atau siap berubah demi mutiara. Jalan menuju Allah bukan jalan klaim, melainkan jalan pembenahan diri. Semakin dekat seseorang kepada tujuan undangan Al-Qur’an, semakin kecil egonya dan semakin besar manfaatnya bagi manusia. Di situlah iman menemukan bentuknya yang paling jujur dan paling manusiawi. (*)


