JAKARTAMU.COM | Perang terbuka antara Iran melawan Israel bersama Amerika Serikat (AS) yang dimulai pada 28 Februari lalu telah berlangsung selama dua pekan. Iran mungkin lebih menderita akibat besarnya korban jiwa dan kerusakan fisik. Tetapi AS dan Israel tak bisa bertepuk dada karena biaya yang mereka keluarkan jauh lebih besar, menimbulkan tekanan politik dalam negeri.
Fakta bahwa perang masih berlangsung hingga hari ini juga menumbangkan sesumbar Presiden AS Donald Trump yang awalnya percaya diri bisa menyelesaikan perang dalam waktu singkat. Tujuannya tidak lain menggulingkan pemerintahan sebagaimana pernah dilakukan pada negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah, dan terakhir Venezuela di Amerika Selatan.
Setelah berhasil membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dengan mengirim 30 rudal ke kompleks kantornya, AS-Israel “membakar” kelompok oposisi untuk turun ke jalan, berharap ada gerakan people power untuk menumbangkan pemerintahan Revolusi Iran. Tetapi yang terjadi, alih-alih dapat memaksakan perubahan rezim Iran, AS-Israel malah dibuat kerepotan dengan serangan balasan yang langsung datang bertubi-tubi. Operasi Janji Sejati 4 oleh militer Iran telah mengagetkan dua sekutu itu.
Selama 13 hari peperangan, Iran tampak menanggung dampak fisik paling besar—korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan perpindahan penduduk. Data korban menunjukkan perbedaan paling jelas pada dampak langsung perang. Kompilasi laporan diplomatik Iran, lembaga internasional, dan media seperti Reuters menyebut korban tewas di Iran melampaui 1.200 orang sejak awal serangan.

Baca juga: Ribuan Warga Iran Tumpah Ruah Dukung Pemimpin Baru Ayatollah Mojtaba Khamenei
Ribuan orang lainnya terluka, sementara kerusakan infrastruktur meliputi pangkalan militer, fasilitas energi, dan sejumlah instalasi strategis. Serangan udara yang berlangsung berulang kali juga memicu perpindahan penduduk di beberapa wilayah. Perkiraan lembaga kemanusiaan regional menunjukkan ratusan ribu hingga jutaan warga di kawasan konflik terdampak pengungsian atau evakuasi.
Israel mengalami korban yang jauh lebih kecil. Kementerian Kesehatan Israel melaporkan belasan orang tewas dan lebih dari 2.700 orang terluka akibat serangan rudal dan drone Iran. Kerusakan bangunan terjadi di sejumlah kota, terutama pada fasilitas sipil dan kawasan industri. Meski demikian, dampak fisik perang di wilayah Israel relatif terbatas dibandingkan kerusakan yang terjadi di Iran.
Opsi Serangan Darat yang Ditunggu Iran
Tapi lihat di sisi lain. Faktanya biaya operasi militer yang harus dikeluarkan AS dan Israel melonjak jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan banyak pihak, termasuk sebagian kalangan di Partai Republik yang biasanya mendukung kebijakan militer Washington.
Operasi militer yang dijalankan Washington kali ini menghabiskan dana dalam skala yang sangat besar. Laporan CNN menyebut enam hari pertama saja, operasi militer AS di Iran sudah memakan biaya sekitar USD11,3 miliar atau sekitar Rp187 triliun. Sementara perang sudah berlangsung dua pekan. Sebagian besar pengeluaran berasal dari penggunaan amunisi presisi, operasi kapal induk, sistem pertahanan rudal, dan logistik militer skala besar di Timur Tengah.
Menurut CNN, hal ini diketahui setelah Pentagon mengatakan kepada anggota parlemen AS dalam sebuah pengarahan tertutup pada hari Selasa (10/3/2026. Ini memantik reaksi keras senator dari Partai Republik Lisa Murkowski. Dia mengecam penanganan perang oleh Trump. Dia menuntut sidang publik lantara pesan yang campur aduk dari pemerintah menyebabkan kebingungan.
Baca juga: CNN: Sekolah Perempuan di Minab Kemungkinan Besar Dihantam Rudal Tomahawk AS
Israel juga menghadapi biaya tinggi. Lembaga riset ekonomi di Israel memperkirakan pengeluaran militer mencapai sekitar USD200 juta per hari. Biaya ini terutama berasal dari operasi jet tempur serta sistem pertahanan udara berlapis seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow yang digunakan untuk mencegat rudal Iran. Setiap intersepsi rudal dapat menghabiskan puluhan ribu hingga ratusan ribu dolar.
Iran mengalami kerusakan fisik paling berat karena wilayahnya menjadi sasaran utama serangan udara. Namun secara finansial, konflik ini menuntut pengeluaran yang jauh lebih besar dari pihak Amerika Serikat dan Israel. Iran banyak menggunakan drone dan rudal yang relatif lebih murah, sementara sistem pertahanan dan serangan presisi yang digunakan Washington dan Tel Aviv membutuhkan biaya sangat tinggi.
Sampai hari ini, Iran masih mampu mengimbangi serangan rudal AS-Israel, juga perang opini media massa. Yang tidak kalah penting, Selat Hormuz, jalur paling penting pasokan energi ke berbagai penjuru Eropa dan bagian dunia lain masih dalam penguasaan Iran. Militer Iran tak melepas satu pun kapal tanker kecuali negara pemiliknya mengusir duta besar AS dan Israel.
Tampaknya, klaim Trump bahwa perang bisa segera diselesaikan dalam waktu dekat telah patah. Tenggat baru yang dipatok Trump selama 100 hari juga banyak yang meragukan. Para analis umumnya sependapat bahwa untuk sampai ke sana, AS dan Israel mesti melakukan serangan darat. Sayangnya, itulah yang konon memang ditunggu-tunggu Iran yang menerapkan sistem pertahanan berlapis. Masyarakat AS pun bersuara lantang agar Trump tidak mengirim pasukan darat hanya untuk terkubur di tanah Iran. (*)


