JAKARTAMU.COM | Tahun 1527 adalah sebuah simpul sejarah di Asia Tenggara. Di Jawa, pasukan Demak menyerbu pedalaman Majapahit, menandai keruntuhan kerajaan Hindu terakhir di pulau itu. Di Mekah, seorang penyair Melayu yang dikenal sebagai Hamzah al-Fansuri kemungkinan wafat, meninggalkan syair-syair sufistik yang kelak mengguncang tradisi Islam Nusantara.
Di laut, Portugis masih berusaha mencengkeram Malaka, tetapi di seberang samudra, Kesultanan Utsmani mulai menunjukkan minat pada kawasan yang jauh dari Istanbul ini.
Sejarawan Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam (Princeton University Press, 2011; terjemahan Indonesia, Sejarah Islam di Nusantara, 2015) menyebut momen ini sebagai pergeseran besar: dari dominasi Malaka ke kebangkitan Aceh, dari narasi Wali Sanga ke munculnya literatur sufistik Melayu, dan dari hegemoni Iberia ke harapan pada perlindungan Utsmani.
Dari Malaka ke Aceh
Penaklukan Malaka oleh Portugis pada 1511 meruntuhkan ambisi kota itu sebagai pusat intelektual Islam. Tapi di balik runtuhnya Malaka, muncul bandar-bandar baru yang siap mengambil keuntungan. Aceh, di ujung utara Sumatra, menjadi penerusnya.

Dengan cepat Aceh memperluas wilayah, mengorbankan Samudra Pasai, yang sebelumnya menyuplai cendekiawan ke Malaka. Dalam waktu singkat, istana Aceh menjadi poros perdagangan sekaligus panggung perebutan legitimasi keagamaan.
Hamzah al-Fansuri dan Samudra Sufi
Di tengah dinamika ini, lahirlah Hamzah al-Fansuri, penyair sufi dari Sumatra Utara. Ia disebut mengembara jauh hingga ke Ayutthaya (Siam) dan wafat di Mekah pada 1527. Karya-karyanya menampilkan metafora maritim khas bangsa Melayu: Tuhan adalah samudra, manusia adalah gelombang; kapal Syariah harus diarahkan menuju pulau surga.
Puisi Hamzah bukan hanya hiburan, tapi ajaran sufisme yang membumi. Ia memperkenalkan istilah murid sebagai calon pengikut tarekat, sebuah penanda penting masuknya konsep pendidikan sufi ke dalam bahasa Melayu. “Hamzah adalah titik balik,” tulis Laffan, “menghubungkan sufisme internasional dengan imajinasi maritim Melayu.”
Bayangan Turki Utsmani
Sementara itu, jauh di barat, kekaisaran Utsmani di bawah Sultan Sulayman Qanuni (1520–1566) menjadi kekuatan global. Para penguasa Aceh mengirim utusan ke Istanbul, memohon bantuan meriam untuk mengusir Portugis dari Malaka.
Namun dukungan yang dijanjikan tak pernah sepenuhnya datang. Memang ada tentara bayaran Turki, Mesir, hingga Abisinia yang ikut berperang di Maluku dan Sumatra. Tetapi meriam “Utsmani” yang melegenda di Aceh ternyata buatan Gujarat. Bahkan sumpah setia Aceh kepada Sultan Utsmani kemungkinan hanyalah siasat politik seorang makelar rempah yang ambisius.
Dari Jawa ke Maluku
Sementara Aceh menatap Istanbul, Jawa juga bertransformasi. Demak menjatuhkan Majapahit pada 1527, dan seabad kemudian Mataram mencapai puncaknya di bawah Sultan Agung. Islamisasi Jawa yang dimulai para Wali Sanga mencapai bentuk “sintesis mistis”, menurut sejarawan M.C. Ricklefs: perpaduan Islam non-Jawa dengan tradisi lokal yang sudah mapan.
Di timur Nusantara, pengaruh sunan pesisir Jawa merambah hingga Gowa di Sulawesi. Penguasa Gowa disebut meniru model “insan kamil” ala sufi, sembari membangun otoritas politik. Dari Surabaya ke Makassar, dari Banda ke Lombok, Islamisasi menjelma kekuatan sosial sekaligus militer.
Jejak Global, Warisan Lokal
Kisah Hamzah Fansuri dan bayangan Utsmani menunjukkan betapa Islamisasi di Nusantara sejak awal terkait erat dengan arus global. Dari sufisme Ibn Arabi, ajaran al-Ghazali, hingga diplomasi Istanbul, semuanya mengalir dan ditafsir ulang di tanah Melayu.
“Islam Nusantara,” tulis Laffan, “bukan hanya hasil perjumpaan dagang, tetapi juga tarik-menarik antara estetika sufistik, politik lokal, dan jaringan kekaisaran.”
Dan di antara semuanya, Hamzah al-Fansuri berdiri sebagai simbol: seorang penyair maritim yang puisinya menyamakan Tuhan dengan samudra, di masa ketika bangsa-bangsa juga sedang berlayar menguasai samudra itu. (*)


