Istri Salehah: Gambaran “Perhiasan Dunia” yang Membuat Rumah Terasa Bernyawa

Must Read
Miftah H. Yusufpati
Miftah H. Yusufpati
Sebelumnya sebagai Redaktur Pelaksana SINDOWeekly (2010-2019). Mulai meniti karir di dunia jurnalistik sejak 1987 di Harian Ekonomi Neraca (1987-1998). Pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah DewanRakyat (2004), Wakil Pemimpin Harian ProAksi (2005), Pemimpin Redaksi LiraNews (2018-2024). Kini selain di Jakartamu.com sebagai Pemimpin Umum Forum News Network, fnn.co.Id. dan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah FORUM KEADILAN.

JAKARTAMU.COM | Hadis riwayat Muslim dari Abdullah bin Umar sering dikutip dalam ceramah: “Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah.” Ucapan Nabi Muhammad ﷺ itu tidak hanya indah, tetapi juga terasa sangat hidup ketika kita melihat peran perempuan di keluarga masa kini.

Sumber Islam klasik menjelaskan, istri salehah bukan sekadar patuh pada ibadah ritual, tetapi juga menjaga akhlak, sikap, dan keikhlasan. Di dapur, ia memastikan anak-anak berangkat sekolah dengan sarapan sehat. Di ruang tamu, ia jadi tempat bercerita suami yang lelah pulang kerja. Dan di kamar belajar, ia mendampingi anak mengulang hafalan. Itulah gambaran “perhiasan dunia” yang membuat rumah terasa bernyawa.

Kajian Wanita Islam dan Dirinya menyebut kesalehan perempuan mencakup tubuh, pikiran, dan jiwa. Itulah sebabnya seorang ibu yang mampu menjaga kesehatannya, tetap semangat belajar, dan bersikap tulus pada keluarga bisa disebut menjalani jalan salehah.

Tulisan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an tentang Kedudukan dan Peran Perempuan menegaskan bahwa peran seorang istri tidak berhenti pada urusan domestik. Ia menjaga kehormatan diri, membina hubungan dengan suami, sekaligus memastikan anak-anak punya fondasi pendidikan yang kuat.

Milad 117 H Muhammadiyah

Abdul Karim Zaidan dalam Al-Mufassal fi Ahkam al-Mar’ah wa Bayt al-Muslim fi al-Shari’at al-Islamiyyah menekankan bahwa harmoni rumah tangga sangat bertumpu pada peran perempuan.

Istri Salehah di Tengah Tantangan Modern

Dalam banyak keluarga Indonesia hari ini, istri bukan hanya ibu rumah tangga. Ia juga bekerja, mengejar karier, bahkan menjadi tulang punggung ekonomi. Penelitian akademik menyoroti, kesalehan di era modern harus mencakup kemampuan menyeimbangkan peran domestik dan publik.

Bayangkan seorang ibu guru di Bekasi. Pagi hari ia menyiapkan bekal anak-anak, siang mengajar di sekolah, malam mengoreksi ujian. Atau seorang perempuan di Makassar yang mengelola toko daring sambil tetap mengatur waktu shalat dan mendampingi anak belajar. Kehidupan mereka mencerminkan tafsir baru “salehah”: aktif, tangguh, tapi tetap berpegang pada nilai iman.

LPMQ dalam risetnya menegaskan, istri salehah bukan sosok pasif. Ia aktif memberi nasihat, menjadi sahabat bagi suami, dan ikut membentuk arah keluarga.

Literatur fikih berulang kali mengingatkan: “perhiasan dunia” bukan berarti wanita hanya hiasan. Perempuan adalah sumber energi rohani keluarga. Dari tangannya lahir anak-anak berkarakter, dari doanya hadir ketenangan, dan dari kesabarannya tercipta rumah yang damai.

Menafsir Ulang “Salehah”

Makna “istri salehah” hari ini perlu dipahami ulang. Ia bukan hanya sosok penurut, melainkan motor penggerak keluarga. Ia bukan beban moral, melainkan sumber inspirasi. Dan ia bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian inti dari bangunan masyarakat.

Seperti sabda Nabi ﷺ, “sebaik-baik perhiasan dunia” adalah ia yang membuat hidup berkilau bukan karena emas atau perak, melainkan karena cinta, kesabaran, dan iman yang dijaga di tengah keluarga. (*)

9.500 Mahasiswa PTMA Jabar Diterjunkan Verifikasi Data Anak Putus Sekolah

BANDUNG, JAKARTAMU.COM | Sebanyak 9.500 mahasiswa dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) se-Jawa Barat akan diterjunkan ke sekitar...

More Articles Like This