Kartini Tak Pernah Mati: Terus Lahir, Tumbuh, dan Bergerak … 

Must Read

SAYA pernah menempuh pendidikan selama tiga tahun, yaitu 1975–1978, di Akademi Farming Semarang, sebuah lembaga yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, dan perikanan di bawah naungan Yayasan Kartini. Setiap tahun, mahasiswa diajak berziarah ke makamnya di Rembang.

Perjalanan itu biasanya dilanjutkan ke Pendopo Kabupaten Jepara, tempat Kartini dibesarkan sebagai putri Bupati R. Sosroningrat, lalu ke Pendopo Kabupaten Rembang, yang berkaitan dengan perannya setelah menikah dengan Bupati Rembang, R. Djajadiningrat.

Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879 dan wafat di Rembang pada September 1904, dalam usia yang masih muda. Ia muncul pada masa ketika ruang hidup perempuan sangat dibatasi. Akses pendidikan menjadi titik awal kesadarannya, terutama setelah bersentuhan dengan pendidikan dasar Belanda pada masa awal Politik Etis—kebijakan yang diklaim sebagai balas jasa pemerintah kolonial kepada penduduk pribumi.

Keinginan Kartini untuk melanjutkan pendidikan ke Batavia tidak terwujud. Kesempatan beasiswa yang ada justru dimintanya untuk diberikan kepada Agus Salim, seorang pemuda Minangkabau yang menonjol di HBS. Kartini mengusulkan agar Agus Salim dapat melanjutkan studi kedokteran di Leiden, bukan berhenti pada pendidikan Sekolah Dokter Jawa.

Milad 117 H Muhammadiyah

Gagasan itu mencerminkan pandangannya tentang pentingnya akses pendidikan tinggi bagi pribumi. Tetapi upayanya tidak berhenti pada gagasan. Kartini mendirikan sekolah perempuan di lingkungan Kabupaten Rembang. Dari sana, ia mendorong perempuan untuk memperoleh pengetahuan dan mengambil peran lebih luas dalam kehidupan sosial.

Pemikiran dan harapannya kemudian dihimpun oleh J.H. Abendanon dalam kumpulan surat yang dikenal sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang, yang kemudian diterjemahkan oleh Sanusi Pane. Sejumlah karya lain turut memperkaya pemahaman tentang Kartini, termasuk tulisan Pramoedya Ananta Toer berjudul Panggil Aku Kartini Saja.

Saat menjadi Ketua Senat Mahasiswa pada 1976–1977, saya mengoordinasikan kegiatan ziarah ke makam Kartini, termasuk penggalangan dana dan pembacaan puisi di Pantai Kartini.

Kartini adalah sebagai simbol kemajuan perempuan melalui pendidikan. Dalam lingkungan feodal Jawa, ia juga menjalin komunikasi dengan Kiai Saleh Darat di Semarang, seorang ulama yang juga dikenal sebagai guru Ahmad Dahlan. Interaksi ini memperlihatkan bahwa gagasan pembaruan yang ia bangun memiliki rujukan keagamaan sekaligus sosial.

Jejak pemikiran Kartini kemudian menemukan ruang dalam gerakan modern seperti Muhammadiyah melalui sayap perempuannya, Aisyiyah, yang menerjemahkan semangat pendidikan dan kemajuan dalam kerja nyata.

Sezaman dengannya, ada tokoh lain seperti Rohana Kudus dari Minangkabau yang mendirikan sekolah “Amai Setia” dan aktif sebagai jurnalis di surat kabar Poetri Hindia dan mendirikan Mendirikan Surat Kabar Soenting Melajoe. Dalam praktik gerakan, kiprahnya terukur dan langsung menyentuh masyarakat. 

Sejumlah tokoh perempuan lain juga hadir dalam lintasan sejarah, seperti Cut Nyak Dien, Rasuna Said, Rahma El Yunusiyah, dan Dewi Sartika, masing-masing dengan jalur perjuangannya. Tetapi mengapa seolah Kartini lebih tenar? Ini tak lain karena kekuatan gagasannya tersebar lewat tulisan. Surat-surat Kartini membuktikan telah menuntut pada kesadaran dan menggerakkan perubahan dapat berawal dari kata-kata yang kemudian menggerakkan tindakan. 

Posisi Kartini dalam sejarah turut dipengaruhi kedekatannya dengan kalangan pejabat pendidikan Belanda serta latar belakang keluarganya sebagai putri Bupati Jepara yang kemudian menikah dengan Bupati Rembang. Dalam kehidupan pribadinya, ia juga menghadapi kenyataan poligami.

Anak satu-satunya Kartini yang bernama R.M. Soesalit, pernah menjabat sebagai Komandan Resimen Diponegoro pada 1948, sebelum tersingkir akibat keterkaitannya dengan Peristiwa Madiun dan dipensiunkan lebih awal pada akhir tahun itu. 

Namun begitu, sepeninggal Kartini, terus lahir Kartini-Kartini baru yang dan tumbuh dalam berbagai bentuk—gagasan, tindakan, dan teladan yang bergerak dari generasi ke generasi. (*)

Muhammadiyah Operasikan Dapur Air untuk Korban Kebakaran Kemayoran

JAKARTAMU.COM | Muhammadiyah mulai mengoperasikan layanan dapur air bagi warga terdampak kebakaran besar di kawasan Pasar Jiung, Kebon Kosong,...

More Articles Like This