Netanyahu Anggap Trump Angin Lalu, Apa Gunanya Iran Berunding dengan AS?

Must Read

ISRAEL kembali menyerang Iran. Serangan terbaru yang terjadi hanya beberapa saat setelah Donald Trump meminta Benjamin Netanyahu menahan diri telah membuka kembali pertanyaan yang selama puluhan tahun menghantui politik Timur Tengah. Siapa sebenarnya yang memengaruhi siapa dalam hubungan Amerika Serikat dan Israel?

Secara resmi, Washington selalu digambarkan sebagai pemegang kendali. AS memberi bantuan militer, dukungan diplomatik, perlindungan di Dewan Keamanan PBB, dan menjadi sponsor utama berbagai perundingan damai di kawasan. Namun perang 40 hari dan peristiwa-peristiwa setelahnya menunjukkan gambaran yang berbeda.

Trump mengaku telah meminta Netanyahu tidak membalas serangan rudal Iran karena Washington sedang berupaya menyelesaikan perundingan dengan Teheran. Namun Israel tetap menyerang Iran. Bahkan sebelum itu, Trump juga berulang kali menyampaikan keinginannya menghentikan eskalasi di Lebanon agar proses diplomasi dengan Iran tidak terganggu. Toh, tetap saja Israel melanjutkan operasi militernya.

Sebagaimana dilansir Al Jazeera, Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa bahkan mengungkapkan bahwa Trump “hampir berkelahi” dengan Netanyahu terkait Lebanon. Pernyataan itu merupakan pengakuan yang jarang terdengar dari pejabat Amerika bahwa terdapat ketegangan nyata antara Gedung Putih dan pemerintah Israel mengenai arah perang.

Setelah gencatan senjata yang diumumkan Trump untuk Lebanon pada April lalu, Israel tetap melanjutkan operasi militernya. Pemerintah Lebanon bahkan mencatat hampir 3.500 serangan Israel sejak gencatan senjata tersebut berlaku. Artinya, yang terjadi bukan sekadar Netanyahu berbeda pendapat dengan Trump. Yang terlihat adalah Netanyahu tetap menjalankan kebijakannya meskipun bertentangan dengan prioritas diplomatik Washington.

Hubungan AS-Israel tentu lebih kompleks daripada teori tentang siapa mengendalikan siapa. AS masih memiliki instrumen tekanan yang luar biasa besar terhadap Israel, mulai dari bantuan militer hingga dukungan diplomatik. Namun fakta politiknya menunjukkan bahwa Washington hampir tidak pernah menggunakan instrumen itu ketika Netanyahu mengambil langkah yang tidak disetujui Gedung Putih.

Dari perspektif Iran, persoalan ini jauh lebih mendasar. Teheran selama berbulan-bulan berunding dengan Washington untuk mencari jalan keluar dari konflik regional. Salah satu tuntutan yang terus muncul adalah penghentian serangan Israel ke Lebanon. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Serangan terus berlangsung ketika AS melanjutkan upaya diplomasi. Jika AS tidak mampu atau tidak mau memaksa Israel menghormati agenda yang sedang dinegosiasikannya sendiri, apa sebenarnya yang sedang dinegosiasikan?

Jika Netanyahu dengan leluasa mengabaikan permintaan Trump terkait Lebanon dan Iran tanpa konsekuensi berarti, apakah Washington benar-benar mampu menjamin hasil perundingan dengan Iran kelak?

Kredibilitas AS yang mengklaim diri sebagai menjadi arsitek perdamaian kawasan benar-benar di ujung tanduk. Jika sekutu terdekat saja tidak dapat dikendalikan, apa gunanya Iran berunding dengan AS? (*)

Agrinas Minta Transmigran Garap 2,3 Juta Hektare Sawit

JAKARTAMU.COM | PT Agrinas Palma Nusantara membuka peluang kerja sama dengan Kementerian Transmigrasi untuk mengelola perkebunan sawit seluas 2,3...

More Articles Like This