Oleh Wahyudi Nasution | Anggota MPM PP Muhammadiyah, Ketua Panitia Jamnas I Jatam Kebumen
KANG NARJO: Assalaamu’alaikum, Selamat pagi, Pak Bei.
PAK BEI: Wa’alaikumsalam. Weeh Kang Narjo. Silakan duduk. Dari mana ini pagi-pagi?
KANG NARJO: Dari rumah sengaja sowan ke Pak Bei, pengin ngopi sekalian update informasi.

PAK BEI: Siap, Kang. Tunggu sebentar biar dibuatkan kopi anakku, ya.
KANG NARJO: Pak Bei, saya butuh info seputar beras Mentari. Banyak teman petani yang nanya ke saya.
PAK BEI: Soal apa, Kang?
KANG NARJO: Bagaimana pun saya ini sangat bangga kemarin bisa ikut Jamnas Jatam di Kebumen. Itu Jambore rasa Muktamar. Sangat megah dan bagus penyelenggaraannya.
PAK BEI: Alhamdulillaah.
KANG NARJO: Pulang dari Jambore, saya pun cerita ke teman-teman di Ranting dan Cabang, termasuk tentang wakaf varietas padi dari Prof. Totok dkk ke Muhammadiyah yang kemudian diberi nama Mentari oleh Pak Haedar Nashir.
PAK BEI: Respon teman-teman di Cabang dan Ranting bagaimana, Kang?
KANG NARJO: Ya jelas ikut bangga, Pak Bei. Antusias. Mereka terus mendesak saya segera mendapatkan benihnya untuk kami tanam. Makanya saya ke sini.
PAK BEI: Silakan diminum dulu kopinya, Kang. Ini Kopi Robusta Silangit yang kubeli di stand Jatam Banjarnegara pas Jamnas kemarin.
KANG NARJO: Saya juga sempat minum di sana, Pak Bei. Joss. Nikmat sekali. Tapi pas mau pulang malah lupa gak beli buat oleh-oleh.
PAK BEI: Kembali ke benih Mentari, Kang.
KANG NARJO: Siap, Pak Bei. Di mana kami bisa mendapatkan benihnya?
PAK BEI: Kang Narjo lihat sendiri kan, kemarin pas acara Pembukaan di Unimugo ada demplot padi Mentari di depan panggung? Ada yang umur 3 bulan, dua bulan, dan satu bulan.
KANG NARJO: Iya benar, Pak Bei.
PAK BEI: Demplot yang sangat sedikit itu sekedar untuk percontohan.
KANG NARJO: Iya benar, hanya beberapa meter di depan panggung.
PAK BEI: Pagi itu acara diawali Tanam Perdana varietas Mentari oleh Prof. Haedar, Pak Wamentan Sudaryono, Kyai Tafsir, Bupati Lilis Nuryani, Prof. Totok, dll. di lahan milik Unimugo di belakang kampus.
KANG NARJO: Iya benar, seluruh peserta Jamnas menyaksikan prosesi itu melalui Videotron di panggung.
PAK BEI: Nah, penanaman yang baru dilakukan tanggal 20 September itu kira-kira bisa dipanen kapan, Kang?
KANG NARJO: Ya paling cepat 3 bulan lagi, Pak Bei.
PAK BEI: Benar, Kang. Panenan itu yang akan jadikan benih. Tapi jelas masih sedikit dan masih sangat terbatas sehingga tidak mungkin bisa memenuhi permintaan dari para peserta dan jamaah yang sangat antusias itu.
KANG NARJO: Terus bagaimana, Pak Bei?
PAK BEI: Harap teman-teman sabar dulu. Saat ini kami sedang berproses menyiapkan segala sesuatunya. Setidaknya ada 3 hal utama kami siapkan, Kang.
KANG NARJO: Apa saja, Pak Bei?
PAK BEI: Pertama, pengurusan legalitas. Bagaimanapun soal perbanyakan benih dan distribusi benih itu ada regulasi yang harus kita ikuti. Mengingat pengurusannya cukup rumit dan butuh waktu, maka akan ditangani langsung oleh tim dari sekretariat MPM PP.
KANG NARJO: Bener, Pak Bei. Varietas Mentari harus punya legalitas. Terus yang kedua apa, Pak Bei?
PAK BEI: Yang kedua, perbanyakan benih. Kami yakin hasil panen dari lahan UNIMUGO itu nanti masih sangat jauh dari kebutuhan. Maka kami akan segera menanam lagi untuk memperbanyak ketersediaan benih. Proses ini kami percayakan pada teman-teman JATAM-MPM PWM Jawa Tengah.
KANG NARJO: Jadi untuk mendapatkan benih Mentari kami masih harus menunggu sekitar 4-5 bulan lagi ya, Pak Bei?
PAK BEI: Benar, Kang. Setelah dipanen kan masih ada proses penanganan pasca-panen hingga benih siap didistribusikan.
KANG NARJO: Yang ketiga apa, Pak Bei?
PAK BEI: Yang ketiga soal manajemen dan tata niaga, Kang. Bagaimanapun soal benih Mentari ini terkait erat dengan ekosistem pangan yang sedang kita bangun bersama. Jangka panjang dan jelas bernilai ekonomi. Maka, ini harus ditangani secara profesional oleh PT LUKU, Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM) yang didirikan oleh MPM PP guna mensupport binaan MPM.
KANG NARJO: Jadi benih Mentari nanti bukan dibagikan secara gratis ke petani ya, Pak Bei?
PAK BEI: Ya bukan, Kang. Semua harus beli dengan harga wajar. Kalau gratisan, terus siapa petani yang mau menanam untuk pembenihan? Mana ada petani yang mau kerja rodi, kerja keras tapi tidak dibayar?
KANG NARJO: Ya benar, Pak Bei. Gak mungkin gratisan.
PAK BEI: Petani Jatam itu harus bermental kaya, Kang. Jangan suka tangan di bawah, menerima dengan gratisan. Tangan di atas jelas lebih utama.
KANG NARJO: Sepakat, Pak BEI.
PAK BEI: Oya, Kang. Tolong diingatkan ke teman-teman peserta Jamnas di semua Daerah supaya segera membentuk Koperasi Jatam di Daerahnya masing-masing. Itu salah satu point penting Rekomendasi/Resolusi Kebumen yang sudah kita sepakati bersama, kan?
KANG NARJO: Iya benar, Pak Bei.
PAK BEI: Harap semua memahami bahwa distribusi benih dari PT LUKU nanti bukan langsung ke orang per orang, tetapi melalui Koperasi JATAM sebagai agen atau distributor di Daerah. Demikian juga nanti penanganan hasil panen dari para petani anggota Jatam, semua melalui Koperasi JATAM. Selanjutnya branding, kemasan, dan penjualan ke pasar yang lebih luas ditangani oleh PT LUKU.
KANG NARJO: Baik, Pak Bei. Akan saya ingatkan teman-teman supaya segera bergerak di daerahnya masing-masing: mengajak para petani untuk bergabung di Jatam, lalu bersama-sama mendirikan Koperasi JATAM sebagai lembaga bisnis milik anggota.
PAK BEI: Oke, Kang. Mari kita berjuang bersama dengan sabar dan sungguh-sungguh. Semoga Allah SWT meridhoi….aamiin.
KANG NARJO: Aamiin. Terima kasih, Pak Baik. Saya pamit dulu, ya. Wassalam.


