Puasa, Nasfu, dan Kuasa

Must Read

Oleh Hasan. M. Noer | Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta  (1990-1991); Wakil Sekjen PB HMI  (1992-1994)

AZAN subuh baru saja berlalu ketika seorang lelaki paruh baya dengan sejumlah jabatan penting duduk di beranda rumahnya. Dia membolak-balik kitab klasik karya Imam Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin. Sesekali dia mencatat, sesekali menerawang jauh ke depan, merenung, lalu tertunduk diam. 

Jalanan kota masih cukup lengang. Subuh itu dia menunaikan salat dengan khidmat. Perutnya masih menyimpan sisa kenyang menu sahur yang komplet, empat sehat lima sempurna. 

Begitulah nuansa Ramadan. Dia datang berbisik, menahan pintu nafsu, menundukkan kuasa yang bersemayam di dalam jiwa. Dan, di situlah rahasia puasa bermula.

Puasa seperti kita tahu bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Jika hanya itu, maka orang miskin yang setiap hari menahan lapar lebih layak disebut ahli puasa dari kita. Tetapi puasa sejatinya adalah berlatih diam untuk menaklukkan sesuatu yang lebih halus dan memesona, yakni nafsu ingin berkuasa.

Nafsu selalu ingin menjadi raja yang ingin didengar, dituruti, dan dipuaskan. Dia membisikkan: makanlah ketika lapar, marahlah ketika tersinggung, balaslah ketika disakiti, dan kuasailah ketika punya kesempatan. Nafsu tidak pernah puas menjadi hamba, dia selalu ingin menjadi tuan.

Maka, ketika Ramadan tiba, Allah seakan berkata kepada manusia: “Wahai jiwa, cobalah sekali saja engkau tidak menuruti dirimu sendiri.”

Lapar yang kita rasakan di siang hari, sejatinya bukan sekadar ujian tubuh, tetapi ujian kuasa. Siapa yang berkuasa atas dirimu? Perutmu atau ruhmu? Keinginanmu atau kesadaranmu? Nafsumu atau Tuhanmu?

Betapa banyak manusia yang tampak kuat di hadapan dunia, tetapi lemah di hadapan nafsunya. Ia mampu memimpin orang banyak, tetapi tidak mampu memimpin dirinya sendiri. Ia mampu mengatur negara, tetapi tidak mampu mengatur amarahnya. 

Di sinilah puasa menjadi madrasah pengendalian kuasa diri. Dalam metafora tasawuf, nafsu sering diibaratkan seperti kuda liar. Jika dilepas, ia akan berlari tanpa arah, menyeret penunggangnya ke lembah kedurjanaan. Tetapi jika dilatih dengan sabar, ia akan menjadi kendaraan menuju kedekatan dengan Tuhan. Dan puasa adalah tali kekang yang lembut namun tegas bagi kuda itu.

Seorang yang berpuasa berkata kepada dirinya: “Aku mampu makan, tetapi aku memilih tidak makan. Aku mampu minum, tetapi aku memilih menahan. Aku mampu marah, tetapi aku memilih diam.” Bukankah ini bentuk kuasa yang paling tinggi? Kuasa atas diri sendiri.

Di dunia yang gemar memuja kekuasaan, puasa justru mengajarkan pelepasan kuasa. Ketika orang berlomba ‘mengumpulkan pengaruh,’ puasa mengajarkan “kerendahan hati.” Ketika manusia ‘mengejar dominasi,’ puasa mengajarkan “penaklukan diri.” Ketika dunia berkata ‘miliki aku,’ puasa berbisik “kendalikan diri.”

Banyak di antara kita lebih takut kehilangan kuasa atas orang lain, tetapi tidak takut kehilangan kuasa atas nafsunya sendiri. Padahal keruntuhan terbesar bukan ketika seseorang kalah oleh musuh, tetapi ia kalah oleh dirinya sendiri.

Sejarah manusia penuh dengan kisah runtuhnya kekuasaan yang besar karena nafsu yang kecil. Kekuasaan yang dibangun bertahun-tahun bisa hancur oleh satu keserakahan. Kehormatan yang dijaga seumur hidup bisa jatuh oleh satu keinginan yang tak terkendali.

Dan Ramadan datang sebagai penjaga, agar manusia tidak hancur oleh dirinya sendiri. Di siang hari yang panjang, ketika tenggorokan kering dan perut mulai merintih, sebenarnya yang sedang diuji bukan tubuh, melainkan kesadaran. Setiap detik puasa adalah percakapan batin: “Tidak ada yang melihatmu. Mengapa engkau tetap bertahan?”

Jawabannya mudah: “Karena Allah melihatku.” Inilah puncak pengendalian nafsu. Merasa diawasi bukan oleh manusia, tetapi oleh Tuhan.

Puasa melatih kita untuk jujur dalam kesunyian. Tidak ada kamera, tidak ada saksi, tidak ada hukuman dunia jika kita diam-diam membatalkan puasa. Namun, orang beriman tetap bertahan. Mengapa? Karena ia telah menempatkan Allah sebagai penguasa tertinggi atas dirinya.

Tampak sekali bahwa puasa membongkar ilusi kuasa manusia. Kita mungkin berkuasa di kantor, di rumah, di atas mimbar, atau di panggung kehidupan. Tetapi di hadapan rasa lapar, kita semua sama: makhluk lemah yang bergantung pada seteguk air dan sebutir nasi. 

Lapar adalah guru kerendahan hati yang paling jujur. Ia meruntuhkan kesombongan yang dibangun oleh jabatan, harta, dan pujian.

Ketika perut kosong, kita mulai memahami penderitaan orang lain. Ketika tenggorokan kering, kita mulai mengerti makna rahmat air. Ketika tubuh lemah, kita mulai sadar bahwa kekuatan sejati bukan milik kita, melainkan titipan.

Puasa adalah revolusi batin yang dingin. Ia tidak menggulingkan pemerintahan, tetapi menggulingkan kesombongan. Ia tidak menaklukkan negeri, tetapi menaklukkan nafsu. Ia tidak membangun istana, tetapi membangun kesadaran ruhani.

Namun, nafsu tidak pernah diam. Ia hanya berganti bentuk. Jika di siang hari ia ditahan dari makan dan minum, di malam hari ia bisa muncul dalam bentuk lain: kesombongan ibadah, riya amal, dan rasa lebih suci dari orang lain.

Inilah jebakan halus: nafsu yang bersembunyi di balik kesalehan. Seorang sufi pernah berkata, “Nafsu bisa berpuasa dari makanan, tetapi tidak selalu berpuasa dari pujian.”

Betapa dalam kalimat itu. Betapa banyak orang yang lapar perutnya, tetapi kenyang egonya. Betapa banyak orang yang menahan minum, tetapi tidak menahan hasrat ingin dipuji.

Kuasa yang tidak dikendalikan oleh iman akan berubah menjadi penindasan. Kuasa yang tidak dibersihkan oleh puasa akan berubah menjadi keserakahan. Dan nafsu yang tidak dididik oleh Ramadlan akan menjadikan manusia sebagai budak keinginannya sendiri.

Dan sore hari menjelang berbuka, langit berwarna jingga. Lelaki di beranda itu masih duduk diam. Secangkir teh hangat kini kembali tersaji di depannya. Ia tersenyum, bukan karena akan segera minum, tetapi karena ia sadar: seharian ini ia telah berlatih menjadi penguasa atas dirinya sendiri.

Ketika adzan Maghrib berkumandang, ia mengangkat gelas dengan pelan. Seteguk air yang masuk ke tenggorokan terasa seperti rahmat yang turun dari langit. Air yang sama yang setiap hari ia minum, kini terasa berbeda—lebih sakral, lebih bermakna, dan lebih hidup. Wallahu a’lam. (*)

109 Tahun Aisyiyah Membuktikan Perempuan Mampu Menjadi Pelopor Perubahan

BANDUNG, JAKARTAMU.COM | Jauh sebelum Indonesia merdeka, Aisyiyah telah membuka ruang pendidikan bagi perempuan, mendirikan taman kanak-kanak, hingga menghadirkan...

More Articles Like This